Hi Mr !

Hi Mr !
Lelah



Hari ini adalah hari paling melelahkan bagi Jacob. Dari pagi jadwalnya sangat padat. Bahkan Jac tidak sempat untuk sarapan di rumah bersama twins. Biasanya sesibuk apapun Jac masih bisa meluangkan waktunya untuk sarapan bersama putra kembarnya. Jac sadar bahwa waktu kebersamaan mereka sangat kurang. Jacob pulang saat mereka sudah terlelap. Jadi bagi Jac waktu sarapan pagi adalah quality timenya bersama twins. Ditambah lagi seminggu ini twins selalu sarapan tepat waktu sehingga Jac bahkan sempat mengantar mereka ke sekolah.


Waktu menunjukan pukul 2 siang, dimana Jacob baru kembali dari rapatnya di sebuah hotel XY. Ken mengekor dari belakang karena pukul 2.45 p.m. akan ada rapat lagi. Sebelum masuk Ken sempat bertanya perihal makan siang terhadap bosnya, dan dijawab gelengan oleh Jac.


Jacob langsung ngeloyor masuk ke ruang kerjanya sekedar untuk menyegarkan badannya, menghilangkan lelah. Baru saja Jac masuk ke kamar pribadinya, Jac terperanjat saat ada lengan putih melingkari perutnya. Dan itu adalah Laura.


"Lepaskan laura !", perintah Jac.


Dengan manja Laura meepaskan pelukannya. Menempatkan diri di depan Jac agar Jac melihat penampilannya siang ini. Laura sengaja sudah berpenampilan amat seksi untuk mengejutkan Jac diantara kesibukan jadwal Jac yang padat. Laura membuat gestur menggoda pada Jac.


Tapi dasarnya Jac sedang tidak ingin, Jac mengabaikan Laura dan menghilang dibalik pintu kamar mandi.


Laura yang sempat manyun karena diabaikan langsung berubah menjadi sebuah senyuman nakal. Laura mendekat ke pintu kamar mandi yang terbuka sedikit. Laura menganggap hal itu sebagai kode dari Jac. Padahal jika tahu sebenarnya, Jac lah yang lupa mengunci pintu karena sudah sangat penat dan butuh penyegaran.


Saat Laura masuk, badan liat Jac sudah terbasahi sempurna oleh guyuran air shower. Dan Laura menelan saliva melihat pemandangan itu. Jac sangat seksi dengan kulit coklatnya.


Dan bagaimana menjelaskannya, penulis juga bingung. Terjadilah pergulatan panas yang tidak seimbang. Laura yang penuh birahi sementara Jac yang penuh emosi. Nafsu Jac sama sekali tidak bangkit. Sehingga tidak ada penyatuan dan Jac langsung pergi saat Laura telah mendesah panjang. Segera Jac memakai pakaian barunya dan pergi keluar ruang kerjanya.


"Berangkat Ken", perintah Jac terburu padahal waktu masih menunjukan pukul 2.39 p.m.


Ken yang sedang mengunyah roti makan siangnya langsung menyaut jus, mereguknya kasar dan lari terbirit mengikuti Mr. Jac.


"Sepertinya pintu ruang kerja perlu memakai kunci otomatis jarak jauh Ken", tegur Jac dengan nada dingin pada Ken begitu pintu lift tertutup.


"J***** itu masuk tanpa permisi" lanjut Jac.


Dan setelah itu tidak ada obrolan sama sekali. Seluruh agenda yang dijadwalkan hampir selesai ketika jam menunjukan waktu tengah malam. Saat mobil yang sedang melaju itu dalam perjalanan pulang, Ken mendapat panggilan dan melaporkannya pada Jac. Sehingga mobil itu putar haluan dan menuju lokasi berikutnya.


Mobil berhenti tepat di gudang tua yang sama seperti saat pengamanan Winscout. Malam ini, anak buah Jac berhasil menangkap seseorang yang pernah terlibat dalam tragedi keluarga Anne. Mendiang istri Jac.


Pria berumur awal kepala empat itu duduk di sebuah bangku dengan tangan dan kaki terikat. Jac masuk ke ruang penahanan tersebut. Pria itu mengangkat wajahnya saat terdengar suara langkah Jac berhenti, menampakan bekas luka di wajahnya. Pria itu malah tersenyum sinis.


Sementara air muka Jac sangat dingin.


"Apa gunanya kau menangkapku, hah ? Meskipun aku mati, Anne-mu juga tak akan kembali", sarkas pria itu. Namanya Billy. Ia adalah anak seorang pelayan yang bekerja di keluarga Anne.


Tangan Jac mengepal menahan amarah.


"Kau ingin tahu kapan Anne sudah tidak perawan ?" dan kalimat barusan sempurna membuat emosi Jac memuncak dan memukul Billy sampai terjungkal dan langsung tak sadarkan diri. Beruntung Jac bisa langsung menguasai amarahnya.


"Jangan biarkan dia mati dengan mudah", titah Jac sebelum pergi meninggalkan gudang itu.


Jac belum juga pulang. Jac bahkan mampir ke sebuah bar untuk melarikan emosinya sesaat. Jac tidak akan pulang membawa masalahnya. Setidaknya alkohol dapat sedikit merilekskan pikirannya.