
Jac dan Via sedang berada di sebuah kamar hotel. Via masih dengan wajah shocknya bersandar di bahu Jac dengan posisi dipangku menyamping. Jantungnya masih berpacu dengan cepat. Otaknya bekerja keras untuk mencerna keseluruhan kejadian tadi. Yang Via tahu, Mr. Jac adalah seorang pengusaha, pebisnis sukses, Tapi setelah ucapan selamat datang itu, Via baru tahu bahwa Jac tidaklah sekedar pengusaha. Mr. Jac adalah seorang ketua mafia.
#Kilas balik kejadian yang ditunjukan Mr. Jac
Mr. Jac membawa Via naik ke sebuah helikopter. Via hanya diam menurut. Dan tibalah di sebuah gedung tua. Karena malam, meskipun tidak terlalu jelas, mata Via samar melihat tembok tinggi di kejauhan. Begitu masuk, ternyata gedung itu sangat besar. Ruangan di dalamnya otomatis terbuka oleh sensor. Via dibawa berkeliling menjelajahi gedung itu. Awalnya di ruang mirip aula, banyak sekali layar terpasang, sepertinya ini ruang kontrol. Mr. Jac memberikan instruksi pada pria bersetelan hitam dengan tato di sekujur badannya, dalam bahasa asing yang tidak Via mengerti. Via menangkap bahwa orang2 disini sepertinya terdiri dari ras yang berbeda-beda. Ada yang tinggi jangkung, tinggi berotot besar, pendek tapi tidak sependek Via. Tapi rata-rata wajah mereka menyeramkan menurut Via. Apalagi dengan tato-tato yang terlihat jelas. Kemudian berganti ke ruang lain, seperti laboratorium, kemudian ada juga ruang pasien dengan sekat pintu kaca yang dapat dilihat dari luar.
Sebenarnya banyak sekali pikiran berkecamuk di kepala Via, tapi ia memendamnya karena takut. Entah mengapa sedari tadi ia merasa terintimidasi oleh pandangan semu orang yang ia lewati. Berulang kali Via meremas tangannya Jac yang menggenggamnya sepanjang jalan.
Jac sadar dengan tingkah Via, tapi Jac memilih membiarkannya sampai Via sendiri yang membuka mulut.
Dan hal yang paling membuat Via shock setengah mati adalah ketika melewati penjara bawah tanah. Saat melewati ruang tahanan Via masih biasa, tapi ketika melihat ruang eksekusi yang kebetulan saat itu sedang berlangsung kegiatan, Via pingsan karena tidak tahan.
Dengan sigap Jac menangkap tubuh Via dan membawanya keluar. Prediksi Jac tepat sekali. Via tidak tahan dengan semua ini. Tapi ini adalah sisi Jac yang lain. Mencintai Jac berarti mencintai seluruh kehidupan Jac.
#kilas balik selesai
"Jac..", panggil Via lirih meskipun masih menunduk.
"Ya sayang.."
"Emh, apakah semua orang tadi pegawaimu ?" tanya Via dengan nada ragu.
Jac terkekeh dengan pilihan kata "pegawai" yang digunakan Via. "Mereka anak buahku sayang"
"Apakah anda seorang mafia tuan ?" takut-takut salah Via menggunakan bahasa formal kembali yang tanpa sadar membuat Jac langsung kesal.
Tangan Jac dengan cepat menarik dagu Via dan menciumnya dengan ganas. Jac berhenti saat Via kehabisan nafas.
Nafasnya terengah dengan wajah memerah dan mata melebar menatap Jac. Ibu jari Jac mengusap bibir Via yang basah. "Jangan pernah ulangi kesalahanmu sayang. Atau hukumanmu akan lebih dari ini", tandas Jac.
Otak Via berputar. Kalimat "Just Jac" terlintas di pikirannya. Segera Via mengangguk agar tidak menyulut amarah lain dari seorang Mr. Jac.
"Jac.."
Jac tidak menjawab tapi matanya memandang wajah Via tak berkedip. Ekspresi wajahnya sangat sulit diartikan oleh Via.
"Setelah semua yang kau lihat, bagaimana perasaanmu ?" tanya Jac akhirnya
"Mencintaiku adalah mencintai seluruh hidupku. Tidak hanya twins. Jika ragu, masih belum terlambat untuk mundur. Namun aku tidak bisa mengembalikan mahkotamu", ujar Jac panjang dengan helaan nafas di akhir kalimatnya. Jac sadar bahwa tidak mudah untuk Via menerima semua hal tentang dirinya. Wanita ini terlalu lembut. Jac telah melakukan kesalahan karena mengambil mahkota gadisnya sebelum memperlihatkan semua sisinya pada gadisnya. Dan Jac berkesimpulan untuk memberikan Via pilihan. Tetap maju atau mundur, Jac harus berlapang dada.
Keheningan menyelimuti ruangan. "te amo", tiba-tiba Via berbisik tepat di telinga Jac. Seketika Jac berpaling sehingga bibirnya langsung bertabrakan dengan bibir Via.
Dahi Jac menggeryit. "Kau serius ?"
"Te amo" ulangnya lagi.
"Kuharap kau tidak menyesalinya"
"Tidak akan", jawab Via mantap.
Jac memandang serius, menyelami manik mata coklat Via mencari keraguan atau ketakutan. Tapi nihil. Via serius. Sangat serius.
"Tetaplah disampingku apapun yang terjadi" ujar Jac menggenggam jemari Via.
"ya my rey", ucap Via mantap.
Jac terkekeh dengan bahasa spanyol yang dilontarkan Via dengan aksen yang kaku. "Buktikanlah sayangku"
Jac langsung menggendong Via ketempat tidur. Via mengira bahwa Jac akan menyerangnya tapi begitu sampai ditempat tidur, Jac meloloskan kemejanya hingga Via polos setengah badan dan menengkurapkan Via.
"Terimalah tanda ini my reina" dan seketika ada seseorang masuk. Dengan sedikit menolehkan kepala, sesosok wanita dewasa dengan wajah penuh tindikan masuk.
Seram. Begitu kesan yang tertangkap oleh netra Via. Via terkesiap ketika wanita tadi mengoleskan sesuatu yang dingin pada kulit bahunya. Punggungnya langsung menegang.
Dan ketika jarum pertama menusuk, "AKh!" Via terisak tapi segera mungkin ia meredam wajahnya mengigit bantal agar jeritannya tidak lolos. Proses selanjutnya Via tidak tahan. Sakit sekali. Seluruh badannya bergetar. Jeritan menyayat hati tetap terdengar meskipun tertutup bantal.
Jac yang dari tadi mengamati dari samping, memberikan kode pada Gwen, si tukang tato agar berhenti dulu. Jac meraih tubuh Via, membuat tubuhnya disekap oleh kedua paha Via. Tangan Via berusaha menolak lengan Jac, tapi Jac malah menyurukan kepala Via di bahunya, mendekapnya erat agar bagian depan tubuh Via tertutupi. "Percepat prosesnya", titah Jac.
Saat jarum itu menyentuh kulitnya lagi, Via menahan jeritannya sekuat tenaga. Telapak tangan Jac mengusap rambut Via, "Gigit bahuku sayang. Tahan sebentar lagi". Tanpa pikir panjang Via menancapkan giginya ke bahu kokoh Jac.
Jac hanya bisa menghela nafas saat bahunya digigit oleh Via. Meskipun rasanya tidak sakit tetap saja seringaian muncul di wajah Jac. Baru kali ini Jac melihat manusia menangis histeris saat ditato. Biasanya Jac selalu melihat sendiri pentatoan pada kelompoknya, termasuk pada Anne, mantan pemdamping hidupnya, dan tidak ada yang pernah menangis. Meringis pun tidak ada. Bahkan tidak diberi bius lokal seperti Via saat ini.
Mungkin Jac harus memberi pengecualian pada wanita ini.