Hi Mr !

Hi Mr !
Pria Kejam



Badanku melenting tiba-tiba dan menabrak tembok yang membuat mataku terbuka sempurna. Agaknya tadi aku sempat tertidur saat menjaga Jill. Di hadapanku seorang pria dewasa berambut hitam pekat, berkulit coklat, dan garis wajah tegas mencengkram leherku kuat,mengunci pergerakanku. Aku mulai kesulitan bernafas.


"Agh !" aku meronta menggapai tangan pria itu tapi sia-sia.


"Katakan kau suruhan siapa ? Apa yang sudah kau lakukan pada anak-anaku ?" tanyanya kasar.


Aku bingung tapi otaku tidak bisa berfikir karena sulit bernafas. "Sa, saya hanya pelayan hotel tuan" kalimat itu lolos dari bibirku.


"Agh ! Mereka tidurh. Obat demamh" jawabku semakin terbata. Oh ya tuhan, apa ini akhir hidupku.


Tiba-tiba cengkraman tangan laki-laki itu terlepas. Dan badanku ambruk seketika di lantai. Nafasku tersengal.


Pria itu menghambur ke ranjang, sepertinya memeriksa nafas dan denyut nadi si kembar. Ah otaku baru mencerna, pria itu ayah si kembar.


Setelah nafasku agak normal. Aku berusaha berdiri dengan berpegangan pada tembok. Ternyata pria itu kembali menghampiriku. Lututku bergetar hebat. Trauma.


Tapi ternyata pria itu mematung di tempatnya. Tidak melangkah lagi mendekatiku. Melihat kesempatan itu aku langsung memaksa kakiku keluar dari kamar itu. Terseok-seok langkahku menuju lift. Tubuhku langsung merosot saat pintu lift tertutup. Bagaimana bisa aku lupa bahwa si kembar tadi sempat mengucapkan daddy mereka sedang pergi. Mungkin pria itu langsung khawatir karena ada aku di kamar mereka. Tapi tentu saja tidak benar, tiba-tiba langsung mencekikku, tanganku meraba leher yang masih terasa bekas cengkraman pria tadi.


***


Sinar mentari perlahan masuk melewati tirai. Mengusik kelopak mata indah si gadis kecil yang cantik, Jill. Saat membuka mata, ia melihat tempat duduk ibunya, lebih tepatnya bibi yang dipanggil ibu sejak semalam kosong. Jill langsung turun dari ranjang. Handuk di dahinya jatuh begitu saja. Kaki mungilnya berlari mengitari kamar mencari keberadaan ibunya.


Dan ketika tidak ketemu, Jill menangis sekencang-kencangnya. Membuat semua yang ada diruangan itu tergopoh-gopoh mendekat. Jo dengan piyama, ayahnya dengan handuk mandi, dan beberapa bodyguard dan satu pelayan wanita berpakaian pengasuh. "Ada apa sayang ?" pria itu, Jacob W. Smith, menggendong putri kecilnya. Bukannya berhenti tangisnya semakin kencang bukan main.


Jacob sendiri bingung dengan putrinya. Ia memberi kode pada si pengasuh untuk ikut andil menenangkan. Tapi belum sampai tangan si pengasuh menyentuh lengan kecil Jill, Jill menepis kasar tangan pengasuhnya. Langsung memeluk erat leher Jacob dan menangis keras.


"Baiklah", Jacob menyuruh semuanya keluar dengan kode tangan. Kalau sudah begini, harus Jacob sendiri yang turun tangan. Jacob duduk di tepi ranjang mengelus punggung Jill agar tenang. Jo mengekor duduk di sebelah ayahnya.


Jill masih sesenggukan tapi sudah mau mengangkat kepalanya. Jill melepaskan pelukannya sendiri turun dari gendongan Jacob dan duduk di samping Jo. Dan langsung memeluk kembarannya. Jo langsung memeluk tubuh Jill. "Tenang Jill", ucap Jo sabar.


"I.ibu pergi", ucap Jill di sela-sela tangisnya. Sebenarnya Jo sendiri sudah dapat menebak apa yang membuat Jill histeris tadi.


Jo langsung menatap tajam ayahnya. "Dad, selama ini aku tidak pernah meminta sesuatu, untuk kali ini, kumohon. Aku ingin bibi, pegawai hotel yang semalam, bersamaku dan Jill", ucap Jo tegas. Sifat tegas Jacob memang menurun banyak pada Jo kecil. Jika Jill adalah putri manja, maka Jo sangat mandiri dan dewasa di usia yang hampir saja dengan Jill. Terkadang Jo sendiri bingung menghadapi anak kembarnya yang sifatnya bertolak belakang, tapi semua masih tertoleransi karena menurutnya sikap Jo bagus untuk perkembangannya sebagai seorang pria di masa depan.


Jacob menggeryit berusaha mencerna kalimat anaknya. Tapi ia mengangguk. Memang benar selama ini Jo tidak pernah meminta sesuatu padanya, berbeda dengan Jill. Dan kali ini mau tak mau, Jacob harus memenuhi permintaan anaknya.