Hi Mr !

Hi Mr !
Merawat mereka



"Apakah kalian sudah makan dan minum obat ?" tanya ku sembari menatap mangkuk bubur yang sepertinya sudah dimakan sedikit di atas nakas dan beberapa botol obat.


"Belum bi..", Jo menjawab tapi menggantung karena si kecil Jill tiba-tiba muntah di atas selimut.


Aku terkesiap tapi segera tanggap mendekat. Mengusap perlahan tengkuk Jill agar hangat. Setelah kurasa tubuh itu melemas, segera kusandarkan tubuh Jill dibantal yang kutegakkan. Merangkus selimut kotor itu agar tidak meluber kemana-mana.


Aku segera kembali membawa handuk kecil yang sudah kubasahi air hangat.


"Ganti baju ya ?" tanyaku sambil mengangkat piyama tidur Jill. Dan si empunya hanya mengangguk lemah.


Secepat mungkin kuganti bajunya dengan piyama lain yang tadi sempat kutarik dari lemari yang sudah terbuka di samping wastafel. Handuk hangat itu terusap di tubuh kecil Jill yang panas. Kuoleskan minyak kayu putih ke leher, dada, punggung dan perut Jill.


"Jill tidak bisa makan bi", jelas Jo dengan mata sendunya. Agaknya sedih melihat kembarannya melemah.


Aku yang tak tega segera bergerak ke pantry, "sebentar ya.."


Kulihat isi kulkas. Dan yaps kurasa aku bisa membuat bubur ayam. Tidak sampai 20 menit semanngkuk besar bubur ayam buatanku siap. Kusajikan di nampan beserta dua gelas air madu hangat.


Kududukan kembali Jill yang masih terjaga tapi dengan tubuh yang lemas. "Makan dulu ya", bujuku sembari menyamankan sandaran Jill. "Kakak juga makan ya",menoleh pada Jo.


Keduanya mengangguk. "Bibi suapi saja ya karena masih sangat panas", ucapku sembari mendekatkan sendok bubur untuk sedikit meniupnya kemudian menyuapkan pertama kepada Jo karena suapan pertama ku ini satu sendok full. Bergantian dengan Jill. Jill sendiri baru beberapa sendok sudah tidak mau makan, tapi karena rayuanku akhirnya Jill makan lagi bergantian dengan Jo. Dan akhirnya habis. Ah senangnya melihat masakanku habis.


"Nah sekarang waktunya minum obat. Tadi Jo sudah minum obat juga ?" tanyaku.


"Baiklah", kusodorkan sendok obat demam. Tapi Jill terdiam. Enggan membuka mulutnya. "Jill yang cantik ayo minum obat dulu supaya cepat sembuh", rayuku lagi.


"Bibi, bolehkah aku memanggilmu mommy ?", tiba-tiba kalimat lirih itu terlontar dari bibir Jill yang langsung menancap pas dihatiku.


"Jangan pergi bi, kumohon. Jill sangat rindu mom", lanjutnya lagi. Dan setetes air mata terjatuh dari mata kirinya membuat perasaanku runtuhlah sudah. Aku tak tega. Mataku panas.


Aku mengangguk karena tak kuasa menjawab pertanyaan Jill. "Iiyah, anak ibu sekarang minum obat yah sayang", kalimat manis itu terlontas dari mulutku.


Jill langsung tersenyum dan menyerobot sendok obat yang tadi sudah tertodong do depan mulutnya. Wajah gadis kecil itu tersenyum bahagia.


"Terima kasih bi, Ibu via", ucap Jo yang semakin merambah hatiku. Entah mengapa kedua anak kecil ini langsung meluluhkan hatiku. Padahal aku baru saja mengenal mereka beberapa jam yang lalu.


"Sudah sekarang tidur. Ibu akan mengompres Jill agar demamnya lekas turun okey" dan si kembar langsung siap di posisi berbaring dengan selimut lengkap yang tadi sudah kuganti dengan yang baru.


Segera kupersiapkan baskom berisi air hangat dan handuk untuk mengompres Jill. Sementara wajah si kembar terus saja berbinar menatapku. "Ayo tidur. Jangan menatap bibi terus" ucapku tersenyum sambil memeras handuk. "Eh salah, ibu", ralatku seketika sadar.


"Ayo pejamkan mata kalian", ucapku seraya mengusap wajah Jo dan Jill dengan gerakan menutup mata mereka.


Aku sendiri duduk di samping ranjang dengan kursi pendek yang tadi sudah kutarik mendekat. Pinggangku menempel di nakas tempar tidur itu. Menjaga kompresan Jill.