Hi Mr !

Hi Mr !
Pencarian



Autor pov


Jacob sedang menginstruksikan anak buahnya untuk memenuhi permintaan Jo. "Cari pegawai hotel yang semalam mengantarkan handuk ke kamar. Bawa paksa ia jika menolak. Cari tahu latar belakangnya. Beri kompensansi yang pantas"


Ken, tangan kanan Jacob mengangguk paham.


Setelah instruksi singkat itu, tak sampai 2 jam seluruh informasi tentang wanita itu sudah terhimpun dalam sebuah map di atas meja kerja Jacob. Jacob membacanya seksama.


"Dimana wanita itu ?"


"Maaf mister. Kami belum bisa membawa Nona Via karena sampai sekarang Nona Via belum sampai di rumahnya sejak pergantian shift tadi pagi", jelas Ken.


"Bawa dalam satu jam. Twins sudah menunggu. Mereka mogok makan. Ada jadwal hari ini ?"


"Tidak ada rapat/meeting. Hanya seorang tua, Tuan Winscout telah diamankan."


Sudut bibir Jacob terangkat. "Baiklah mari kesana", Jacob bangkit dari duduknya berjalan keluar.


Sebelum meninggalkan kamar, Jacob menyempatkan menemui twinsnya. "Makanlah sayang, dad berjanji akan membawa bibi itu kesini", ucapnya lembut membelai surai halus Jill. Jill mengangguk sedih dan menyodorkan jari kelingkingnya. Jac membalas uluran jari mungil itu. Melepasnya dan bangkit berdiri.


"Be carefull dad", ucap Jo.


Jac mengangguk dan tersenyum simpul. Memandang lekat kedua malaikat kembarnya sebelum hilang dibalik pintu.


***


Beberapa mobil merapat ke gudang tua di pinggir kota. Sesosok pria tampan dengan tinggi 185 cm, berbadap tegap nan atletis, turun dari mobilnya. Dialah Jacob Smith. Seorang ketua bayangan. Mengapa bayangan ? Karena dalam setiap gerakannya yang menyangkut hubungan publik, Jac tidak pernah muncul. Ken lah yang mewakilinya. Jacob seorang pesiden direktur perusahaan raksasa yang hampir bergerak dalam semua bidang kehidupan. Baik legal maupun ilegal. Hotel kemarin hanya usaha kecil Jac.


Mereka masuk ke ruang besar dan remang itu. "Bawa si tua itu kemari", ucap Jac.


Pada bodyguard menundukan kepala dan segera melaksanakan perintah Jac. Tak lama kemudian seorang pria paruh baya dan dua orang wanita muda masuk dengan diapit bodyguard.


Jac menatap seksama dan terpana melihat salah satu dari wanita itu. Tapi wanita itu belum menyadarinya. Bibirnya terlihat pucat dan pandangan matanya tertutup.


Saat tangan bodyguard melepaskan cekalan pada tangan si pria paruh baya. Pria itu langsung menghambur bersujud di kaki Jac. "Ampuni saya Mr. Jac. Saya mohon. Saya bersalah karena tidam bisa menjaga putri saya. Ampuni saya. Tolong tuan tolong."


Jac mencerna kalimat pria tua itu. Winscout adalah salah satu profesor di laboratorium miliknya. Laboratorium senjata. Berdasar hasil penyelidikan, Winscout tidak bersalah sepenuhnya. Putrinyalah yang memberikan sampel penelitian kepada pacarnya yang ternyata adalah suruhan dari salah satu musuh Jac yang sama-sama bergerak di bidang senjata.


"Yang mana putrimu ?" tanya Jac.


"Ampun Mr. Tolong ampuni putriku. Dia tidak tahu apa-apa", pinta Tuan Winscout lagi.


"Yang mana putrimu ?" ulang Jac tidak sabar.


Sadar bahwa pertanyaan Mr. Jac tidak dapat dibantah. Takut-takut Winscout menunjukan putrinya, Kiki. Winscout jujur karena ia tahu tidak ada yang dapat disembunyikan dari pria dijadapannya ini. Winscout hanya berharap ada keajaiban yang bisa menyelamatkan nyawanya dan putrinya hari ini.


"Mintalah gadis itu berlutut dan berjanji padaku, maka kubebaskan dirimu dan anakmu", ujar Jac memberi penawaran. Menunjuk ke arah Via. Via yang perlahan sadar dari biusnya mencerna kalimat-kalimat yang masuk di pendengarannya. Saat pandangannya terangkat, terlihat semua pandangan tertuju padanya. Termasuk Paman Scout, ayah Kiki, yang sedang bersimpuh di depan seorang pria. Matanya membulat sempurna menyadari siapa pria itu.


Ken juga tersadar. Wanita itu Via.


Tidak perlu dicari, ternyata malah datang sendiri, batin Jac.