
Mata Via memicing melihat tampilannya sendiri di cermin besar kamar mandi. Tangannya kuat meremas handel pintu untuk berpegangan. Dilihat dari sudut manapun tanda merah di sepanjang leher, bahu, dan dadanya tidak bisa ditutupi. Via segera merangkus jubah mandinya lalu mengikatnya. Berusaha sebisa mungkin berjalan keluar sendiri. Ya, tubuh bawahnya masih agak nyeri meski tidak senyeri tadi pagi. Via malu jika harus meminta Jac untuk masuk kamar mandi lagi.
"Kenapa tidak memanggilku sayang ?" tegur Jac saat melihat Via baru saja membuka pintu kamar mandi.
Via tersenyum tipis. Entah mengapa ia merasa wajahnya memanas.
"Apa sudah tidak sakit ?" tanya Jac dengan cepat meraih pinggang Via.
"Masih sedikit", Via menunduk. Ia yakin wajahnya sudah memerah.
"Bisa memakai baju sendiri ?" Jac menyodorkan sebuah dress di tangannya dan dijawab anggukan oleh Via.
"Pakailah bajumu sayang. Mari sarapan bersama", ucap Jac mengecup kepala Via
Setelahnya mereka sarapan bersama. Dan seharian itu Via tidak keluar dari kamar. Jac memaksanya kembali berbaring setelah sarapan. Via gugup setengah mati saat Jac merebahkan badannya di ranjang bersamaan dengan Pak Gim masuk untuk membereskan sisa sarapan. Mereka memang sarapan di balkon kamar.
Tanpa suara Pak Gim segera keluar kamar dan Jac kembali menyerang Via.
***
Dan akhirnya, pukul 7 p.m. Via baru membuka matanya. Tubuhnya benar-benar letih sekali. Bahkan untuk duduk saja Via merasa pinggangnya mau copot.
tok..tok..tok... Terdengar bunyi pintu diketuk.
Jac turun dari ranjang, membuka pintu dan kembali dengan nampan berisi makanan di tangannya. "Biarkan bubu makan dulu ya sayang", ujar Jac membuat si kembar kompak terduduk.
Setelah meletakan nampan di nakas, Jac membantu Via duduk. Menata bantal untuk sandaran Via, kemudian meletakan meja kecil tempat nampan makanan. "Ayo makan dulu sayang", tangan Jac terulur menyelipkan rambut Via ke belakang telinga. "Sudah waktunya tidur twins"memandang si kembar.
"Selamat malam mom", sahut keduanya kompak mencium pipi kanan-kiri Via dan langsung melarikan kaki pendek mereka keluar kamar.
Berduaan dengan Mr. Jac membuat Via canggung. Wajahnya memanas, sekujur tubuhnya meremang bahkan hanya dengan tatapan mata Mr. Jac yang lekat dan tajam.
Senyum tipis itu menghiasi wajah Jac, menyadari gadis, koreksi wanita di depannya ini sedang gugup. Bukan Jac namanya kalau hanya diam saja, tubuhnya mendorong kedepan membuat wajahnya dan Via menyatu. Kecupan bertubi-tubi menyerang bibir Via dan berhenti saat Jac merasa Via menahan nafas terlalu lama. "Berdirilah sebentar", pinta Jac.
Via mengangguk kikuk, membuka selimut dan menurunkan kakinya. Awalnya limbung tapi dengan bantuan Mr.Jac, Via dapar berdiri tegak. "Berjalanlah", perintahnya lagi. Dan Via mulai berjalan. Entah mengapa sekarang sudah tidak begitu nyeri. "Good !", seru Jac.
"Makanlah dan segera bersiap. Menjadi Mrs. Jac harus ikut kemanapun Mr. Jac pergi", seringai Jac misterius.
Dan malam itu Jac mengucapkan kata "Welcome" kepada Via sebagai tanda selamat datang di kehidupan Jac. Malam itu juga Jac memperkenalkan dunianya pada Via. Wajah pias, terperangah, tegang dan kaget berganti-ganti menghiasi wajah Via. Melihat sisi lain kehidupan Mr. Jac, tepatnya sisi kelam yang sama sekali tidak pernah dibayangkan oleh Via.