Hi Mr !

Hi Mr !
Prolog



Halo pembaca semua, perkenalkan namaku Jhovia Maroon. Panggil saja Via. Umurku genap 25 tahun 2 minggu yang lalu. Aku tinggal bersama keluarga pamanku setelah sebelumnya tinggal bersama kakek dan nenek. Kakek dan nenek telah berada di surga 7 tahun yang lalu. Sejak itu aku ikut tinggal di rumah paman, satu-satunya putra kakek dan nenek. Namanya Paman Rob, istrinya bernama Rosie. Beliau menyuruhku memanggilnya Madam Rosie. Pamanku memiliki 2 anak perempuan, yang satu namanya Natalie atau Nath saja, umurnya 2 tahun lebih tua dariku dan adiknya Nina, hampir seumuran denganku, hanya beda 2 bulan.


Selama tinggal dengan keluarga Paman Rob, aku tidak cuma-cuma menumpang. Aku mengurus semua urusan rumah tangga, kecuali yang berurusan dengan uang, tentu semua itu kuasa Madam Rosie. Setiap pagi, aku bangun lebih awal, membereskan rumah dan menyiapkan sarapan, setelah itu sekolah, kuliah, bekerja, menjelang sore pulang untuk menyiapkan makan malam. Itulah kegiatan monotonku. Untung saja selama sekolah menengah sampai kuliah aku mendapatkan beasiswa jadi biaya pendidikanku tidak membebani keluarga ini.


Itu sedikit tentang daily activtyku. Lain lagi dengan daily perasaanku. Haha.. maaf ya memang mulutku ini susah mengucapkan kalimat normal. Daily perasaan maksudnya adalah apa yang aku rasakan setiap hari selama tinggal di rumah ini. Yang aku rasakan adalaah... Menurutku Paman Rob cukup baik, pendiam, dan cuek. Madam Rosie, cukup cantik diusianya yang hampir 41 tahun. Bibi dan paman hampir seumuran. Tapi jangan harap kecantikan paras bibiku secantik mulutnya. Uh.. tidak perlu diperjelas ya bagaimana sadisnya mulut Madam Rosie. Ups, maaf.


Oiya, selain keluargaku, aku juga memiliki satu orang sahabat. Namanya Kiki. Ia tetanggaku. Kami dekat sejak aku tinggal di rumah keluarga Paman Rob. Awal tinggal disini sungguh menyiksa, ucapan pedas Madam Rosie, ketidakpedulian paman, belum lagi sikap Nat dan Nina sangat memusuhiku. Tak jarang aku dihukum. Kadang aku tidak boleh makan, kadang tidur di luar, di serambi belakang rumah tepatnya. Dan rumah Kiki bersinggungan belakangnya dengan rumah Paman Rob. Dari situlah Kiki sering membantuku. Dan sampai sekarang aku tak akan pernah lupa untuk balas budi terhadap Kiki.


Malam ini, Kiki meminta bantuanku untuk menjadi menggantikannya shift malam. Oiya, aku dan Kiki sama-sama bekerja sebagai karyawan di Hotel X. Hanya beda bidang. Alasan Kiki memintaku ialah karena dia ingin makan malam bersama orang tua pacarnya. Tentu saja itu hal wajar. Malam ini malam akhir pekan. Tentu saja aku sebagai seorang jomblowati yang tidak ada pekerjaan langsung mengiyakan permintaan sahabatku. Lagipula nanti aku juga mendapatkan upah. Upah lembur saat malam akhir pekan. Meskipun sedikit tapi lumayan untuk menambah tabunganku.


Telepon berdering, dengan sigap aku mengangkatnya dan mendengarkan instruksi dengan seksama. Segera setelah telepon terputus aku menyiapkan beberapa selimut tambahan, handuk kecil, dan baskom. Setelah ditata di nampan, aku segera bergegas keluar.


Lantai yang aku tuju adalah lantai paling atas hotel ini. Jujur aku sedikit gugup karena lantai paling atas hotel ini adalah lantai eksklusif. Satu lantai hanya ada 2 kamar dan hanya konsumen kaya rayalah yang bisa menyewa kamar itu. Aku sendiri baru kali ini menginjakan kaki di lantai ini.


Lift berdenting, kulangkahkan kaki ku keluar menuju pintu kamar yang kutuju. Sesampainya di depan pintu..