Hi Mr !

Hi Mr !
Masih di hari Senin



Menjelang petang, Mr. Jac sudah kembali ke rumahnya. Ia lekas berganti pakaian olahraga dan menemui Via yang sedang mendadani Jill. "Ganti pakaian olahraga. Naik ke lantai atas"


Via tak menjawab. Hatinya masih bergemuruh. Tapi mau tak mau, lagi-lagi terpaksa Via harus menurut. Kalimat ancaman Mr. Jac langsung terngiang di kepalanya saat seperti ini.


Via naik ke lantai atas dan menemukan ruang gym yang sangat luas. Dan Mr.Jac sudah mulai olahraga.


Mr. Jac mengkode Via supaya mendekat. "Kau harus rajin olahraga agar staminamu bagus", ucap Jac sembari melakukan gerakan pemanasan. "Ikuti", perintah Jac.


Via hanya bisa patuh.


Setelah pemanasan yang melelahkan bagi Via. Olahraga pertamanya adalah tredmill. Mr. Jac sudah mengatur kecepatan dan waktu untuk Via. Via mulai melajukan kakinya. Sementara Mr. Jac bersandar di dekat pengatur tredmill menghadap Via.


"Kau masih marah ?" tanya Mr. Jac


Via menggeleng enggan menjawab.


"Kenapa kau diam ? Dimana etikamu ?" lempar Jac lagi.


Via diam lagi.


"Keterdiamanmu dapat dianggap sebagai bantahan. Mungkin kau sudah lupa apa akibatnya", ujar Mr. Jac santai.


Kalimat itu sukses membuat Via menciut. Akhirnya ia buka suara, "Ma, maaf tuan. Mister"


Mr. Jac tersenyum tipis. "Katakan kenapa kau marah karena aku menciummu ?"


Via menggigit bibir bawahnya. Bingung menjawab apa. Akhirnya Via memilih jujur. "Karena itu ciuman pertama saya Mr", jawab Via agak terbata karena nafasnya mulai memburu karena alat gym ini. Via mengalihkan pandangannya dari Mr. Jac.


Tangan Mr. Jac menekan tombol stop. Dan alat itu berhenti. Leher Via sudah penuh dengan keringat. Kaos yang dipakainya juga lembab.


Jac menghela Via untuk turun dan duduk meluruskan kaki di ruang kosong samping tredmill. Via mengatur nafasnya.


"Jadi apa jawaban dari pertanyaan tadi ?" kejar Jac.


Sesaat Via lega karena Mr. Jac terdiam, tapi kalimat barusan menyadarkan Via bahwa tidak ada yang bisa lari dari Mr. Jac. Meskipun itu hanya sebuah pertanyaan.


"Emh, saya memang belum pernah pacaran Mr", jawab Via seadanya. Mau bagaimana lagi.


Mr. Jac mendekat. Via langsung menggeser bokongnya. Tapi lagi Mr. Jac mendekat. Dan adegan itu terjadi beberapa kali sampai Via mentok menabrak dinding. Sebelum Via sempat bangkit, telapak tangan Mr. Jac sudah menangkup wajahnya.


Via dapat menghirup aroma mint dari hbusan nafas Mr. Jac. Parfum dan keringat Mr. Jac ikut berbau menyerbu indra pembau Via. Dan entah setan apa, Via tidak memberontak, malah memejamkan mata.


Melihat respon Via, Mr. Jac mendekatkan bibirnya ke arah telingan Via sembari berbisik, "Bahkan tubuhmu saja tidak menolak. Tenanglah Via aku yang akan mengajarimu. Hanya aku". Bisikan itu otomatis membuat tubuh Via langsung menegang.


Tapi bukan Mr. Jac yang tidak bisa mengendalikan orang lain. Bibirnya mengecup dahi Via, pelipis, pipi, kemudian bibir. Jac mulai merasai bibir Via. Baru kali ini Jac menemukan ada rasa manis pada bibir seorang wanita yang membuatnya tidak bisa berhenti. Bahkan tidak dengan Anne.


Lumatan itu begitu lembut sehingga Via ikut terbuai. Punggungnya dibelai lembut oleh Jac. Tapi dasarnya Via yang tidak berpengalaman sehingga nafas Via mudah tersengal.


"Bernafaslah sayang", ucap Jac lembut menyatukan keningnya dengan Via. Entah mengapa Jac lebih sabar menghadapi Via. Setelah dirasa cukup mengambil nafas, bibir Jac langsung menyambar bibir Via lagi. Kali ini ciumannya lebih menuntut.


Jac melepas ciumannya dan menyeka bibir Via yang basah. "Mandilah", ucap Jac sebelum meninggalkan Via di ruang gym.