
Malam itu, Mr. Jac sendiri yang menghubungi Laura. Laura girang bukan main saat Jac mengajaknya makan malam. Laura mematut dirinya di cermin. Gaun hitam membalut sempurna tubuh Laura. Make up bold nya kian mempertegas kesan seksi Laura. Begitu terdengar bunyi klakson, Laura langsung menghambur keluar dan kecewa ternyata Ken, asisten Jac yang menjemput.
"Silahkan nona, Mr. Jac sudah menunggu", Ken sopan membukakan pintu mobil untuk Laura.
Dengan gaya pongah Laura masuk mobil. Silahkan saja sombong nona. Kita lihat nanti siapa yang terakhir mendongakkan kepala, sinis Ken membatin.
Mobil itu berhenti di sebuah vila. Ken memandu Laura untuk masuk dan menuju balkon. Laura terperangah ketika melihat meja makan yang dihiasi lilin dan bunga ada disana. Tirai yang membingkainya berayun-ayun tertiup angin. Laura melangkahkan kakinya dengan anggun ke arah yang ditunjukan Ken. Jantungnya benar-benar berdebar. Akhirnya setelah sekian lama, lewat makan malam ini, Laura yakin, Jac akan segera mempersuntingnya.
Begitu sampai diambang pintu. Laura terbelalak melihat pemandangan di depannya. Tepat disamping meja yang ia lihat ada sejoli yang sedang memadu kasih. Dan itu adalah Jac dan Via. Via duduk dipangkuan Jac, mendongakan kepala karena Jac sedang asik mencumbu pengasuh twins itu. Terdengar desahan Via.
Tangan Laura mengepal. Emosinya meletus. Tangan Laura yang sudah terulur untuk menarik Via langsung tertahan oleh lengan kekar Jac. Jac dengan cepat bangkit dari duduknya sambil mengangkat Via dengan satu tangan. Via terkesiap menyadari kedatangan Laura. Tadi Jac tidak mengatakan apa pun. Sampai kejadian berakhir dengan adegan panas dan Laura mendekat.
Begitu diangkat oleh Jac, Via hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada Jac. Ia memejamkan matanya rapat. Memori di pantry seperti tereka ulang dalam bayangannya.
"Apa masalahmu Laura ?" sorot mata Jac begitu tajam, menambah tekanan pada cengkraman tangannya pada Laura.
"Apa maksudmu ini Jac ?!" bentak Laura. "Apa kau sudah gila bermain dengan si j***** itu ?" Laura mencoba merangsek maju tapi Jac menarik cengkramannya.
"J***** teriak j***** heh ?! Jangan melewati batasmu Laura", Jac terkekeh.
"Kau kurang ajar Jac !" Laura kian emosi berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Jac.
"Kau j***** ! Kemari kau !", teriak Laura pada Via.
Sementara Jac merasakan gadis dalam dekapannya itu gemetar. "Kau melebihi batasmu Laura. Melukai wanita kesayanganku" Jac memberikan kecupan dipuncak kepala Via. "Kau ingin dia menyembahmu sayang ?" lempar Jac lembut pada Via.
Emosi Laura sudah siap meledak. Jarinya mengepal kuat sampai tapak lnya memutih karna saking kuatnya ia menekan jarinya sendiri.
Kejadiannya begitu cepat saat Laura terkesiap, kedua lengannya sudah teringkus ke belakang dengan tekanan kuat ditangan lengan kekar seseorang. Laura menolehkan kepalanya. Ken berdiri di belakang Laura.
"Kau tahu pasti apa akibat mengusik milikku ?!" Kata-kata Jac penuh penekanan seiring bertambahnya tekanan di lengan Laura yang membuat keluarnya suara rintihan sakit.
Via masih terdiam, perasaannya sudah stabil. Entah mengapa Jac selalu berhasil membawa ketenangan dan ketegangan secara bersamaan baginya. Mendengar suara rintihan Laura, Via sadar Jac tidak sedang main-main. Via merasakan firasat buruk akan menimpa Laura.
Via mendongakan kepalanya. Sedikit memberi jarak dengan tangannya di dada Jac tanpa melepaskan pelukan. Via menggeleng berharap Jac menanggapinya. Bibirnya sendiri kelu tidak bisa berucap melihat ekspresi kesakitan Laura.
Via menggelengkan kepalanya dengan ekspresi penuh harap saat mata Jac teralihkan menatap matanya. "Jangann..", ucap Via lirih.
Jac terdiam. Wajahnya datar. Tiba-tiba Jac mengecup kening Via, "Kau terlalu baik, sayang. Tapi bukan aku yang menghukumnya. Perbuatannya sendiri yang mendatangkan karma. Bawa pergi Ken", sambil mengkode Ken dengan tangan.
Laura diseret keluar.