Hi Mr !

Hi Mr !
Lamaran



Jac mengelus kulit bahu Via yang memerah. Via masih sesenggukan dalam pelukannya. Sesekali Jac meniup kuliy terbuka itu berharap mengurangi rasa sakit pada wanitanya. Jac mengusap lembut punggung terbuka Via untuk menenangkan.


Meski masih nyeri Via menarik dirinya dari pelukan Jac. Menutupi dadanya yang berayun bebas tanpa penghalang. "Maafkan aku Jac" ucap Via lirih.


"Untuk ? Harusnya aku yang meminta maaf karena membuatmu mendapatkan tanda ini"


Via sedikit tersentak dengan kalimat Jac. "Tidak. Aku bahagia Jac. Ini tanda milikmu. Aku milikmu", serunya berani mengangkat wajah.


Wajah Jac langsung berseri. Tangannya terulur membelai pipi cuby itu. "Yeah my reina. Kau miliku" Jac mengecup kening Via kemudian mengecup seluruh wajah itu. Menghilangkan jejak air sisa tangisan Via.


"Sayang, mana tanganmu ?" pintanya


Via meragu. Pasalnya saat ini kedua lengannya sedang menyilang menutupi dada dan Jac meminta tangan Via. Artinya Via harus membuka persilangan lengannya.


"Aku bahkan sudah menikmati setiap jengkalnya dengan lidahku sayang" dengan senyum maut tersungging.


Wajah Via langsung terhantam badai merah diseluruh permukaan kulit. Dengan wajah menunduk dalam-dalam Via mengulurkan tangan kanannya,membuat sebisa mungkin rambutnya menutupi area dada. Saat ini rambut Via memang sudah lumayan panjang.


Jac mengambil sesuatu dari saku celananya, dengan sedikit usapan panas untuk meminta jalan pada paha Via. Tangan Jac menyodorkan sebuah kotak kecil beludru berdesain mewah hitam gold terbuka. Sebuah cincin cantik bertengger disana membuat Via mengangkat pandangannya, ternganga.


Setetes air mata Via jatuh dari sudut matanya. Ia tak percaya bahwa Jac benar-benar akan melamarnya. Meskipun belakangan ini sikapnya melembut tapi Via sangat tersanjung dengan lamaran tiba-tiba ini. Menurutnya ini lebih romantis dibandingkan lamaran lain yang biasa ia tonton di televisi.


Via hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Jawablah dengan bibirmu sayang" tuntut Jac dengan lengan lain yang bebas mendekatkan wajah Via pada wajahnya.


"Yes I will Mr. Jac" jawab Via dengan suara paraunya.


Dan suara parau itu dianggap sebagai godaan seksual dari Via untuk Jac. Segera Jac memasangkan cincin itu pada jemari Via. Dan tanpa babibu, lengan Jac langsung membawa Via dalam rengkuhannya. ******* bibir ranum itu dengan panas membara.


Via menerimanya dengan senang. Hatinya sangat bahagia. Begitu juga dengan Jac. Seluruh keraguan dan kekhawatirannya musnah dengan keyakinan yang diberikan Via.


Tangan Jac tidak tinggal diam. Lengannya memberikan usapan lembut disepanjang punggung Via. Merambat kebawah menuju pinggang kemudian bergerak masuk kedepan. Dan erangan bertubi-tubi lolos dari bibir Via disela ciumannya.


Jac membuat Via yang memegang kendali. Via diatas. Jac tidak ingin kulit bahu Via tergesek oleh permukaan sprei. Via menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri, menahan sensasi baru yang dialaminya. Via bergerak sesuai perintah Jac. Diatas membuatnya hilang kontrol. Sampai akhirnya Via lunglai diatas badan Jac.


Tentu saja Jac belum apa-apa saat Via melemas. Dengan posisi lain agar tidak menggesek bahu Via, Jac kembali memulai aksinya. Badan Via yang melemas, kembali berkobar dengan hentakan-hentakan tubuh Jac. Via pasrah dan menikmati apapun yang dilakukan Jac. Matanya panas melihat cincin yang tersemat di jarinya. Wajahnya penuh binar kebahagiaan di sela gelombang yang menerpanya.