
📣📣📣
Mohon maaf untuk pembaca belum cukup umur harap di skip saja untuk episode ini.
.
Mohon kebijaksanaannya dalam membaca
.
.
.
Jac merenggangkan otot-ototnya yang pegal oleh perjalanan. Langit sudah menjadi hitam ketika Jac tiba di mansionnya. Jam sudah menunjukan pukul 1 dini hari dan hanya Pak Gim yang menyambut kedatangannya di depan. Tanpa berkata apapun Jac langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Setelah memakai kimono tidurnya Jac melangkah masuk ke kamar Via. Terlihat gadis itu sedang berbaring memunggungi arah kedatangan Jac. Jac mendekati ranjang, wajah Via yang polos disirami cahaya bulan purnama yang masuk lewat jendela besar terbuka. Jac menatap dalam wajah damai Via yang menumpang pada tumpukan tangannya sendiri. Gadis ini bahkan mengonggokan selimut terlipat rapi dibawah kakinya, membuat mata Jac sebebas-bebasnya menjelajahi setiap inchi tubuhnya yang sudah berubah.
Gaun transparan itu jelas menambah gebrakan kelelakian Jac. Jac mendekat, mendaratkan bokongnya di tepi ranjang. Tangannya terulur untuk menyelipkan anak rambut Via yang menutupi wajah. Hembusan nafas Via menyapu permukaan kulit jari Jac ketika si empunya menulusi wajah damai itu. Dari sudut ini, mata Jac menangkap setiap detail tubuh Via. Lengan yang awalnya kurus itu sekarang lebih berisi. Kulit Via lebih cerah dari sebelumnya. Daaan, duo bukit kembar itu kian menggoda ketika kain tidur itu sedikit melorot, seperti menggapai-gapai Jac, sentuh aku,sentuh aku.
Jac memajukan wajahnya, ******* bibir seksi Via dengan pagutan lembut nan bergairah. Awalnya Via belum sadar, tapi lama kelamaan, Via merasakan lumatan di bibirnya, karena agak kaget otomatis Via sedikit membuka mulut dan yak langsung saja lidah itu menerobos masuk. Via melebarkan matanya mendapati sosok pria yang dirindukannya itu sedang menunduk memagut bibirya. Secara alami, Via menyampirkan kedua lengannya pada bahu Jac, sedikit memberi usapan sebagai sinyal bahwa sekarang Via sadar.
Jac melepaskan lumatannya, sedikit menarik diri untuk menatap wajah Via yang sedikit memerah dengan nafas terengah. Wajah pasrah Via benar-benar sangat cantik. Mulutnya sedikit terbuka membuat Jac tidak tahan lagi untuk melahap habis bibir itu.
"Aku merindukanmu sayang", ucap Jac tanpa melepas pagutannya.
Via merasakan kelembutan dan kerinduan yang menuntut dari ciuman Mr. Jac, Via yang belum bisa mengimbangi keahlian Mr. Ja. hanya bisa menerima apa yang dilakukan tuannya itu. Tuan yang sudah membuatnya tenggelam dalam pesonanya.
Benteng Via benar-benar runtuh. Dan pergulayan panas itu terjadi. Meskipun akal Via, berkata tidak tapi kepalanya mengangguk. Akhirnya Via pasrah, ikut menikmati olahraganya.