Hi Mr !

Hi Mr !
Hampa



Sudah tiga hari ini Via tidak melihat Mr. Jac sama sekali. Tapi anehnya twins sama sekali tidak menanyakan keberadaan ayahnya. Mereka seakan biasa dengan hal seperti ini. Via sendiri tidak berani bertanya pada Pak Gim takut dianggap terlalu ingin tahu urusan majikan.


Saat makan siang Via berusaha mencari informasi lewat si kembar. "Jo..Jill.. emh, bolehkah bubu bertanya ?"


Keduanya serempak mengangguk sambil mengunyah makanan suapan tangan Via. "Daddy kalian sedang pergi keluar kota kah?"


Mereka mengangguk lagi. "Bolehkah bubu tahu kemana ? Urusan pekerjaan ya ?" tanya Via tersenyum.


Lagi. Hanya anggukan.


Via melongo mendapatkan respon seperti itu. Bibirnya manyun kurang puas akan jawaban si kembar.


"Daddy ada urusan ke negara YK selama sebulan bu", jawab Jo akhirnya menjelaskan.


"Ooh", Tapi kenapa tidak pamitan ? tiba-tiba pertanyaan itu melintas di otak Via. Astaga. Via menepuk jidatnya dengan tangan yang bersih. Sadarlah Via, tentu Mr. Jac hanya pamitan kepada anaknya. Kau kan hanya pengasuh. Untuk apa Mr. Jac pamit padamu.


Mau tak mau Via harus iklas menjalani aktifitasnya, olahraga pagi hari, latian tembak, olah tubuh dengan gym/beladiri. Beladiri dasar untuk pertahanan diri mulai dipelajari Via. Lanjut belajar bisnis dan mengetahui seluk beluk memasak. Via memang pandai memasak. Tapi sang ahli gizi menjelaskan lebih rinci tentang teknik memasak agar gizi tetap terjaga. Termasuk juga berbagai macam masakan yang baru dikuasai Via.


Sepanjang aktifitasnya, tentu Via tidak melupakan Jo dan Jill. Setelah Jo dan Jill tertidur, Via melanjutkan kelas fesyen. Dan aktifitas itu terus berulang tanpa Via sadari sudah berjalan hampir sebulan.


Badan Via sekarang lebih berisi. Tidak seringan dulu. Via merasa lebih percaya diri mengaplikasikan berbagai kosmetik dan pakaian. Badannya terasa bugar. Hanya satu yang belum dikuasai Via. Yaitu menembak dan beladiri. Via benar-benar kwalahan karena setelah selesai latihan tubuhnya banyak dihiasi lebam. Melihat hal itu sng instruktur tidak memaksa Via. Beliau bilang itu adalah instruksi dari Mr. Jac.


Via merebahkan badannya yang pegal setelah beraktifitas seharian. Malam ini Via memakai gaun tipis tranparan bergali spageti seperti yang ia kenakan pada malam serangan gelombang maut. Sejak kejadian itu, gaun tipis adalah favorit Via untuk dipakai saat tidur. Matanya menatap jendela yang terbuka. Menampilkan cahaya bulan yang sedang bersinar sempurna.


Via memegang dadanya. Ada desiran aneh ketika memikirkan Mr. Jac, Mr. Jac yang setiap malam membelainya, mendekapnya dan mengenalkan Via pada hal yang belum pernah Via ketahui. Merasakan kenyamanan dan kehangatan saat di dekap. Aroma tubuh Mr. Jac membuat Via memejamkan mata, mencoba mengenangnya dalam ingatan.


Malam itu, saat malam gelombang maut, paginya Via tahu semalam adalah perbuatan Mr. Jac setelah mendapati kalung berbandul cincin dengan ukiran JS melingkar di lehernya yang penuh tanda merah. Tidak hanya di leher, di dada bahkan bagian sensitifnya ikut diserang. Via merasa malu namun bahagia di waktu yang bersamaan. Entah mengapa Via bahagia. Apa ia sudah jatuh hati pada Mr. Jac ? Atau ini hanya perasaan sementara ?


Yang jelas Via mengakui malam ini ia merasa kosong. Kehampaan teramat sangat tanpa kehadiran pria berkulit coklat itu.