
Tak sampai sepuluh menit, minuman buatan Via sudah jadi. Tentu dengan tambahan kombinasi bahan yang tadi sempat ia ambil. Via membawa dua gelas. Satunya ia berikan pada Ken sebagai rasa terima kasih mengantarnya berbelanja.
Ken tersenyum menerima gelas dari Via. Dan Via lanjut berjalan mengetuk pintu dan masuk ke ruang Mr. Jac
"Maaf tuan", ucap Via untuk menarik perhatian Mr. Jac dari laptopnya.
"Taruh di meja", ucapnya singkat.
Dan 15 menit berlalu, Mr. Jac bangkit dari kursinya menghampiri Via. Mr. Jac menybar gelas minumannya dan merasai. "Lebih enak dari kemarin. Buatkan juga untuk twins"
"Baik tuan"
Jac mengunyah isian dalam infused water yang ikut masuk saat Jac menenggak minuman tersebut. "Baca buku merah di rak itu. Tunggu sampai aku kembali dan jangan keluar" pesan Jac sambil menunjuk rak di sudut ruangan.
"Baik Mr" ucap Via patuh.
"Good", ucap Jac seraya mengacak rambut Via sebelum bangkit keluar ruangan. Via terpana dengan hal barusan.
***
Satu jam, dua jam, Via menahan kantuk akibat membaca buku yang tadi ditunjuk Mr. Jac. Dan akhirnya Via kalah dengan rasa kantuknya. Via tidur telentang di sofa dengan buku terbuka di dadanya.
Bahkan Via tidak terbangun saat Mr. Jac masuk ruangan. Pandangan Mr. Jac langsung tertuju pada sosok tubuh yang terbaring damai di atas sofa. Jac mendekat. Berjongkok di samping sofa.
Entah magnet apa yang menarik Jac mendekat. Tangannya mengambil anak rambut Via yang menutupi wajah. Sesaat Jac melihat memar di pelipis Via. Tapi jari Jac tetap menelusur halus membelai wajah Via. Dan Jac mendekatkan bibirnya ke bibir Via. Awalnya Jac hanya menempelkannya. Dan Via tidak terbangun. Mulai dari gesekan dan akhirnya Jac tidak tahan untuk ******* bibir Via.
Jac benar-benar hanyut dan baru tersadar saat ada pukulan mendesak di dadanya untuk berhenti. Jac mendapati Via terengah-engah dengan wajah yang memerah. Bibir yang dilumatnya tadi membengkak.
Plak.. hampir saja suara itu terdengar saat tangan Via terayun untuk menampar pipi Jac. Tapi belum sampai mendarat, Jac sigap menangkap tangan Via.
Jac diam.
Via menarik tangannya. Tapi cengkraman Jac sangat kuat. "Lepaskan tuan !" teriak Via lagi.
"Jangan pernah meneriakiku. Salahmu karena tidur sembarangan",tandas Jac tanpa bisa dibantah.
Sementara Via terdiam. Ini ciuman pertamaku, batinnya merana. Via benar-benar merasa direndahkan. Tapi Via tidak bisa berbuat apa-apa.
"Waktunya menjemput twins. Rapikan pakaianmu", ucap Jac sambil mengkode Bia untuk masuk kamar mandi.
Via tak menjawab. Hanya langsung ngeloyor ke kamar mandi. Setelah merapikan penampilannya, Via keluar. Jac sudah diambang pintu dan keduanya langsung keluar. Ken ikut menyusul.
***
Di dalam mobil, Ken tetap duduk di samping mobil, Jo duduk di tengah antara Via dan Jac, serta Jill dipangkuan daddynya. Seperti biasa mereka berceloteh riang sampai mobil tiba di rumah.
Via segera masuk sambil membawa tas serta Jo dan Jill, sementara Mr. Jac dan ken masih diluar. "Apa jadwal selanjutnya ?"
"Jam 3 ada presentasi hasil lab Mr"
"Aku makan siang di rumah dan kembali jemput kesini."
"Siap"
Mr. Jac segera masuk dan mengganti pakaiannya. Melihat twins sudah siap di meja makan dengan baju yang sudah diganti. Mr. Jac duduk dan mengkode pelayan untuk menata makanannya. Salah satu pelayan maju. "Via yang melakukannya", tahan Jac.
Mau tidak mau Via menata beberapa makanan di piring Jac kemudian membungkuk hormat mempersilahkan tuannya makan.