
Pagi itu, Mr. Jac sudah bangun. Sedang dikamar mandi untuk membersihkan diri sementara Via masih nyaman bergelung dalam selimut di ranjang besar Mr. Jac. Ya semalam, tanpa Via tahu, Mr. Jac menggendongnya naik, pindah kamar ke lantai 3. Sebelum mandi, Mr. Jac telah lebih dulu membangunkan kedua putranya dan menyuruh pelayan untuk membantu kedua anaknya bersiap sekolah. Mr. Jac mengatakan pada kedua putranya bahwa Bubu mereka ada urusan mendadak semalam sehingga sudab berangkat pagi-pagi sekali dan sore akan pulang.
Mr. Jac keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk melilit di pinggangnya. Air sisa mandi masih menetes dari rambutnya dan mengalir membasahi wajah serta tubuh bagian atasnya. Ekor matanya melirik pergerakan Via yang menggeliat dibalik selimut. Sepersekian detik berikutnya terdengar rintihan, Mr. Jac langsung mendekat.
Via yang merasa terbelit selimut sedang menggeliatkan badannya yang terasa remuk. Sepertinya tulang-tulang itu lolos dari sendinya. Dan rasa ngilu luar biasa menyerang tubuh bagian bawahnya dan Via merintih menghentikan geliatnya.
Tiba-tiba sebuah lengan melingkarinya mengangkat tubuhnya sampai posisi setengah terduduk dalam sebuh pelukan. Matanya melebar sempurna melihat pemandangan indah pagi hari ini. Mr. Jac bertelanjang dada dengan tetesan air di wajahnya sedang merengkuhnya.
Kilasan-kilasan kejadian semalam berputar cepat dalam otaknya, seketika Via terjengit menyadari keadaannya. Spontan ia mendorong dada Mr. Jac dan langsung terduduk memeluk kuat selimutnya. Via baru sadar ia tidak berada di kamarnya. Wajahnya pias, nafasnya memburu seperti habis lari.
"Kenapa sayang ?", tanya Mr. Jac lembut sembari menyelipkan rambut Via agar wajah yang sedang menduduk itu sedikit terlihat. Karena masih menunduk diam, Mr. Jac membawa dagu Via dengan usapan lembut membuat mata indah Via langsung bertabrakan dengan sorot mata tajam tapi meneduhkan.
Gleg. Via menelan ludah. Astaga. Betapa bodohnya aku. Aku gagal. Aku gagal., ratapnya dalam hati. Tapu semuanya telah terjadi.
Mata Mr. Jac masih memperhatikan wajah Via. Jac sadar apa yang sedang dialami gadis ini. Pasti ia syok. Dengan senyum tipis Jac berucap, "Semalam keputusanmu sendiri sayang. Jangan Menyesal. Aku sangat bahagia karena menjadi yang pertama untukmu. Maka dari itu bersiaplah. Tidak mudah menjadi Mrs. Jac. Berusalah dengan keras"
Via menatap nanar. Otaknya masih terlalu kusut untuk mencerna kalimat barusan. Apa maksudnya ? Mrs. Jac ?
"Kau mau mandi ?" tanya Mr. Jac dan dijawab anggukan oleh Via.
Mr. Jac terkekeh. "Pegangan Via, nanti terjatuh. Aku sudah melihat semuanya", ucap Mr. Jac semakin membuat Via malu. Via menunduk dalam-dalam sambil melingkarkan lengannya pada leher Mr. Jac.
"Bisa mandi sendiri atau perlu bantuanku ?" ucap Mr. Jac saat menurunkan tubuh Via di bath up.
"Emh, aku bisa sendiri tuan", sambar Via cepat. Tetap menunduk.
"Tuan ?" ulang Mr. Jac
Via bingung. apa coba maksudnya ?
Mr. Jac berjongkok disamping bath up, menyejajarkan tingginya dengan Via, membuat Via langsung menyilangkan tangannya di depan dada untuk sedikit menutup dadanya. Mr. Jac hanya tersenyum kecil. "Semalam dirimu sudah berjanji untuk memanggilku Jac, apa kau lupa ?"
Via menggeleng. "Tidak Mr. Jac" jawaban Via sungguh membuat Jac gemas.
"Just Jac, Via", ucapnya yang langsung disusul sambaran ciuman.
Dan sekali lagi Via tidak bisa berkutik. Yang semalam terulang kembali.