
Sesuai perintah Mr. Jac hari ini Via harus belajar menembak. Takut-takut Via menghampiri Mr. Jac yang sudah siap dengan peralatannya. Setelah Via mendekat, tanpa babibu Mr. Jac langsung menarik pinggang Via, memasangkan headphone dan memegangkan pistol ke tangan Via dalam sekali gerakan. Sekarang posisi Via dan Mr. Jac menatap lurus ke papan sasaran. Tangan Via gemetar menggenggam pistol ditahan oleh tangan besar Mr. Jac.
Posisi yang sangat dekat membuat Via sangat grogi. "Coba tembak", ucapan Jac tidak tertangkap oleh Via. "Tembak !" dan ketika suara Jac meninggi membuat Via refleks menembak dan hasilnya melenceng jauh.
Jac sadar tubuh gadis didepannya itu sedang bergetar hebat. "Fokuslah. Gunakan matamu yang paling dominan, tutup yang satunya", jelas Jac. Entah mengapa kali ini nada suaranya berbeda. Lebih lembut dari biasanya.
Via menelan salivanya. Berusaha fokus. Tak ingin membuat macan dibelakangnya ini murka. Namun tak dapat ditampik, posisi ini benar-benar menyiksa. Wajahnya sangat dekat dengan wajah Mr. Jac yang menunduk di sebelah kepalanya. Salah menengok mungkin bibir Via akan mendarat di pipi Mr. Jac. Aroma parfum Mr. Jac kian mengganggu saja.
"Kau siap ?"
"Siap", jawab Via mantap. Dan ia mulai menutup satu matanya untuk fokus. Tembakan kedua tidak mengenai papan sama sekali. Ketiga sama. Keempat tidak ada perubahan. Baru ditembakan kelima, pinggir papan itu bolong. Via langsung melompat senang lupa akan posisi.
Gerakan itu membuat Via limbung seketika dan jatuh tepat di lengan Mr. Jac. Posisi keduanya kini berhadapan dengan wajah yang hampir bersentuhan. Mr. Jac membungkuk menahan berat tubuh Via. Begitu tersadar, Mr. Jac langsung melepaskan rangkulannya dan Via jatuh terduduk seketika.
"Awh...", erang Via memegangi pantatnya. Sadar posisinya salah karena dressnya tersingkap Via segera berdiri.
Via membersihkan diri sembari bersenandung. Setelah selesai Via turun ke lantai bawah. Via baru sadar di taman samping yang bersebrangan dengan taman yang digunakannya bermain kemarin sore, ada kolam renang. Di sudut selatan kolam renang terdapat piano besar yang dikelilingi bunga-bunga mekar. Sudut itu dipayungi atap rumbia dengan desain yang romantis. Tujuan awal Via yang ingin melihat kolam renang, berganti untuk mendekat ke arah piano tersebut.
Entah mengapa Via tertarik pada alat musik tersebut. Dibukanya penutup dan menekan beberapa tuts yang membunyikan nada-nada. Via memejamkan matanya. Ia ingat dulu neneknya pernah mengajarkannya piano. Jemari lentik Via menari-nari diatas tuts dan melantunkan sebuah melodi indah yang menghanyutkan.
Sementara Jac yang bersiap akan menjemput twins, terperanjat mendengar alunan piano dari arah serambi selatan. Langkahnya mendekat pada sosok Via yang memainkan piano dengan mata terpejam. Aura Via seakan memancar dan menyihir Jac sehingga Jac menyandarkan tubuhnya di badan piano dengan bertopang siku, menghadap ke wajah Via yang nampak bersinar. Ikut menikmati alunan melody yang dimainkan Via.
Begitu melodi dalam ingatannya usai. Via tersenyum masih dengan mata terpejam. Ia bahagia dapat mengingat ajaran neneknya dulu. Via membuka kelopak matanya dan terkejut bukan main mendapati sosok Mr.Jac berdiri di hadapannya. Karena gerakan refleks Via berdiri dengan keras membuat penutup piano itu refleks tertutup dan menjepit jemari Via. "oowh..", jerit Via tertahan.
"Ck.. kenapa kau selalu ceroboh", sindir Mr. Jac dengan tangan terulur membuka penutup piano itu. Melepaskan jemari Via yang terjepit. Tanpa sadar Jac menggamit kedua tangan Via untuk melihat hasil jepitan piano yang meninggal berkas lenggitan merah.
"Minta salep pada Pak Gim nanti. Ikut dulu menjempit twins", ucapnya memecahkan suasana canggung yang sempat tercipta karna ulahnya menggamit tangan Via.
Via sendiri mengangguk sambil menunduk. Menyembunyikan wajahnya yang sempat memerah. Entah mengapa Via malah jadi gugup. Dadanya berdebar. Tapi Via menampiknya, berasumsi bahwa debaran itu adalah ketakutannya pada Mr. Jac.