Hi Mr !

Hi Mr !
Hari Ketiga



Via pov


Setelah mengantar si kembar ke sekolah, aku kembali ke rumah utama. Mobil yang kutumpangi telah berhenti sempurna di depan rumah. Ada Pak Gim yang membukakan pintu untukku. Aku sendiri agak canggung dengan hal itu.


"Terima kasih Pak Gim. Lain kali tidak perlu pak", ujarku halus.


"Baik nona. Mr.Jac telah menunggu anda di lapangan. Mari ikut saya nona" nada Pak Gim yang berat terbalut kesopanan yang berlebih.


Dasar, terlalu PD. Sadar Via, Pak Gim melakukannya karena perintah Mr.Jac. Aku jadi malu sendiri dengan kalimatku barusan.


Pak Gim membawaku ke sebuah lapangan. Dan setelah melewati beberapa lapangan, ternyata lapangan yang dimaksud adalah lapangan tembak. Firasatku mengatakan akan ada bencana. Dan perasaan itu kian bertambah ketika mataku menatap Mr.Jac berdiri di salah satu kursi dengan headphone di kepala dan senjata di tangannya. Badanku gemetar seketika.


"Silahkan nona" Pak Gim memberiku jalan untuk melangkah le dekat Mr. Jac. Sungguh jantungku berdetak sangat cepat. Ingin rasanya aku melarikan diri dari tempat ini. Tapi mustahil mengingat begitu ketatnya penjagaan di mansion ini.


Kutarik nafas dalam-dalam agar kaki ku sedikit tenang. "Selamat pagi Mr. Jac", ucapku membungkuk hormat.


Tanpa menjawab sapaanku, Mr. Jac mengulurkan sebuah apel kepadaku. Ragu-ragu kuterima apel itu. "Kau suka apel ?"


Susah payah aku menelan ludah. "I,iya tuan. Mister", aku sampai salah berucap.


"Bawa apel itu kesana", Mr. Jac menunjuk ke arah lapangan tembak dimana ada papan-papan yang berjajar sebagai sasaran tembak.


Mati aku. Tamat sudah riwayatku di hari ketiga, batinku menangis.


Langkahku benar-benar berat karena lututku bergetar hebat saking takutnya. Beberapa kali aku menoleh kearah Mr. Jac untuk membatalkan perintah itu. Tapi dengan tangannya Mr. Jac menyuruhku untuk terus melangkah memberi jarak. Dan ketika kurasa kode melangkah itu sudah berhenti, Mr. Jac malah membuat perintah agar aku memakan apel di tanganku. Kutelan kasar ludahku. Astaga haruskah aku mati saat memakan apel. Sungguh kematian yang mengerikan, batinku kian merana. Aku sudah tak sanggup lagi. Tapi aku tidak punya pilihan. Kuarahkan apel itu kemulutku dengan mata terpejam rapat. Posisi menyamping sesuai arahan Mr. Jac.


Dar, suara letusan senjata itu langsung membuat tubuhku melayang. Gelap dan damai bersamaan. Sempat kudengar keributan sebelum akhirnya aku tak merasakan apapun.


***


Lamat-lamat Via membuka matanya. Ditatapnya langit-langit yang masih sama seperti malam sebelumnya. Apa aku masih hidup, tanya Via dalam hati. Via mengedarkan pandangannya dan terperanjat sekaligus yakin bahwa ia masih hidup karena menemukan Mr. Jac duduk menyilang kaki di sofa sebrang tempat tidurnya.


"Sudah sadar ?"


Via terdiam. Takut menjawab.


"Kenapa kau lemah sekali ? Suara tembakan saja membuatmu pingsan !" ucap Jac sarkas.


Via terdiam lagi.


"Bagaimana kau bisa menjaga anaku ?!" omel Jac lagi.


Mulut Via terkunci rapat.


"Mulai besok kau harus belajar menembak dan beladiri", tandas Jac mutlak tanpa Via bisa melawan.


Via hanya tertunduk memikirkan nasibnya. Seumur hidup, senjata tajam yang pernah ia pegang hanya pisau dan gunting. Bagaimana bisa sekarang ia juga harus mahir bermain pistol. Memikirkannya saja sudah akan membuat Via pingsan lagi.


***


Flashback kejadian di lapangan tembak.


Tepat ketika Jac melepaskan tembakan akuratnya, saat itu juga tubuh Via rubuh. Tubuhnya spontan berlari menggapai tubuh Via. Jac hampir marah menjadi-jadi bahwa gadis itu pingsan karena suara tembakan. Jac memeriksa sendiri bahwa tembakannya di apel jauh dari jangkauan Via. Via langsung dibawa kekamar agar segera sadar dan Jac bisa langsung memulai pelatihannya.