
Hari ini keduanya kembali ke rumah. Sebelumnya, Jac membawa Via pergi selama satu hari satu malam. Jac telah berpesan pada si kembar agar tidak rewel supaya Jac bisa merebut hati Via dan si kembar mengangguk dengan semangat.
Saat pintu rumah utama terbuka, twins langsung menghambur pada Via. Via berjongkok dengan tangan merentang untuk menyambut si kembar. "Mommy !" seru si kembar
Hati Via bergetar mendengar seruan twins. Mungkin ini bukan pertama kali si kembar menggunakan kata mommy padanya, tapi sekarang berbeda, beda rasanya setelah kejadian lamaran kemarin. Membayangkan diri sebagai mommy sebenarnya untuk si kembar.
"Oh jadi hanya kangen mommy..?" sindir Jac membuat rangkulan Via terlepas dan twinspun menghambur pada Daddynya. Dengan sekali angkat si kembar sudah berada dalam gendongan lengan kiri dan kanan Jac.
Si kembar mencium kedua pipi Jac bersamaan. "Dad memang paling hebat", seru Jill keras. Jac tersenyum lebar. "Kami punya, mommy!" sahut Jo tak kalah. Dan ketiga tertawa bersama.
Hati Via menghangat melihat pemandangan di depannya. Ada setitik air di sudut matanya. Ia haru. Haru membayangkan bahwa ia akan segera menjadi bagian dari ketiga orang di depannya.
"Ayo sayang kita masuk. Atau kau juga ingin digendong di punggungku ?" goda Jac.
Via tersenyum merona. Ia menggeleng pelan. Mana mungkin Jac kuat menggendong 3 orang sekaligus. Dua di depan dan satu di belakang. Sangat lucu.
"Kau meragukanku sayang ? Ayo naik ke punggungku", Jac menantang Via.
"No, no Jac. Jangan. Aku berat sayang", cetus Via berusaha menolak karena tidak menyangka reaksi Jac yang seakan bisa membaca pikirannya.
Jac segera meringkus twins di lengan depannya. Dan keempatnya tertawa bahagia. Berjalan memasuki lift.
***
Via sedang berendam dalam jacusi setelah menyelimutkan selimut pada tripel J. Setelah sampai di kamar keempat memang langsung tidur bersama dengan Jo dan Jill di tengah Via dan Jac. Via benar-benar bahagia.
Kehangat air panas ditambah aroma terapi dari lilin membuat Via hangat. Ia merebahkan kepalanya beralas lengan di pinggir Jacusi dengan posisi menelungkup.
Via hampir terhanyut ketika merasa ada tarikan pada tubuhnya yang membuatnya membalik. Siapa lagi kalau bukan Jac. Jac merapatkan tubuhnya. Segera saja Jac menyatukan bibirnya yang langsung diterima oleh Via. Menciumnya dengan ganas dan menuntut.
Buaian tangannya kekar Jac menyeret Via pasrah dalam hasrat. Sementara itu, aroma yang menguar dari tubuh Via membuat Jac candu. Ingin terus berdekatan. Apalagi ini adalah posisi favorit Jac, Via melemas dalam pelukannya membuat Jac leluasa menikmati apapun yang diinginkannya. Jac belum pernah merasakan ingin yang luar biasa pada seorang wanita.
Jac memutar badan, menyandarkan badannya ke dinding jacusi dan mendudukan Via rapat padanya. Wajah Via memerah sedang mengatur nafas yang memburu. Dengam bibir bengkak sedikit terbuka akibat ciumannya tadi. Tetesan air menghiasi dahi Via. Dan pemandangan di depannya, sangat sensual menurut Jac.
Setelah dirasa Via mulai bisa mengatur nafas, Jac melempar senyum nakalnya yang bisa ditangkap oleh Via. Dan tanpa menunggu Jac sudah memposisikan Via untuk dimasuki. Dalam sekali hentakan keras Jac menyatukan yang dibawah. Via memekik dan langsung dibungkam oleh ciuman. Agak kasar memang karena bahkan untuk kesekian kalinya Jac merasa seperti memasuki gadis perawan lagi. Dan keduanya kembali terbuai, hanyut dalam gulungan ombak.