Hi Mr !

Hi Mr !
Kembali



Via pov


Siang itu juga aku dibawa ke hotel. Aku masuk ke sebuah kamar untuk berganti baju sesuai instruksi dari seorang pria yang memperkenal dirinya dengan nama Ken. Sambil berganti baju, pikiranku berkelana pada kejadian beberapa jam yang lalu.


Flashback on


Paman Scout bersimpuh di kakiku. Memohon dengan sangat agar aku melakukan apa yang diperintahkan pria kejam itu. Aku benar-benar tidak tega. Melihat Paman Scout dan Kiki bergantian. Akhirnya aku luluh. Bagaimanapun aku hutang budi pada Kiki dan keluarganya. Dengan langkah lemah dan wajah tertunduk aku mendekati Pria kejam yang semalam mencekikku. "Kumohon tuan. Lepaskan Paman Scout dan Kiki. Aku bersedia memenuhi semua permintaan anda, tuan" ucapku mencoba menyembunyikan getaran dalam nada suaraku.


Pria itu tidak menjawab. Hanya berbalik badan dan menjentikan jarinya seperti memberi kode. Dan laki-laki disampingnya langsung memberi instruksi kepada para bodyguard, "antar mereka kembali ke rumah. Siapkan dengan baik". Pria-pria bersragam hitam itu menunduk paham dan segera bergerak.


"Mari nona ikuti saya"


Akupun hanya menurut.


Flashback off


Suara ketukan menyadarkanku. Segera kurapikan penampilanku. Dress selutut berwarna baby pink dan sepatu senada membuat penampilanku lebih fresh tapi elegan.


Kubuka pintu untuk masuk ke pintu yang kumasuki semalam. Kembali ke kamar ini. Kamar si kembar. Tepat saat langkahku sempurna masuk di ruang tamu, suara nyaring diikuti larian menabraku, "Ibuu... !" teriak Jill memeluk kakiku. Dibelakangnya Jo ikut mendekat.


Aku yang terpana menyetarakan tinggiku dengan Jill dan membalas pelukannya. Kukode Jo agar ikut mendekat. Dan dengan wajah berbinar Jo ikut memeluk ku dan Jill.


Pria kejam itu berdiri dengan tangan bersilang di dadanya di belakang Jill dan Jo, menatapku dengan tatapan yang sulit ditebak. "Ibu, aku lapar", rengek Jill padaku tanpa melepas pelukannya.


"Ayo makan", bujuku sambil melepaskan pelukan si kembar. Tapi Jill tidak mau melepas pelukannya. Walhasil aku menggendong Jill mendekat ke arah meja makan. Jo mengekor dan langsung duduk di kursinya. Kubalikan piring Jo dan menata makanan di piring Jo kemudian mengisi piringku dan duduk memangku Jill. "Ayo dimakan sayang", ucapku lembut pada Jo.


"Suapi buu..", rengek Jill.


"Baiklah", ucapku pasrah. "Sekalian ibu suapi Jo", tawarku pada Jo. Tidak ingin keduanya merasa tidak adil.


Jo mengangguk tersenyum senang.


Dengan telaten kutata makanan disendok dan kusuapkan pada Jill dan Jo. Kulirik dengan ekor mataku, pria kejam itu mengawasiku lekat-lekat. Kenapa tatapannya begitu sekali. Memang apa yang akan kulakukan pada si kembar yang sangat lucu dan menggemaskan ini. batinku


Jill mereguk jusnya dengan rakus. Begitu juga dengan Jo. "Sudah minum obat ?" tanyaku sembari memeriksa kening Jill dan Jo bergantian. Dan kurasa Jo sudah baikan tapi Jill masih sedikit hangat. Jill menggeleng.


"Baiklah, sekarang waktunya minum obat lalu istirahat. Jo juga istirahatnya menemani Jill", ucapku sambil menggendong Jill menuju ranjang. Jo kembali mengekor.


Kuminumkan obat pada Jill dan vitamin pada Jo. Menata bantal mereka lalu menyelimutinya. "Tidurlah sayang", kuusap puncak kepala Jill.


"Ibu jangan pernah pergi lagi", ujar Jill mengacungkan jari kelingkingnya. Aku ragu. Bagaimanapun yang namanya janji harus ditepati meskipun pada anak kecil. Tapi aku juga takut pada si pria kejam itu.


Kutolehkan kepala pada pria yang masih setia mengawasiku. Dan ia mengangguk agar aku segera mengikat jariku pada jari putrinya. Agak ragu tapi aku tersenyum agar Jill lekas beristirahat.