Hi Mr !

Hi Mr !
Menyelinap



Jacob gelisah diatas tempat tidurnya. Matanya tak mau terpejam. Jac menelentangkan badannya, pikirannya sedang menerawang.


Kilas kejadian kedatangan Via diputar balik. Cekikan, Scout, dan berakhir dengan ciuman tadi sore. Jac bingung dengan apa yang dirasakannya saat ini. Jac mengalami debaran aneh yang semakin menguat saat ciumannya berlangsung. Jac mengenang kembali Anne tapi bayangan Via langsung menerobos seolah menendang jauh kenangan Anne. Jac terduduk, mengacak rambutnya sendiri dan frustasi.


Selintas pikiran, membuat Jac turun dari ranjang dan berjingkat turun ke lantai 2, sengaja lewat tangga agar tidak mengeluarkan suara. Pintu bermain Jo dan Jill tidak terkunci. Jac mulus masuk, bertambah girang karena pintu kamar Via malah terbuka sedikit. Menampakan si empunya sedang lelap tertidur.


Jacob mendekati ranjang itu. Dengan gerakan perlahan Jac menyelipkan tubuh besarnya dibawah selimut Via. Jac berbaring miring menatap wajah Via. Sinar rembulan yang masuk dari jendela di belakang Via, kian membuat wajah cantik itu damai. Via memang tidak menutup tirai jendelanya. Begitu Jac menatap bibir Via, hasratnya mulai muncul. Lengannya merangsek untuk memepetkan diri ke badan gadis di depannya.


Lamat-lamat Via tersadar karena merasa pinggulnya tertarik dan merasa ada deru nafas menyerbu wajahnya. Via kaget langsung berusaha berontak.


Jac yang sadar Via terbangun langsung meringkus kedua tangan Via kebelakang dengan satu tangan. "Diamlah sayang, ini aku, Jac", ucap Jac disela-sela lumatannya.


Via tidak bisa berkutik. Semakin tangannya bergerak tekanan tangan Jac membuat lengan Via semakin sakit. Pikirannya menolak. Takut Jac berbuat macam-macam. Tapi respon badannya malah mengkhianati pikirannya.


Via yang dilanda emosi yang baru dirasakannya sekarang menggeliat dalam dekapan Jac. "Aah..", lagi-lagi Via mendesah.


"Suaramu sangat seksi sayang", goda Jac. Bibirnya mulai turun ke dada Via yang terbuka. Jac benar-benar membatik leher Via. Tidak ada area kosong yang luput dari tanda kepemilikan Jac.


Kewarasan Jac kembali saat tangannya mulai merayap ke paha Via. Jac langsung menghentikan aksinya. Tangannya mendekap erat Via. Wajahnya terbenam di dada Via. "Tidurlah sayang. Jangan bergerak. Agar Juniorku tidak bangkit", ucap Jac dengan suara menghilang.


Via menegang. Badannya merasa bergidik. Baru saja ia mengalami kisah kedewasaan yang pertama baginya. Dalam satu hari, Via dicium dan disentuh oleh satu pria, yaitu Mr. Jacob.


Mata Via melebar sempurna menyadari bahwa tadi ia ikut menikmati aksi Jac. Via menunduk merasakan hembusan nafas teratur menghangatkan dadanya. Jantungnya berdetak kencang. Ini kedua kalinya Mr. Jac menenggelamkan wajahnya di dada. Namun di kali pertama Via masih memakai penahan. Tapi kali ini karena tidur Via tidak memakai sehingga nafas Mr. Jac langsung terasa di permukaan kulit gunungnya.


Via sudah akan bergerak ketika kalimat terakhir Mr. Jac terulang di otaknya. Jangan bergerak agar juniorku tidak bangkit. Akhirnya Via memilih diam. Mengatur nafas dan mulai memejamkan matanya meskipun sulit.