
Sesampainya di ruangan, bukannya Jac melepas jas seperti biasanya, malah duduk di sofa. Membuat langkah Via ke sofa terhenti.
"Kenapa berhenti ? Ayo kemari !"
Dengan langkah sepelan mungkin Via mendekat. Via memutar untuk duduk di sofa lain yang tidak diduduki Mr. Jac. Dan mata Mr. Jac mengikuti seluruh gerakan Via. Begitu Via mendaratkan bokongnya, saat itu juga Mr. Jac sudah berpindah duduk tepat disamping Via. Membuat Via memekik karena kaget.
Lengan besar itu segera menahan pinggang Via. "Diamlah. Ini hanya pemeriksaan", ucap Mr. Jac dengan nada mendominasi. Tangannya meraih kerah sweater dan menurunkannya. "Sempurna !" seru Mr. Jac seakan puas.
Via langsung menaikan kerah sweaternya, menahan tangannya dileher dengan ekspresi wajah cemberut.
Mr. Jac melihatnya malah jadi gemas. Entah darimana dirinya menilai tingkah Via menggoda dirinya. Tangan Mr. Jac terulur untuk menyelipkan rambut Via ke belakang telinga. "Itu adalah tanda kepemilikanku. Jangan sampai ada pria lain yang menyentuhmu. Ingat itu Via", nadanya lembut tapi mengancam di akhir kalimat. "Teruskan buku bacaanmu kemarin. Kau harus lebih pandai lagi", ucap Mr. Jac seraya mengelus puncak kepala Via.
Via jadi sebal sendiri. Apanya yang pemeriksaan ?! Dasar Mr. Jerk !, umpat Via sengaja mengganti ejaan nama Mr. Jac.
Satu jam kemudian Mr. Jac keluar bersama Ken. Via bisa bernafas lega karena sedari tadi meskipun mata Mr. Jac fokus pada laptop dan dokumen, Via sadar bahwa Mr. Jac mengawasi seluruh gerak geriknya. Pergi sana ! Hush hush hush !, riang Via dalam hati.
Empat jam berlalu, sudah pukul 1 p.m. dan Mr. Jac belum kembali. Sedangkan perut Via sudah berdemo karena tadi pagi tidak sempat sarapan. Ragu Via keluar ruangan. Tapi perutnya minta diisi. Via membuka lemari pendingin yang ada di ruangan Mr. Jac dan isinya hanya air mineral. Lalu Via ingat pantry dimana Via kemarin, Via berpikir minimal ada mi instan atau makanan lain yang bisa Via makan untuk mengganjal perut.
Via mengintip terlebih dahulu lewat tirai. Dan diluar tidak ada orang. Mungkin Mr. Jac keluar bersama Ken dan sekretaris perempuannya.
Via langsung melesat ke pantry kemarin. Dan Via harus puas saat hanya menemukan minuman kemasan campuran susu dan oats. Akhirnya Via menyeduhnya dengan air panas. Saat mengaduk cangkirnya, Via tak sadar ada orang lain di belakangnya. Via menyelipkan rambutnya ke telinga, dan orang di belakang Via dapat melihat bekas-bekas percintaan di leher Via. Seketika orang itu geram.
"Dasar J***** !!", teriak Laura maju kedepan, menarik bahu Via dan menampar keras pipi Via sampai Via rubuh menghantam kursi yang ada di belakangnya. Pelipis Via membentur ujung kursi membuat Via tak bergerak. Melihat hal itu, Laura segera bergegas keluar, mengunci pintu pantry dan membuang kuncinya keluar jendela yang terbuka di ujung lorong.
Bodoh ! Harusnya aku langsung menanam gps ditubuhnya, rutuk Jac. "Cari Via".
Ken langsung meluncurkan perintah. Berkelompok-kelompok mereka menyusuri jalan, memeriksa rumah keluarga, ke terminal, bahkan memeriksa rekaman cctv jalan kota. Hasilnya nihil.
"Terakhir, seluruh cctv kota bersih Mr. Jac", lapor Ken.
Mr. Jac memijit pangkal hidungnya. "Periksa cctv kantor", ide itu terbesit di pikirannya.
Ken langsung mengakses seluruh rekaman cctv. Ada 2 rekaman yang memerlihatkan badan Via. Pertama saat Via celingukan di depan pintu ruangan Mr. Jac dan kedua saat Via berbelok menuju lorong pantry.
Langkah Mr. Jac dan Ken terburu menuju lorong pantry. Ketika melihat pintu pantry tertutup, Ken yang berada di depan mencoba menarik handel. "Terkunci Mr."
"Cari kuncinya cepat !"
Ken bergegas menghubungi bagian OB dan ternyata pintu itu hanya memiliki satu kunci. Mr. Jac yang sudah tidak sabar langsung mendobrak pintu itu dengan sekali tendangan. Semua yang berdiri disitu ternganga.
Jac menemukan Via tergeletak di sudut pantry dengan pelipis dan ujung bibir berdarah. Jac segera mengangkatnya keluar membawa Via pulang.
"Segera bereskan Ken"
Yang diperintah mengangguk.