
Via pov
Hari ini adalah hari sabtu, sesuai dengan penjelasan Pak Gim bahwa seluruh pelayan memiliki 2 hari libur dalam seminggu tapi tidak berurutan. Kecuali ada alasan mendesak. Dan untuk Via, dikarenakan tugas Via sebagai pengasuh twins, maka Via tidak memiliki hari libur. Pak Gim mohon maaf pada Via tentang hal itu. Sebagai gantinya, Via mendapatkan uang lembur 5 kali lipat dari gajinya di setiap hari libur. Dan apabila ada kebutuhan/keperluan yang bisa digantikan, maka Pak Gim akan melakukannya.
Sementara aku hanya tersenyum, "Tidak perlu Pak Gim. Terima kasih atas penjelasannya". Dan akupun pergi meninggalkan ruangan Pak Gim menuju twins yang sudah siap di meja makan untuk sarapan. Dan aku agak bingung melihat Mr. Jac tidak ikut sarapan.
"Bubu...suapin bu....", rengek Jill melihat kesempatan karena ayahnya tidak ikut sarapan pagi dan membuatku mau tak mau menuruti permintaan Jill.
"Jo juga ?" tawarku pada Jo dan Jo mengangguk.
Akhirnya secara bergantian aku menyuapi Jo dan Jill. Setelah selesai aku bergerak ke dapur untuk menyiapkan cemilan yang akan kuhidangkan nanti menjelang siang. Sementara Jo dan Jill sudah berlari ke kamar ayahnya.
***
Author pov
Baru saja Via kembali ke menutup pintu kamarnya untuk bergantj baju, suara ketukan beruntun membuat Via langsung menarik handel pintu dan kaget melihat wajah panik Jo dan Jill. "Bubu ! cepat Bu! Daddy bu!", histeris Jo dan Jill menarik tanganku ke arah lift. "Ta, tapi. Pak Gim", dan tarikan mendesak Jill dan Jo membuat Via pasrah.
Sementara Via sendiri kikuk memasuki kamar luas yang baru pertama kali dimasukinya itu. Kamar itu kira-kira luasnya 2 kali lipat kamar Jo dan Jill, sekilas pengamatan Via.
"Daddy sakit bu....", rengek Jill dengan matanya yang mulai berair.
Apalagi ini. Tolong jangan menangis Jill, doa Via dalam hati. "Emh, tenang ya sayang. Duduk disini dulu", bergantian Via menaikan Jill dan Jo duduk di area kosong disamping Mr. Jac berbaring.
Via melesat hendak menghampiri Pak Gim tapi teringat bahwa Pak Gim baru saja keluar saat mereka berpisah tadi pagi. Via jadi bingung karena juga tidak ada satupun pelayan yang biasanya hilir mudik di rumah utama. Akhirnya Via segera menyiapkan pertolongan pertama dan kembali ke kamar. Tidak tega membiarkan twins sendiri sedangkan ayahnya sedang sakit.
Via agak lega saat mendapati si kembar masih anteng disamping ayahnya, segera Via mematikan pendingin ruangan menyetelnya menjadi suhu hangat dan membuka semua jendela agar udara segar bisa masuk. Via berdoa dalam hati agar Mr. Jac tidak terbangun saat Via menarik selimut yang menutupi badan Mr. Jac.
Via ternganga melihat pemandangan di depannya. Mr. Jac tidur bertelanjang dada. Via menjerit tertahan dalam hati. Tapi segera Via tepiskan demi memberi pertolongan pertama pada Mr. Jac. Handuk yang sudah dibasahi air hangat segera ia usapkan ke area dahi, leher, dan dada Mr. Jac yang berkeringat. Setelah itu ada kaya putih yang ia usapkan merata ke area dada Mr. Jac. Otot-otot liat itu membuat Via merinding saat menyentuhnya. Cepat-cepat Via menyelesaikannya dan memakaikan kemeja yang sempat ia tarik dari lemari wall in closed tadi. Via tidak ingin matanya terus melongo selama merawat Mr. Jac.
Tangan Via dengan cekatan membungkus badan Mr. Jac dengan 2 selimut tebal. Via mengganti air hangat dalam wadah dan mengompres Mr. Jac. Setelah itu Via bergerak mencari obat di kotal P3K yang tersimpan di salah satu rak wall in closed.
Obat yang dicari ketemu. Via tidak tahu obat apa yang tepat. Tapi Via mengira-ngira hal pertama yang harus dilakukan adalah menurunkan suhu tubuh Mr. Jac.
"Jo dan Jill tolong jaga daddy dulu ya. Bubu akan membuat bubur terlebih dahulu dibawah. Nanti tolong diperiksa handuknya. Kalau sudah dingin celup lagi disini, diperas lalu taruh lagi di dahi ya. Tapi hati-hati ya karena airnya agak panas. Bubu tidak akan lama", pesan Via panjang lebar pada si kembar yang langsung disahuti anggukan.
Tak berselang lama, Via telah kembali dengan semangkuk bubur ayam dan segelas madu hangat.