
Tenang, damai... Itulah yang Yao He rasakan ketika melihat hutan dan padang rumput di hadapannya. Sungai yang mengalir dengan tenang di samping padang rumput membuat ketenangan semakin lengkap. Tak ada suara berisik apapun, bahkan gemericik air pun tidak ada. Hanya sesekali lesutan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajah dan rambutnya.
"Paman Yao..." Suara Yin Sheng mengembalikan kesadaran Yao He dari lamunannya.
Terlihat Yin Sheng datang bersama Xie Qinling dengan beberapa bekal makanan di tangannya.
"Ada apa kalian kesini?" Yao He sinis kepada kedua orang yang telah menolong mereka tersebut. Dirinya masih belum bisa menerima akan nasib yang dialaminya. Kehilangan kekuatan untuk seseorang seperti dirinya, adalah sebuah pukulan telak yang sangat menyakitkan. Bahkan dirinya sempat berpikir untuk mengakhiri kehidupannya saat ini.
"Apa Paman masih marah?" Yin Sheng duduk di samping Yao He. Diikuti Xie Qinling yang duduk agak menjauh, takut jika ada orang yang melihat dan terjadi salah persepsi.
"Marah? Untuk apa aku marah?" Yao He tidak menatap Yin Sheng yang kini ada di sampingnya. Dirinya menatap sungai di hadapannya. Mengambil sebuah batu kecil dan melemparkannya sekuat tenaga ke arah sungai.
"Kalau begitu mari kita makan dulu... Ibu sudah memasak banyak untuk kita." Yin Sheng membuka bekal makanan dan mulai menata di piring.
"Ini paman... Makan di tempat ini pasti bisa menenangkan pikiran..." Yin Sheng mengulurkan sepiring makanan pada Yao He.
Prang...
Piring yang Yin Sheng berikan ditepis oleh Yao He. Makanan berceceran di atas rumput hingga tidak mungkin untuk bisa di makan lagi.
Xie Qinling terkejut melihat perlakuan Yao He. Namun yang lebih terkejut tentu Yin Sheng, belum pernah sekalipun dirinya mendapat perlakuan begitu kasar dari orang lain seperti ini. Yin Sheng pun berlari untuk pulang.
Melihat anak semata wayangnya begitu terluka mentalnya, emosi Xie Qinling terpancing.
"Apa yang kamu lakukan? Apa kamu tidak bisa bersikap sedikit sopan pada orang yang telah menolongmu?" Xie Qinling menendang punggung Yao He dari belakang, membuat Yao He harus tersungkur ke atas rumput.
"Aku tidak butuh kalian! Untuk apa kalian menolongku?" Yao He berdiri dan menatap Xie Qinling dengan penuh emosi. Tidak terima di tendang begitu saja dari belakang.
"Apa? Dasar laki-laki tidak tahu terima kasih. Lebih baik kamu mati saja tenggelam di dasar sungai."
"Aku juga tidak meminta ditolong. Ank itu saja yang berlagak sok dengan menolongku."
"Yin Sheng... Anak itu Yin Sheng namanya... Dan dia adalah anak yang menolongmu." Xie Qinling merasa percuma berdebat dengan Yao He. Dirinya lebih memilih mengejar Yin Sheng.
"Dengar satu hal... Kami tidak butuh terima kasih darimu karena telah menolongmu. Tapi paling tidak jangan luapkan emosimu karena telah kehilangan kekuatanmu. Dasar dantian cacat!" Xie Qinling merasa perlu memberikan sedikit umpatan pada Yao He. Yao He telah memberikan luka hati pada Yin Sheng, sudah sewajarnya dirinya juga memberikan satu, dua hinaan pada Yao He.
"Dantian cacat katamu?" Yao He merasa tersulut emosi mendengar umpatan dari Xie Qinling. Dirinya mengumpulkan seluruh qi yang bisa dirinya kumpulkan ke tangannya, dan memberikan sebuah pukulan cepat ke arah Xie Qinling.
Trang...
Yao He terkejut bukan main melihat Xie Qinling menangkis pukulan penuh qi dari dirinya dengan sebuah pedang. Pedang bergagang emas dengan sebuah kepala elang di ujungnya. Yao menatap ke arah cincin yang dipakai Xie Qinling di tangan kanannya. Dan Yao He yakin jika cincin yang Xie Qinling gunakan adalah Cincin Dimensi.
Yao He melancarkan beberapa pukulan, namun Xie Qinling berhasil menangkis semuanya. Bahkan Xie Qinling berhasil mendaratkan sebuah tendangan ke perut Yao He. Membuat Yao He tersungkur sekali lagi ke atas rumput.
"Kau... Siapa kau sebenarnya? Kau bukanlah orang sembarangan!" Yao He terperangah. Wanita di hadapannya tidak menggunakan qi sama sekali dalam pertarungan singkat tadi. Semua yang dirinya lakukan adalah murni tekhnik berpedang. Seseorang dengan tekhnik berpedang seperti itu pasti bukanlah orang sembarangan.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku. Tapi aku peringatkan, jika kamu melukai hati anakku sekali lagi. Maka aku pastikan kamu akan sangat menikmati yang namanya kematian." Ancam Xie Qinling sembari berlari mengejar anaknya. Pedang bergagang emas juga kembali dirinya simpan di Cincin Dimensi miliknya.
Yao He hanya bisa memandang punggung Xie Qinling yang berlari mengejar Yin Sheng.
"Sheng'er..." Xie Qinling menatap heran anaknya yang tengah duduk termenung di salah satu kursi yang ada di bawah pohon oak.
"Apa Paman itu salah satunya?" Balas Yin Sheng sembari menatap ke arah Ibu tersayangnya.
"Entahlah..."Xie Qinling menjeda sebentar kalimatnya. "Kita tidak bisa menilai watak seseorang hanya dengan satu perilakunya saja. Ada kalanya seseorang akan meluapkan semua emosinya ketika merasakan suatu kekecewaan."
"Aku tahu kamu begitu tertarik pada Yao He karena dia berasal dari luar desa." Xie Qinling memegang pundak anak laki-lakinya.
"Bagaimana Ibu bisa tahu?" Yin Sheng memandang Ibunya dengan penuh tanda tanya.
"Aku sudah menjadi Ibumu seumur hidupmu. Apa yang aku tidak tahu tentangmu?" Xie Qinling mencubit hidung Yin Sheng, yang diikuti oleh teriakan kekesalan Yin Sheng karena merasa diperlakukan seperti anak kecil.
"Kalau kamu penasaran dengan seperti apa kehidupan di luar desa, kamu bisa bertanya pada Ibu. Ibu bisa menceritakannya untukmu."
"Apakah Ibu juga pernah keluar desa?"
"Tidak... Hanya sering mendengar cerita dari Ayahmu..." Bohong Xie Qinling.
"Lalu seperti apa bu kehidupan disana?"
"Hemm... Seperti..."
###
Malam akhirnya datang menyambut, mentari yang tengah gagah perkasa menyinari sepanjang hari meski tergantikan perannya oleh bintang dan bulan. Yao He menapaki jalan setapak untuk menuju satu rumah di pinggir desa.
Ya... Rumah itu tidak lain adalah rumah Yin Sheng beserta Ibunya. Langkah Yao He terhenti di depan pintu rumah. Dirinya merasa ragu untuk mengetuk pintu. Namun kondisinya saat ini sangat tidak memungkinkan bagi dirinya untuk pergi keluar desa menuju ke kota terdekat.
Thok... Thok...
Yao He memberanikan diri mengetuk pintu satu-satunya rumah yang mungkin akan menerima dan mau membantu dirinya.
"Paman Yao He..." Sapa Yin Sheng yang barusaja membukakan pintu. Nampak Yin Sheng begitu senang melihat Yao He yang kembali ke rumahnya.
"Ehm... Ini... A... Aku..."
"Masuklah... Kita baru akan makan malam..."
"Tidak usah..." Tolak Yao He... "Boleh aku tetap tinggal di gubuk belakang?" Tanya Yao He sedikit ragu.
"Tentu Paman... Paman boleh pakai gubuk itu sesuka Paman. Nanti aku antarkan makan malam untuk paman." Balas Yin Sheng, sementara Xie Qinling yang berada di dalam rumah hanya memandang Yao He dengan tajam.
"Terima kasih Yin Sheng..." Ucap Yao he sembari melangkahkan kaki ke gubuk belakang rumah. "Yin Sheng..." Panggil Yao He sekali lagi Sembari berbalik badan.
"Ya Paman?"
"Maafkan perilakuku tadi siang... Aku sedang tersulut emosi?"
Yin Sheng hanya tersenyum menanggapi permintaan maaf Yao He. Benar kata Ibunya, kita tidak bisa menilai seseorang hanya dengan satu perilaku saja.