Heaven Road

Heaven Road
4. Membuka Pintu Takdir 4



"Jadi semua bermula ketika malam purnama itu?" Tanya Yin Sheng yang baru saja mendengarkan penjelasan Du Xing.


"Benar tuan Yin... Banyak hewan ternak kami yang mati pada malam itu. Salah seorang warga sempat melihat ada siluman berwujud ular keluar dari desa."


"Siluman berwujud ular?" Yin Sheng mengerutkan dahi. Siluman adalah suatu hal mitos yang berkembang di masyarakat awam. Yin Sheng bisa menebak jika siluman yang dimaksud adalah Spirit Beast yang pernah Yin Sheng lihat malam itu.


Namun hubungan antara Spirit Beast dan wabah di desa masih menjadi misteri bagi Yin Sheng. Dirinya harus memastikan semua hal sebelum bertindak lebih jauh.


"Apakah Tuan Yin Mengetahui sesuatu tentang siluman ini?" Tanya Du Xing yang merasa heran dengan reaksi Yin Sheng.


"Tidak... Maaf Tuan Du... Saya akan istirahat. Besok pagi masih banyak hal yang mesti saya kerjakan."


"Baik Tuan Yin... Terima kasih banyak telah membantu kami hari ini." Du Xing tentu tidak ingin memaksa Yin Sheng untuk menceritakan lebih jauh tentang siluman. Lagipula akan sangat merugikan warga desa jika sampai Yin Sheng tersinggung dan meninggalkan desa sebelum menyembuhkan penyakit warga.


Yin Sheng pun melanjutkan meditasinya sampai pagi. Dirinya selalu teringat pesan gurunya jika dunia Kultivator begitu kejam. Oleh sebab itu dirinya harus benar-benar memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin agar bisa menjadi lebih kuat dari saat ini.


Keesokan paginya Yin Sheng bersama Kepala Desa Du Xing berkeliling ke rumah warga. Kali ini Yin Sheng memang sengaja mendatangi para warga untuk merawat mereka. Selain memudahkan warga, Yin Sheng juga ingin memastikan penyebab dari munculnya wabah tersebut.


"Tuan Du... Dari mana warga mendapatkan air untuk di konsumsi?" Tanya Yin Sheng di sela-sela perjalanan mereka.


"Warga menggunakan air sungai yang kita alirkan ke rumah-rumah warga."


"Hem... Begitu..." Yin Sheng memasang wajah berpikir.


"Apakah Tuan Yin curiga pada air yang kita gunakan sebagai penyebab wabah ini?" Kepala Desa Du Xing mencoba menerka jalan pikiran Yin Sheng.


"Masih belum pasti mengenai hal itu." Yin Sheng tidak ingin mengundang masalah lain untuk warga desa. Mengatakan pada warga jika air mereka bermasalah tentu membuat warga akan berpikir ulang untuk mengkonsumsi air yang ada. Padahal air adalah kebutuhan utama untuk kehidupan suatu desa. Warga desa tentu akan mencari sumber air lainnya untuk mereka konsumsi. Dan mencari sumber air adalah suatu hal yang cukup menguras waktu dan tenaga.


Hari kedua perawatan para warga tidaklah seberat hari pertama bagi Yin Sheng. Di hari kedua dirinya hanya sesekali mengeluarkan zat aneh di dalam tubuh warga. Sebagian besar warga sudah terlihat segar meskipun masih ada bintik-bintik bernanah.


"Terima kasih banyak Tuan Yin untuk bantuan Tuan Yin hari ini..." Kepala desa Du Xing mengucapkan memberi salam perpisahan kepada Yin Sheng di depan kamar yang ditempati Yin Sheng. Meskipun tidak terlalu berat, memeriksa lebih dari setengah warga desa tetap menghabiskan waktu sampai malam.


"Senang bisa membantu Tuan Du... Maaf... Saya permisi istirahat." Yin Sheng masuk ke dalam kamarnya tanpa menunggu balasan dari Du Xing.


Yin Sheng melakukan meditasi untuk mengumpulkan Qi miliknya hingga penuh. Setelah semua Qi miliknya terkumpul, dirinya keluar dari kamar melalui jendela kamar. Dirinya berencana untuk memastikan kebenaran asal muasal wabah penyakit yang ada di desa. Jika dirinya tidak menemukan penyebab wabah, maka semua tindakan dirinya selama dua hari ini hanya akan menjadi sia-sia belaka.


Yin Sheng berlari tanpa suara ke arah sungai. Dirinya menggunakan ilmu meringankan tubuh yang terdapat di dalam teknik berpedang milik ibunya. Dari beberapa ilmu berpedang yang Yin Sheng pelajari, ilmu meringankan tubuh dari Seven Art of Kill adalah yang terbaik.


Seven Art of Kill adalah teknik pedang tingkat tinggi yang ditujukan untuk membunuh musuh dalam waktu yang relatif singkat. Oleh karena itu, pada bagian pertama Seven Art of Kill sangat memfokuskan pada ilmu meringankan tubuh. Teknik Seven Art of Kill


bisa digunakan tanpa menggunakan Qi, tapi keefektifan teknik tersebut akan meningkat jika Qi turut serta digunakan.


Yin Sheng tentu tidak ingin membuang Qi miliknya dengan percuma, setiap Qi miliknya begitu berarti nantinya. Dirinya belum tahu bahaya apa yang akan menanti di depannya.


Tepat tengah malam Yin Sheng sampai di tempat dirinya beristirahat. Seperti yang dirinya duga, seekor Spirit Beast tengah berendam di dalam sungai. Spirit Beast tersebut diam tanpa melakukan apapun. Yin Sheng pun menduga jika Spirit Beast tersebut tengah bermeditasi di bawah sinar rembulan.


Beberapa potong kulit ular Yin Sheng temukan mengambang di permukaan sungai. Dengan kail pancingnya, Yin Sheng mengambil salah satu potongan kulit tersebut.


"Ini..." Yin Sheng segera paham dengan masalah sebenarnya. Kulit Spirit Beast berbentuk ular tersebut mengandung racun yang sangat berbahaya. Bahkan seorang Kultivator alam Raja akan langsung lumpuh jika terkena racun dari kulit ular tersebut.


"Jadi ini penyebabnya." Yin Sheng bisa menarik kesimpulan. Racun dari kulit ular tersebut terlarut dalam air. Karena kandungan racun yang tinggal sedikit, efek yang terjadi pun menjadi semakin sedikit.


"Pantas banyak warga yang terkena racun." Mengkonsumsi air beracun dalam jangka waktu yang tidak sebentar tentu akan menimbulkan efek yang tidak baik untuk tubuh manusia biasa.


"Sepertinya tidak ada pilihan lain..." Yin Sheng berjalan ke arah perginya Spirit Beast tersebut. Spirit Beast tersebut meninggalkan racun di sepanjang jalan. Yin Sheng tentu bisa dengan mudah menemukan jejak racun tersebut dengan mata Azhura miliknya.


Jejak Spirit Beast sampai pada sebuah tebing bebatuan. Di tebing tersebut banyak terdapat lubang-lubang yang terbentuk secara alami. Yin Sheng juga tidak ceroboh dengan memasuki salah satu lubang, meskipun dirinya tahu di lubang mana Spirit Beast tersebut bersembunyi.


Asap...


Asap menjadi pilihan Yin Sheng untuk memancing Spirit Beast tersebut keluar dari lubang persembunyiannya.


Slash...


Slash...


Yin Sheng menebang beberapa dahan pohon, membawanya ke depan lubang tempat persembunyian Spirit Beast.


Blash...


Dengan sebuah kertas talisman kecil, Yin Sheng mengeluarkan sebuah bola api yang langsung membakar dahan pohon. Daun yang masih segar membuat asap yang sangat banyak ketika dibakar. Tebing bebatuan bahkan sampai tidak terlihat lagi karena kepulan asap yang begitu tebal.


Tidak Yin Sheng duga, di dalam bebatuan tersebut tidak hanya digunakan sebagai persembunyian Spirit Beast ular. Ular-ular beracun juga menggunakan tebing tersebut sebagai tempat tinggal mereka. Kepulan asap membuat ratusan ular keluar dari lubang untuk mencari udara segar.


Yin Sheng pun memilih menjauh, tidak ingin menjadi korban kemarahan ratusan ular beracun.


Gerrr....


Gerrr...


Bebatuan yang runtuh terdengar dari tempat Yin Sheng berada. Sekelebat bayangan hitam terlihat melompat dari tebing menuju keluar asap.


"Itu dia..." Yin Sheng langsung bisa melihat sesosok Spirit Beast berbentuk ular dengan tubuh manusia yang berjenis kelamin wanita.


Cantik... Itu yang bisa Yin Sheng deskripsikan setelah melihat wajah Spirit Beast tersebut. Spirit Beast tersebut memakai sebuah penutup dada berwarna kuning keemasan. Rambut ungu miliknya senada dengan kulit wajah putihnya. Mata indah dengan irish mata berwarna sama dengan rambutnya menambah kesan kecantikan dari Spirit Beast tersebut. Sayangnya, sisik bagian bawah tubuh Spirit Beast tersebut terlihat tidak baik-baik saja.


Separuh sisik berwarna hitam kebiruan, dan sebagiannya lagi berwarna putih ke abu-abuan. Yin Sheng bisa menebak, jika sisik putih tersebut adalah sisik lamanya, sedangkan sisik hitam adalah sisik barunya. Dengan artian, Spirit Beast tersebut sedang menjalani pergantian sisik.


"Siapa kau? Aku sudah membiarkanmu selama di sungai. Kenapa kamu mengikutiku sampai disini?" Tanya Spirit Beast tersebut yang menatap tajam pada Yin Sheng.