
Pemborosan... Itulah yang Yin Sheng katakan ketika pertama kali melihat dekorasi pesta di kediaman Walikota. Pernak-pernik hiasan liontin yang menyala, bunga-bunga segar yang didatangkan dari desa sekitar, belum lagi batu-batu yang bercahaya warna-warni yang Yin Sheng yakini terbuat dari stalakmit yang biasanya ada di gua-gua.
"Tuan Yin... Saya harap rencana anda bisa berhasil..." Walikota Dong Liu menyapa Yin Sheng yang baru saja keluar dari kamar yang disediakan untuk Yin Sheng dan Song Huang.
"Kita hanya berharap pelakunya mau datang. Jika tidak..." Yin Sheng tidak melanjutkan ucapannya, takut mengecewakan Walikota Dong Liu.
"Aku sudah mengirim undangan ke Keluarga Xue, semoga saja pelakuknya mau menampakkan diri."
Yin Sheng tidak menanggapi kata-kata Walikota Dong Liu, dirinya lebih memilih memikirkan apa yang harus dilakukan ketika pelaku tersebut muncul. Membunuhnya secara langsung atau menuduhnya di depan umum juga bukan suatu pilihan yang bijak. Satu-satunya jalan mungkin hanyalah dengan menculiknya secara diam-diam dan memaksanya mengaku.
Tapi menculik seorang Kultivator ranah Alam Ksatria tentu juga tidak mudah. Meskipun Yin Sheng memiliki mata Azhura dan keahlian dalam bidang racun, dirinya tidak mau jumawa dengan menghadapi Kultivator ranah Alam Ksatria satu lawan satu. Satu-satunya pilihan Yin Sheng adalah mengandalkan bantuan Song Huang, karena Chang Ming tentu akan lebih disibukkan dalam melindungi Walikota Dong Liu.
"Aku harap Senior Huang bersedia mengulurkan tangannya malam ini." Ucap Yin Sheng yang kini tengah menatap para tamu undangan yang sudah mulai datang dari lantai dua.
"Saudara Yin jangan terlalu sungkan, selama aku bisa membantu pasti aku akan membantu Saudara Yin." Jawab Song Huang. Meskipun sebenarnya Song Huang memiliki sebuah rasa pamrih dalam membantu Yin Sheng. Walikota Dong Liu adalah orang kaya, dirinya dan Yin Sheng pasti akan mendapatkan imbalan yang besar jika berhasil menangkap sang pelaku.
Kereta kuda mulai berdatangan satu persatu, acara pesta yang diadakan oleh Walikota tidak hanya digunakan sebagai perayaan atas kesehatan Putri Walikota. Namun acara tersebut juga digunakan sebagai ajang pamer oleh keluarga-keluarga terpandang yang ada di Kota Bintang timur. Tidak sedikit tamu undangan yang dengan sombongnya memamerkan kereta kuda mewah dengan beberapa pengawal, meskipun jarak yang mereka tempuh tidaklah jauh.
"Sepertinya Tuan Dong Liu tidak hanya mengundang keluarga penting." Diantara para rombongan yang datang Yin Sheng bisa melihat para Kultivator. Dari energi yang terdapat di dalam tubuhnya, Yin Sheng bisa mengetahui jika tingkat Kultivasi yang dimiliki berada di ranah Alam ksatria dan di atasnya.
"Ada beberapa sekte yang mendiami sekitar wilayah Kota Bintang Timur. Meskipun sekte-sekte tersebut tidak terlalu besar, namun ketua sekte mereka juga tergolong orang-orang yang kuat." Jawab Song Huang yang sedikit tahu tentang siapa saja yang telah datang.
"Apa Saudara Yin sudah menemukan orangnya?" Lanjut Song Huang.
Yin Sheng tidak menjawab pertanyaan Song Huang dan hanya menggelengkan kepala, dirinya tetap memfokuskan diri mencari keberadaan pelaku dari tempatnya berdiri.
"Keluarga Xue dan rombongan datang..." Teriak penjaga gerbang pintu masuk. Sebuah kereta kuda mewah dengan tujuh orang pengawal berkuda nampak berhenti di depan pintu masuk. Dari dalam kereta termewah dari yang ada, keluar dua orang berpakaian elegan. Satu pria nampak berumur lima puluh tahun yang tidak lain Xue Lian, satu lagi pria dua puluhan tahun yaitu Xue Bohai.
Kedatangan kedua pria tersebut langsung mendapat sambutan dari Walikota dan para tamu undangan yang datang. Keluarga Xue adalah keluarga terbesar dan tersohor di Kota Bintang Timur, jadi wajar jika kedatangannya akan mengundang perhatian.
"Walikota Dong Liu... Selamat atas kesembuhan putri Anda... Ini ada Ginseng air berumur seratus tahun, semoga Ginseng air ini bisa membuat Putri Anda semakin sehat." Xue Lian menyerahkan sebuah kotak kayu berisi Ginseng air. Semua tamu undangan langsung terkesima dengan hadiah yang diberikan oleh Xue Lian.
Ginseng air berumur ratusan tahun sangatlah langka. Tidak ada orang yang mau menjual tanaman herbal berumur ratusan tahun seperti itu. Jika pun ada yang menjual, tentu harganya akan setinggi langit. Melihat barang seperti itu dijadikan hadiah oleh Keluarga Xue, tentu semua tamu undangan berpikir seberapa kayanya Keluarga Xue tersebut.
"Senior..." Yin Sheng yang melihat Xue Bohai langsung memberi tanda kepada Song Huang yang ada di sisinya. Yin Sheng tidak menunjuk, tapi mengarahkan kepalanya ke arah Xue Bohai.
"Itukah?" Tanya Song Huang yang kemudian di ikuti dengan anggukan kepala dari Yin Sheng.
"Kita awasi terlebih dahulu... Jika memungkinkan kita culik dia di tengah-tengah acara. Jika tidak mungkin kita harus menculiknya di jalan ketika dia pulang." Jelas Song Huang.
"Walikota Dong Liu, kenapa Putri Anda belum keluar juga?" Xue Bohai yang sedari tadi mencari keberadaan Putri Walikota akhirnya bertanya pada Tuan rumah.
"Ah... Mengenai itu... Putriku masih belum terlalu kuat untuk bergerak banyak, jadi dia memutuskan untuk tidak turun dari kamarnya. Aku harap Tuan Bohai tidak tersinggung dengan hal tersebut." Kata Walikota Dong Liu yang mencoba mencari alasan.
"Sayang sekali... Padahal aku punya hadiah khusus untuk Putri Anda..." Xue Bohai menampilkan wajah penuh kecewa, namun di dalam hatinya dipenuhi dengan kecurigaan.
Xue Bohai membawa boneka yang menjadi perantara dirinya dengan roh yang ada di dalam tubuh Putri Walikota. Xue Bohai pun sangat yakin, roh tersebut masih terhubung dengan boneka yang dirinya bawa. Xue Bohai hanya tidak yakin, roh tersebut masih di dalam tubuh Putri Walikota-atau sudah dipindahkan ke tubuh lain.
Dan untuk itulah dirinya mau datang ke tempat ini. Jika Putri Walikota masih terbaring tak sadarkan diri, maka dirinya akan melepaskan roh tersebut. Xue Bohai pun akan dianggap sebagai penyelamat Putri Walikota. Xue Bohai sangat yakin, hati Putri Walikota akan luluh dengan sendirinya dan mau menerima cintanya jika tahu Xie Bohai yang telah menyelamatkannya.
Salah satu pelayan datang kepada Walikota Dong Liu, membisikkan beberapa kata. Ekspresi wajah Walikota nampak berubah ketika mendengar bisikan pelayan. Antara bingung, sedih namun juga marah. Namun ekspresi tersebut hilang dengan sesaat, berganti dengan ketenangan yang kembali menguasai pikiran Walikota Dong Liu.
"Tuan Bohai... Sepertinya Anda beruntung, Putriku menyampaikan pesan jika dia ingin bertemu dengan Anda." Walikota Dong Liu menjelaskan.
"Benarkah?" Xue Bohai tidak sedikit pun curiga, dirinya malah merasa senang karena mendapatkan kesempatan yang dirinya cari.
"Tentu... Pelayan barusan menyampaikan pesan dari Putriku secara langsung." Bohong Walikota Dong Liu.
"Baiklah... Mari jangan buat Putri Dong Huian menunggu."
"Tolong antarkan Tuan Bohai ke kamar Huian..." Perintah Walikota kepada pelayan yang membawakan pesan.
"Maafkan aku karena tidak bisa menemani Tuan Bohai, banyak tamu yang harus aku temani malam ini..." Walikota Dong Liu menepuk pundak Xue Bohai.
"Tidak perlu dipikirkan Tuan Dong... Saya tahu betul rumitnya menjadi orang nomer satu di Kota ini."
"Terima kasih atas pengertian Tuan Bohai. Silahkan... Jangan sungkan..." Walikota Dong Liu mempersilahkan Xue Bohai dan dirinya kembali berbaur dengan tamu undangan lain.
Sementara Xue Bohai mengikuti pelayan yang akan mengantarnya ke kamar pujaan hatinya.
"Silahkan Tuan... Kamar Nona Huian ada di ujung lorong..." Pelayan mempersilahkan Xue Bohai untuk berjalan sendiri menyusuri lorong yang ada di lantai dua kediaman Walikota Dong Liu.
Seakan mendapat pengertian dari pelayan tersebut, Xue Bohai malah berpikir semua di kediaman ini mendukung rencananya malam ini.
"Surga benar-benar mencintaiku... Hahahaha..." Xue Bohai terkekeh pelan.
Namun senyuman dan tawa Xue Bohai menghilang ketika dirinya tengah berada di tengah-tengah lorong. Kabut tipis tiba-tiba mengelilingi dirinya. Kabut tersebut semakin tebal hanya dalam hitungan detik. Xue Bohai ingin berlari keluar dari lorong namun dirinya terlambat menyadari. Semua saraf di tubuhnya tidak mau bekerja menuruti pikirannya. Xue Bohai hanya bisa duduk terkulai di atas lantai. Berusaha berteriak meminta tolong namun tenggorokannya sekali pun tidak bisa dirinya gerakkan.