Heaven Road

Heaven Road
5. Kota Bintang Timur 5



Hou Wen, seorang pria dengan penampilan seperti seorang pria berumur lima puluhan tahun. Rambutnya telah beruban, jenggot di bawah mulutnya juga lebat namun tersisir rapi.


Namun dari segi bentuk tubuh dan gerakannya, pria berpenampilan lima puluhan tahun tersebut tidak akan kalah dengan seorang pemuda sekalipun.


Dari segi penampilan Hou Wen memang seperti itu. Namun dari segi umur, tidak ada yang tahu dirinya telah hidup berapa lama. Mungkin lebih dari dua ratus tahun pria tersebut telah hidup. Bahkan dirinya telah mengalami pergantian Raja Kerajaan Twinpillar Mountain lebih dari tiga kali.


Mata Hou Wen menatap tajam sebuah surat yang baru saja tiba di kediamannya. Sebuah senyuman terukir di bibir tuanya. Hou Wen melangkah mendekati jendela setelah membakar surat yang baru saja dirinya terima. Membuka pintu jendela, dan terbang ke arah timur dengan sangat cepat.


Kulivator ranah Alam Dewa seperti dirinya bisa terbang dengan sangat cepat. Hanya perlu waktu setengah hari bagi Hou Wen untuk bisa sampai di kota yang dirinya tuju, Kota Bintang Timur. Sebuah Kota yang berada paling timur dari Benua Kura-kura Raksasa.


Hou Wen mendarat dengan pelan di taman belakang gedung Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur. Seorang wanita cantik yang tidak lain adalah Tetua Mei Lin telah menunggu kedatangannya.


"Selamat datang Guru..." Tetua Mei Lin memberi sapa penuh hormat pada satu-satunya orang yang dirinya hormati selain kedua orang tuanya.


"Lin'er... Perasaanku saja atau kamu memang makin cantik?" Hou Wen mengelus kepala murid kesayangannya tersebut. Sudah bertahun-tahun dirinya tidak bertemu dengan murid kesayangannya satu ini.


"Guru..." Pipi Tetua Mei Lin menggembung dengan sendirinya, merah merona nampak mewarnai kanan kiri pipinya.


"Hahaha... Sikapmu masih seperti anak-anak. Pantas saja tidak ada laki-laki yang mau melamarmu." Hou Wen tertawa sembari mengejek murid kesayangannya.


"Semua laki-laki bukan tidak ada yang mau melamarku, tapi tidak berani untuk melamarku Guru!" Tetua Mei Lin merasa sindiran gurunya terlalu dalam.


"Kamu harus cepat mencari pasangan, jika tidak mau menjadi perawan seumur hidupmu!" Meski melihat Tetua Mei Lin kesal, Hou Wen tetap saja memberikan kata-kata yang cukup pedas. Itu semua dirinya lakukan untuk kebaikan Mei Lin sendiri.


"Aku belum tertarik menikah..." Tetua Mei Lin memalingkan wajahnya dari gurunya. "Menikah bagiku terlalu merepotkan."


"Hahaha...." Hou Wek tertawa sekali lagi. "Itu karena kamu belum merasakannya." Balas Hou Wen sembari berjalan masuk ke dalam ruangan Tetua Mei Lin.


Hou Wen mendudukkan diri di kursi yang biasa digunakan oleh Tetua Mei Lin untuk bekerja. Di luar dirinya boleh bercanda dengan Tetua Mei Lin, tapi begitu masuk ke dalam ruang kerja status dirinya sudah berubah dari guru menjadi Ketua Asosiasi Alchemist.


"Jadi?" Hanya satu kata yang keluar dari Hou Wen. Maksud dari katanya barusan juga sudah bisa langsung ditangkap oleh Mei Lin.


"Ini Guru... Eh Ketua..." Tetua Mei Lin salah berucap dan langsung mendapatkan lirikan yang tajam dari Hou Wen.


Hanya sebutir pil berwarna ungu yang Tetua Mei Lin berikan pada Hou Wen. Tapi pil tersebut bagaikan seekor kunang-kunang. Yang memancarkan sinarnya secara perlahan.


"Ini..." Hou Wen menghirup aroma pil tersebut. Dirinya adalah ahli diantara para ahli Alchemist, tentu menilai tingkat kemurnian pil bisa dirinya lakukan hanya dengan mencium aromanya.


"Tingkat kemurniannya memang belum terlalu murni. Tapi dilihat dari bentuknya, pil ini tidak hanya sebatas pil penguat roh biasa." Hou Wen sedikit menggambarkan tentang penilaiannya pada sebutir pil di tangannya.


"Saya juga beranggapan seperti itu. Itulah sebabnya aku langsung memberikan gelar Master Alchemist padanya." Tetua Mei Lin mengangguk setuju, dan sedikit memberikan penjelasan mengapa dirinya memberikan gelar Master Alchemist pada Yin Sheng.


Sebagai catatan, menjadi seorang Master Alchemist tidaklah mudah. Seorang Alchemist biasa harus memulai gelarnya dari Junior Alchemist. Setelah menghasilkan karya yang dianggap mumpuni, maka Alchemist tersebut bisa mengajukan untuk naik gelar menjadi seorang Alchemist.


Setelah mendapat gelar Alchemist dan mampu memberikan kontribusi yang layak, Alchemist tersebut bisa mengajukan untuk naik lagi menjadi seorang Senior Alchemist. Baru setelahnya ada gelar Master Alchemist dan yang paling tinggi adalah Grand Master Alchemist.


Keuntungan gelar yang didapat dari masing-masing gelar tentu berbeda. Seorang Junior Alchemist tentu tidak akan pernah bisa mendapatkan resep pil atau bahan obat tingkat tinggi dari Asosiasi Alchemist, entah apapun itu keadaanya. Namun seorang Master Alchemist bisa dengan mudah meminta bantuan pada Asosiasi Alchemist selama Master Alchemist tersebut mampu membayar biaya yang diperlukan.


"Aku tidak akan menyalahkanmu karena memberikan gelar Master Alchemist. Pil penguat roh adalah pil tingkat empat yang cukup sulit untuk dibuat bahkan oleh seorang Master Alchemist sekalipun. Melihat bocah itu bisa membuat pil ini dengan teknik itu, maka tidak salah lagi dia mungkin adalah murid Yao He." Hou Wen mengelus janggutnya sambil terus memandangi pil di tangannya. Meskipun dirinya bisa membuat pil semacam itu, tapi dirinya merasa penasaran dengan efek tambahan dari pil penguat roh di tangannya.


"Lalu bagaimana Ketua? Apa kita akan membiarkannya begitu saja? Bagaimanapun juga dia adalah murid Yao He." Tanya Tetua Mei Lin.


"Yao He sudah diincar oleh Kerajaan ini selama lebih dari enam tahun. Namun dia seakan telah hilang ditelan bumi. Dan jika memang bocah itu adalah murid Yao He, tentu ada maksud tersembunyi dari kemunculan bocah itu."


"Untuk sementara kita tidak boleh membeberkan informasi jika dia murid Yao He. Akan berbahaya bagi bocah itu jika sampai pihak Kerajaan tahu asal-usulnya. Aku yakin bocah itu akan berguna bagi Asosiasi Alchemist suatu saat nanti." Hou Wen berdiri dari kursi yang diduduki. "Aku mungkin akan membawa pil ini... Apa kamu keberatan?" Tanya Hou Wen ketika dirinya tengah berdiri di samping Tetua Mei Lin.


"Tentu tidak Ketua..." Balas Tetua Mei Lin dengan berat hati. Padahal dirinya sudah sangat berharap bisa mengkonsumsi pil penguat roh buatan Yin Sheng tersebut untuk dirinya sendiri.


Pil penguat roh memang tidak begitu berefek untuk Kultivator ranah Alam Raja ke bawah, tapi untuk Kultivator ranah Alam Dewa pil tersebut sangat berguna. Pil penguat roh akan memperkuat jiwa seseorang sehingga pikiran tidak mudah panik. Dimana untuk para Alchemist, pikiran yang tenang sangat diperlukan untuk mempermudah mereka melakukan penelitian atau mengontrol Qi di dalam tubuh ketika membuat sebuah pil.


"Apakah Ketua berencana menemuinya?" Tanya balik Tetua Mei Lin.


"Terlalu cepat untuk bertemu dengan dia sekarang. Sampaikan saja pesanku, aku menunggunya di ibukota. Aku yakin dia pasti membawa pesan dari Yao He untuk diriku." Jawab Hou Wen sembari melangkah keluar dari ruangan Tetua Mei Lin.


"Baik... Akan aku sampaikan padanya nanti." Jawab Tetua Mei Lin sebelum Hou Wen menghilang di depan ruang kerjanya. Hou Wen terbang ke barat, seakan-akan dirinya sedang mengejar matahari yang akan terbenam.


"Tetua Mei..." Salah seorang petugas Asosiasi Alchemist tiba-tiba datang dengan wajah yang sedikit panik."


"Ada apa? Kenapa dengan wajahmu?" Mei Lin memiliki firasat yang tidak baik dengan kemunculan petugas Asosiasi Alchemist yang berwajah seperti itu.


"Walikota datang kesini... Dia meminta bantuan kepada kita..." Petugas Asosiasi menjelaskan kedatangannya yang tiba-tiba dengan sedikit ragu. Dirinya tahu betul jika Tetua Mei Lin tidak menyukai hal-hal yang berbau dengan pemerintahan Kerajaan.


"Hah... Kenapa pihak-pihak Kerajaan itu selalu saja merepotkan kita." Balas Tetua Mei Lin dengan wajah kecut. Dengan langkah kaki yang malas, dirinya tetap pergi menemui Walikota yang sudah datang ke Asosiasi Alchemist secara pribadi. Akan sangat merepotkan jika Walikota menggunakan kekuasaannya di Kota Bintang Timur untuk menekan Asosiasi Alchemist. Oleh karena itu, Tetua Mei Lin tetap harus menemuinya.