
Di puncak air terjun berantai, Yin Sheng berdiri menatap ke arah bawah. Kepulan asap serta kobaran api bisa Yin Sheng lihat dari tempatnya berdiri. Yin Sheng tidak melompat atau pun langsung bergegas menuju ke bawah. Dirinya lebih memilih untuk mengamati terlebih dahulu kondisi yang sebenarnya terjadi.
Dengan kemampuan mata Azhura miliknya, Yin Sheng bisa melihat dengan jelas semua yang terjadi di atas tanah melalui mata kanannya. Walaupun dalam keadaan minim cahaya karena gelapnya malam Yin Sheng tetap bisa melihat dengan sangat jelas. Bahkan jika itu hanya seekor semut yang berjalan di atas tanah, selama Yin Sheng mengalirkan qi ke mata Azhura miliknya Yin Sheng akan bisa melihatnya dengan jelas apa yang terjadi di bawah tebing. Seakan-akan Yin Sheng memiliki teropong otomatis yang terpasang di mata kanannya.
Setelah mengamati beberapa saat akhirnya Yin Sheng bisa mengambil sedikit kesimpulan jika Sekte Air terjun berantai tengah di serang sekelompok orang berpakaian serba hitam. Namun Yin Sheng juga bukan seorang yang gegabah dengan langsung turun untuk membantu Sekte Air terjun berantai. Dirinya lebih memilih mengukur kekuatan yang dimiliki oleh pihak penyerang.
Bagaimanapun juga dirinya hanya seorang Kultivator ranah alam penempaan tahap sembilan. Menghadapi satu lawan satu ranah Alam Ksatria mungkin Yin Sheng masih bisa mengandalkan beberapa teknik serta racun yang dimilikinya. Namun dalam satu pertarungan skala besar seperti ini, dimana kekuatan lawan yang harus dihadapi terlalu banyak. Yin Sheng tentu tidak ingin berspekulasi terlalu banyak.
Yin Sheng tidak hanya mengamati kekuatan serta pergerakan musuh. Pergerakan dari Sekte Air terjun berantai juga tidak luput dari perhitungan Yin Sheng. Mengamati pergerakan teman dan lawan adalah satu hal yang paling utama dalam pertarungan. Dengan mengetahui arah serta tujuan pergerakan masing-masing pihak Yin Sheng akan bisa melakukan pergerakan yang efektif.
"Mereka cukup cepat dalam menyelamatkan wanita dan anak-anak..." Gumam Yin Sheng yang melihat pasukan pelindung Sekte Air terjun berantai memprioritaskan menyelamatkan yang lemah terlebih dahulu. Pergerakan tiap Tetua Sekte Air terjun berantai juga tidak luput dari perhatian Yin Sheng. Para Tetua Sekte dengan sigap menghadang langkah para penyerang yang berusaha menghancurkan semua yang ada di Sekte Air terjun berantai. Pertarungan antara Xu Feng dengan Dua orang Kultivator ranah Alam Dewa tentu juga tidak terlewatkan dari pengawasan Yin Sheng.
Namun dari yang Yin Sheng perhatikan sedari tadi, Yin Sheng tidak mendapati adanya Xu Roulan. Gadis remaja bertemperamen tinggi tersebut seharusnya akan langsung ikut menyerang pihak lawan ketika kondisi seperti ini. Melihat sifat Xu Roulan yang masih terlalu sering ceroboh dan kurang bijak dalam mengambil keputusan.
"Mungkin dia diminta oleh ayahnya untuk bersembunyi..." Itulah yang terlintas di pikiran Yin Sheng mengenai Xu Roulan. Lagipula Gao Gen yang selama ini selalu berada di sisinya pasti akan melindungi Xu Roulan.
"Baiklah... Kita mulai dari sini..." Yin Sheng mengeluarkan sebuah payung dari cincin dimensi miliknya. Payung tersebut adalah payung milik Kultivator ranah Alam Dewa yang pernah Yin Sheng bunuh ketika pertama kali bertemu Song Huang.
Dengan payung tersebut Yin Sheng melompat dari atas tebing air terjun yang tingginya lebih dari lima ratus meter tersebut. Dengan payung tersebut, Yin Sheng melayang turun secara pelan.
Ciu...
Ciu...
Jleb...
Jleb...
Yin Sheng melemparkan jarum-jarum beracun ke arah beberapa Kultivator berpakaian serba hitam. Gelapnya malam dan pakaian Yin Sheng yang berwarna biru gelap di tambah minimnya cahaya, membuat para Kultivator dari Sekte Bukit Berlian tidak mengetahui serangan Yin Sheng yang tiba-tiba.
Setiap Kultivator yang terkena serangan jarum beracun Yin Sheng langsung terkapar di atas tanah. Mereka menggeliat menahan sakit karena racun ganas yang Yin Sheng gunakan dalam jarum beracun miliknya.
"Racun Laba-laba bintang malam ini sungguh efektif..." Yin Sheng bergumam sendiri melihat efek racun Laba-laba bintang malam yang dirinya gunakan. Racun tersebut adalah salah satu hasil karya Yin Sheng yang dirinya buat selama enam tahun hidup bersama gurunya.
Kemampuan racun tersebut adalah bisa membekukan darah secara cepat. Meskipun racun Laba-laba bintang malam tidak membunuh secara langsung, namun racun tersebut bisa menghentikan pergerakan musuh dan memberikan rasa sakit yang hebat. Racun tersebut baru akan bisa membunuh target ketika darah yang beku masuk ke dalam jantung atau otak, menyumbat aliran darah yang akan melewati salah satu dari kedua organ penting dalam tubuh manusia tersebut.
Yin Sheng terus melemparkan jarum beracun dari ketinggian. Kekuatan fisiknya yang memang jauh dari rata-rata manusia biasa, di tambah dirinya menggunakan qi untuk memperkuat lemparan jarumnya membuat Yin Sheng bisa menyasar dengan pasti setiap targetnya meskipun dari jarak yang cukup jauh.
Lebih dari dua puluh Kultivator berhasil Yin Sheng hentikan pergerakannya dengan racun Laba-laba bintang malam ketika dirinya mendarat dengan lembut di atas tanah. Beberapa dari Kultivator yang terkena racun dirinya masih ada yang selamat karena bisa menekan racun yang ada di dalam tubuhnya dengan qi milik mereka. Beberapa Kultivator tersebut adalah Kultivator yang berada di ranah Alam Ksatria, namun untuk Kultivator yang tahapan kultivasinya di bawah ranah Alam Ksatria sudah menggeliat di atas tanah menanti ajal menjemputnya.
"Bocah... Jadi ini ulahmu!" Teriak seorang Kultivator ranah Alam Ksatria yang tengah terengah-engah mengatur nafasnya karena menahan rasa sakit di dalam tubuhnya.
"Itu benar... Apa ada masalah?" Yin Sheng dengan santai menghampiri Kultivator ranah Alam Ksatria tersebut. Meskipun tingkat kultivasi mereka berbeda dua tingkat, namun Yin Sheng unggul dalam kondisi fisik. Yin Sheng pun tidak gentar jika harus berhadapan satu lawan satu dengan Kultivator ranah Alam Ksatria tersebut.
"Mati kau bocah tengik!" Kultivator ranah Alam Ksatria tersebut memberikan satu tusukan dengan tombaknya ke arah Yin Sheng.
"Lambat!" Hanya satu kata yang Yin Sheng katakan sebelum menutup payung yang dirinya bawa, mengeluarkan qi dari dalam dantian dan mengalirkannya ke arah payung tersebut. Yin Sheng bukan menahan serangan Kultivator ranah Alam Ksatria, dirinya justru mengambil sikap menyerang untuk menghabisi Kultivator ranah Alam Ksatria dengan cepat.
Slash
Slash
Slash
Tiga tebasan beruntun berhasil Yin Sheng daratkan bahkan sebelum Kultivator ranah Alam Ksatria mencapai dirinya. Meskipun hanya menggunakan payung, namun pemahaman Yin Sheng akan ilmu pedang membuat payung tersebut lebih tajam dari pedang kelas bumi sekalipun.
Tangan kanan, bahu kanan, dan yang terakhir leher. Tiga bagian itulah yang Yin Sheng sasar tadi. Kepala Kultivator ranah Alam Ksatria tersebut terlepas paksa dari lehernya. Meninggalkan tubuh tanpa kepalanya yang ambruk di atas tanah.
Plok...
Plok...
Plok...
Tepuk tangan terdengar ketika Yin Sheng baru saja memenangkan satu pertarungan singkat barusan.
Yin Sheng menatap ke arah sumber suara dan melihat seseorang dengan pakaian serba hitam tengah berdiri dengan santai di satu atap rumah.
"Tidak aku sangka ada seseorang yang sangat berbakat di Sekte Air terjun berantai. Seorang ranah Alam penempa bisa membunuh Kultivator ranah Alam Ksatria dengan mudah..." Ucap Kultivator berpakaian serba hitam yang berdiri di atap rumah tersebut.
"Ranah Alan Raja tahap awal? Hah... Ini akan sulit..." Yin Sheng bergumam pelan ketika melihat sekumpulan qi yang ada di dalam tubuh Kultivator tersebut dengan mata Azhura miliknya.
"Ohh... Bisa membaca tingkat kultivasiku? Kamu benar-benar menarik bocah!" Balas Kultivator tersebut yang mendengar apa yang Yin Sheng katakan meskipun Yin Sheng hanya bergumam pelan.
"Ini..." Yin Sheng terkejut, jarak antara dirinya dengan Kultivator tersebut cukup jauh. Seharusnya Kultivator tersebut tidak bisa mendengar apa yang dirinya gumamkan.
"Pendengaran orang ini sangat tajam!" Yin Sheng sekali lagi bergumam pelan.
"Hahaha... Kamu benar... Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Kultivator ranah Alam Raja tersebut menarik pedang miliknya dari sarung pedangnya. Mengeluarkan qi dari dalam tubuhnya dan bersiap menyerang Yin Sheng.
"Aku tidak akan seceroboh orang lain setelah melihat teknik berpedangmu. Ayo temani aku malam ini!" Ucap Kultivator ranah Alam Raja sebelum melompat untuk menyerang Yin Sheng.
"Majulah! Aku tidak gentar!" Yin Sheng juga melakukan hal yang sama. Mengeluarkan qi dari dalam tubuhnya untuk menyambut serangan yang datang kepadanya.