
"Baiklah... Sekarang tinggal kita berdua... Bisakah kamu melepas penutup matamu?" Xu Feng duduk dengan tenang sembari menghirup aroma secawan teh matahari terbit di tangannya.
"Hah..." Yin Sheng menghela nafas panjang. "Memang tidak mudah menutupi kebenaran dari seseorang yang penuh dengan pengalaman." Yin Sheng melepas penutup mata kanannya. Menunjukkan satu rahasia besar yang selalu dirinya sembunyikan dari orang lain kepada Xu Feng.
Yin Sheng sudah mulai curiga jika Xu Feng mengetahui rahasia besar Yin Sheng dengan mengajak dirinya minum teh berdua di kediamannya. Tidak mungkin seorang Tetua Agung seperti Xu Feng mau mengundang tahanan seperti Yin Sheng secara pribadi jika bukan karena suatu alasan khusus.
"Ahh... Jadi itu memang benar ada..." Xu Feng merasa sangat bahagia melihat mata Azhura milik Yin Sheng secara langsung. Sudah lebih dari tiga ratus tahun dirinya hidup dan kini dirinya bisa melihat secara langsung salah satu kebenaran dari rahasia-rahasia yang tersimpan di dunia.
"Maaf Senior... Tapi maksud Senior?" Yin Sheng merasa gagal paham dengan perkataan Xu Feng.
"Aku sudah hidup lebih dari tiga ratus tahun selama ini, dan aku telah menghabiskan lebih dari separuh masa hidupku untuk berkelana dan menelusuri semua rahasia yang tersimpan di dunia ini. Mata kananmu itu... Adalah salah satu bentuk bukti nyata dari sekian banyak rahasia yang aku temukan."
"Tiga ratus tahun?" Yin Sheng memeriksa telinganya. Apakah dirinya telah salah mendengar atau tidak. Telah hidup selama tiga ratus tahun, itu artinya Xu Feng telah hidup lebih dari tiga generasi masa hidup manusia normal. Yin Sheng tidak bisa membayangkan hal apa saja yang sudah Xu Feng ketahui selama masa hidupnya tersebut.
"Hahaha... Jangan terlalu kaget seperti itu... Diluar sana masih banyak monster tua yang telah hidup lebih lama dari pria tua ini." Xu Feng tertawa geli melihat ekspresi Yin Sheng ketika mengetahui umurnya.
"Maafkan aku Senior... Tapi tiga ratus tahun tetaplah suatu pencapaian yang hebat untuk sebuah umur." Yin Sheng merespon dengan sesopan mungkin. Menjaga agar Xu Feng tidak tersinggung sama sekali masalah umurnya. Dirinya masih belum paham tujuan Xu Feng membawa dirinya ke kediamannya, tapi Yin Sheng merasa jika Xu Feng sama sekali tidak memiliki niatan yang jahat.
"Hahaha... Dunia ini begitu luas dan penuh akan misteri. Bahkan setelah berkelana lebih dari separuh masa hidupku, aku baru bisa melihat mata Azhura sekarang. Aku sangat iri kepadamu, di usia semuda dirimu bisa mengetahui banyak rahasia dunia yang termakan waktu."
"Senior terlalu memuji... Saya hanya seorang pemuda biasa."
"Bahkan tubuhmu itu sendiri juga baru kali ini aku melihatnya. Seseorang tanpa spirit root namun dantiannya bisa terbentuk sempurna." Xu Feng mengelus janggut putihnya.
"Betapa dunia ini sangat banyak menyimpan misteri. Sayangnya aku sudah terlalu tua untuk bisa menuntaskan rasa penasaran di hati ini." Xu Feng memasang wajah yang sedikit muram. Bahkan setelah hidup lebih dari tiga ratus tahun, masih banyak hal yang belum dirinya ketahui.
"Apa Senior tahu banyak tentang mata ini?" Yin Sheng tidak bisa untuk tidak bertanya. Gurunya selama ini tidak pernah menjelaskan asal usul mata Azhura, karena gurunya memang terlahir bersama mata Azhura. Namun Xu Feng berbeda, Xu Feng mengetahui keberadaan mata Azhura entah dari mana. Yin Sheng berharap mungkin bisa mendapat gambaran tentang tujuan dan makna adanya mata Azhura.
"Aku mengetahui tentang mata itu dari sebuah makam kuno di tengah gunung Salju abadi, sebuah gunung di bagian utara benua ini." Xu Feng mengangkat pandangannya ke atas. Mencoba mengingat kejadian yang sudah terjadi lebih dari seratus lima puluh tahun yang lalu.
"Aku memasuki makam itu bersama sahabatku, kita berdua sama-sama menyukai misteri dunia. Dan kita berdua saling bahu membahu untuk mencoba mengungkapkannya. Dalam makam itu kita menemukan banyak sekali harta, namun dari tumpukan harta yang kita temukan yang paling berharga adalah sebuah catatan kehidupan tentang seorang raja yang memiliki mata yang sama dengan yang kamu punya. Bedanya dia memiliki dua, sedangkan kamu hanya memiliki satu."
"Raja?"
"Benar... Dalam catatan itu ada satu kalimat yang sangat terngiang di pikiranku." Xu Feng menjeda kata-katanya.
"Hanya orang yang benar-benar kuat yang mampu bertahan karena memiliki mata ini. Karena pemilik mata ini seakan dibenci oleh para dewa. Namun aku merasa beruntung memiliki mata ini. Karena dengan memiliki mata ini, aku merasa dicintai oleh surga."
"Benar... Mungkin para dewa iri dengan keberadaan mata itu, oleh sebab itu mereka membenci pemilik mata itu. Sedangkan surga mencintainya karena tanpa usaha sekalipun pemilik mata itu bisa melihat hal-hal yang telah termakan oleh lintasan waktu." Xu Feng mencoba menjelaskan apa yang dirinya tangkap selama ini dari kalimat yang di dapat dalam catatan kuno yang ada di makam kuno.
"Begitu ya..." Yin Sheng mulai sedikit paham. Memang benar dengan memiliki mata Azhura dirinya bisa melihat kehidupan-kehidupan pemilik sebelumnya. Dari penglihatan itu pula lah Yin Sheng mempelajari teknik-teknik berpedang dan gaya bertarung lainnya selama ini. Jika mata Azhura menemukan pemilik yang tepat, maka pemilik mata Azhura bisa berkembang menjadi satu kehidupan gabungan antara beratus-ratus atau bahkan ribuan kehidupan.
"Ya... Itulah yang aku temukan selama ini... Jadi..."
"Jadi..." Yin Sheng tidak tahu maksud kata-kata Xu Feng.
"Apa saja yang sudah kamu lihat selama memiliki mata itu? Apakah kamu bisa memberikan pencerahan pada tua renta yang menemui kebuntuan ini?" Xu Feng memandang Yin Sheng dengan penuh ketertarikan. Berharap adanya suatu informasi yang berguna bagi dirinya dalam berkultivasi dari Yin Sheng.
"Maafkan saya jika saya mengecewakan Senior? Tapi selama ini saya baru melihat kehidupan-kehidupan normal dan cara berlatih pedang. Untuk informasi semacam itu, saya belum mendapatkannya." Yin Sheng mencoba sehalus mungkin memberi penjelasan kepada Xu Feng, takut jika Xu Feng tersinggung dan menganggap Yin Sheng tidak ingin berbagi informasi.
"Hem... Jadi begitu... Mata itu ternyata tidak sembarangan memberikan gambaran, seakan-akan mata itu memiliki pemikiran sendiri dan memberikan gambaran sesuai dengan kapasitas pemiliknya." Xu Feng yang sudah hidup lebih dari tiga ratus tahun tentu memiliki pemikiran yang sangat bijak. Dirinya kini semakin paham akan cara kerja mata Azhura membimbing pemiliknya.
"Benar Senior... Tapi mungkin kita bisa saling berbagi wawasan yang kita dapat. Siapa tahu kita bisa mendapat satu sudut pandang yang berbeda dari kedua wawasan kita."
"Kalau begitu ini akan menjadi hari yang panjang... Hahaha..." Xu Feng tertawa dengan puas melihat Yin Sheng yang satu pemikiran dengan dirinya. Pemuda di hadapannya ini ternyata juga haus akan wawasan dunia. Xu Feng pun saat ini bisa menjamin, jika masa depan Yin Sheng akan sangat tidak terbatas karena mata Azhura pasti akan membukakan tirai takbir dunia untuknya.
Kedua orang berbeda generasi tersebut akhirnya saling bercerita satu sama lain. Yin Sheng bercerita tentang kehidupan-kehidupan yang dirinya lihat dari mata Azhura, sedangkan Xu Feng lebih banyak mengomentari cerita yang sekira dirinya ketahui dari pengalamannya.
Waktu yang sejatinya hanya dua puluh empat jam dalam sehari, menjadi lebih cepat bagi mereka berdua karena aktifitas yang mereka lakukan sangat menarik minat keduanya. Matahari terbit di keesokan harinya menyadarkan mereka berdua kalau mereka berdua telah duduk sambil bercerita sepanjang malam.
"Kau bisa beristirahat di salah satu kamar yang ada di rumah ini. Besok akan aku perlihatkan sesuatu hal kepadamu tentang apa saja yang sudah aku temukan." Xu Feng memberikan sebuah kamar untuk Yin Sheng tinggali.
Semalaman bercerita berdua membuat kedua orang berbeda generasi tersebut merasa sangat akrab. Xu Feng bahkan sedikit tidak percaya, pemuda seumuran Yin Sheng bisa memiliki mental dan pikiran yang sangat kuat di usianya. Tapi Xu Feng juga sadar, terbentuknya mental dan pikiran seperti itu karena pengaruh dari mata Azhura.
"Saya akan merepotkan Senior Feng kalau begitu..." Yin Sheng memberi hormat sembari berdiri. Dirinya ingin sekali merebahkan badan di atas ranjang saat ini. Terikat rantai seharian, dan setelah bebas langsung berdiskusi sepanjang malam. Pinggangnya berteriak hebat meminta untuk direbahkan.
"Ping... Antarkan Tuan Yin Sheng ke kamar tamu!" Xu Feng berteriak memanggil salah satu pelayan di kediamannya.
Seorang pelayan pria datang dengan cepat, memberi hormat dan menggestur tubuhnya ke arah kamar tamu.
"Saya permisi Senior..." Yin Sheng memberi hormat sebelum dirinya mengikuti pelayan laki-laki bernama Ping tersebut untuk menuju ke kamar yang di sediakan.
"Anak ini benar-benar menarik... Tang Lei... Kamu pasti akan sangat senang jika bertemu dengan anak ini..." Xu Feng tersenyum lembut sembari memikirkan sahabat seperjuangannya dulu yang sudah sangat lama tidak dirinya temui.