Heaven Road

Heaven Road
4. Membuka Pintu Takdir 6



"Kenapa kamu membantuku?" Tanya Spirit Beast wanita pada Yin Sheng yang tengah menusukkan beberapa jarum di tubuhnya.


"Apa aku perlu alasan khusus untuk membantumu?" Ketus Yin Sheng yang tidak ingin konsentrasinya terganggu. Dirinya sedang menusuk titik-titik meridian milik Spirit Beast wanita. Jika sampai dirinya salah menusukkan jarum, maka akibatnya bisa fatal.


"Aku kira semua manusia sama saja. Selalu memandangku selayaknya monster yang harus disingkirkan." Spirit Beast wanita yang tengah tidur tengkurap tetap berusaha mengajak Yin Sheng berbicara. Dirinya sangat penasaran dengan kepribadian Yin Sheng yang berbeda dengan manusia pada umumnya.


"Bisakah kamu diam... Aku sedang berkonsentrasi. Jika aku salah menusukkan jarum, akan berbahaya untuk tubuhmu." Yin Sheng akhirnya mengambil sikap tegas. Tidak mudah bagi Yin Sheng untuk bisa tetap berkonsentrasi di depan punggung putih mulus yang tidak tertutup apapun. Ditambah dirinya harus mendengarkan ocehan dari Spirit Beast wanita yang dirinya ketahui bernama Yunyun tentu menambah beban tersendiri.


"Maaf?" Hanya itu kata yang terlontar dari Yunyun. Tidak ingin lagi memperpanjang masalah Yin Sheng, meskipun dirinya merasa sedikit kecewa.


Puluhan jarum sudah Yin Sheng tusukkan, tinggal satu jarum lagi maka semua akan selesai. Namun ada masalah tersendiri yang harus Yin Sheng hadapi.


Struktur tubuh Spirit Beast dengan manusia biasa tentu berbeda. Jika pada manusia dirinya tinggal menusukkan jarum di atas tulang ekor.


Namun bagaimana dengan Yunyun?


Yunyun tidak memiliki kaki selayaknya manusia, dirinya tidak tahu apakah Yunyun memiliki tulang ekor atau tidak. Bagian bawah Yunyun adalah ekor ular yang setengah berwarna putih dan setengahnya hitam kebiruan.


Spekulasi juga bukanlah suatu hal yang baik dalam hal ini. Namun di tengah kebimbangan Yin Sheng, tiba-tiba Yin Sheng mendapat sebuah penglihatan dari mata Azhura.


Mata Azhura menunjukkan seekor Magical Beast. Namun yang menarik perhatian Yin Sheng bukanlah Magical Beast tersebut. Melainkan bagian luar Magical Beast yang terlihat tidak selayaknya kulit biasa. Yang terlihat adalah aliran energi berwarna biru tua yang mengalir di dalam tubuh Magical Beast tersebut.


'Apa ini kemampuan mata Azhura juga? Melihat aliran energi di dalam tubuh?' Batin Yin Sheng seraya berpikir.


Setelah penglihatannya hilang, Yin Sheng mencoba melakukan apa yang diperlihatkan barusan. Dirinya mengalirkan Qi ke dalam mata Azhura, membayangkan dirinya bisa melihat aliran energi di dalam tubuh Yunyun.


"Ini..." Yin Sheng terpana, melihat aliran energi di dalam tubuh Yunyun terpampang jelas di mata kirinya.


"Ada apa?" Yunyun sontak bertanya, takut jika Yin Sheng telah melakukan malpraktek pada tubuhnya.


"Tidak ada... Hanya ada kecoak lewat..." Jawab Yin Sheng asal.


"Awas jika kamu menjadikan tubuhku bahan percobaan!" Ancam Yunyun pada Yin Sheng.


"Ahaha..." Yin Sheng hanya tertawa kecut, dijadikan bahan percobaan atau tidak Yunyun tidak akan tahu. Yang terpenting adalah hasilnya Yunyun bisa naik tingkat setelah aliran energi di dalam tubuhnya mengalir dengan lancar.


Ya... Naik tingkat... Yunyun selama ini bersembunyi di dalam lubang karena sedang menjalani proses naik tingkat. Jika dibandingkan dengan Magical Beast mungkin Yunyun setara dengan Magical Beast tingkat empat, dan akan naik ke tingkat lima. Dalam setiap kenaikan tingkat maka kulit Yunyun akan berganti dengan sendirinya.


Namun dalam proses kenaikannya kali ini, dirinya seakan menemui jalan buntu. Dirinya telah bermeditasi selama lebih dari dua bulan, namun kulit yang berganti baru setengahnya. Bahkan Yunyun telah mencoba bermeditasi dibawah sinar bulan. Untuk Spirit Beast seperti dirinya, bermeditasi di bawah sinar bulan akan mempercepat proses penyerapan energi alam. Yang sering disebut sebagai Qi jika pada para kultivator.


"Ah..." Teriakan Yunyun menggema di bawah pohon besar tempat Yin Sheng dan Yunyun berada. Burung-burung yang bertengger di pepohonan sampai terbang karena merasa ketakutan.


"Apa yang kau lakukan? Sakit sekali..." Mata Yunyun sampai berair efek dari rasa sakit yang teramat sangat.


"Sudah selesai..." Yin Sheng tidak memperdulikan pertanyaan Yunyun. Dirinya menarik semua jarum dan memilih membalikkan badannya membelakangi Yunyun. "Kenakan pakaianmu... Dan makanlah pil ini..." Tangan Yin Sheng menyodorkan sebuah Cleansing Blood pil pada Yunyun tanpa membalikkan badan.


"Dasar manusia aneh..." Umpat Yunyun sembari memakai pelindung dada yang tergeletak di samping tubuhnya. Tangan Yunyun dengan cepat merebut Cleansing Blood pil dari tangan Yin Sheng dan lekas menelannya.


Yunyun segera bermeditasi. Efek Cleansing Blood pil pun mulai bekerja. Sebuah senyum kecil terpancar di wajah Yunyun yang cantik jelita. Merasakan energi alam di dalam tubuhnya mengalir dengan begitu lancar.


Sampai sore hari Yunyun bermeditasi, selama proses meditasi tersebut sisik-sisik putih Yunyun lepas dengan sendirinya. Kini tinggal tersisa sisik hitam kebiruan yang akan terlihat indah jika terkena matahari senja.


"Berhasil... Berhasil..." Yunyun berteriak sembari melompat. Dirinya memutar-mutar ekornya yang kini telah berubah menjadi hitam kebiruan sepenuhnya.


"Apa yang kamu lakukan sebenarnya? Bagaimana bisa..." Yunyun ingin bertanya pada Yin Sheng tentang apa yang Yin Sheng lakukan tadi sehingga dirinya bisa dengan mudah menyerap energi alam untuk naik tingkat. Tapi dirinya merasa terkejut dengan apa yang Yin Sheng lakukan saat ini.


"Tidak ada..." Jawab Yin Sheng dengan tenang sembari dirinya mengambil sisik-sisik putih milik Yunyun yang berjatuhan di atas tanah.


"Hei... Kenapa kamu mengambil bekas sisikku?" Yunyun tentu merasa risih. Bagaimanapun juga itu adalah bekas kulitnya. Dan Yin Sheng dengan tenang mengumpulkannya dengan sumpit untuk disimpan ke dalam wadah kayu.


"Dasar manusia aneh..." Yunyun ingin marah, namun bagaimanapun juga Yin Sheng yang telah membantunya. Meskipun dirinya adalah Spirit Beast, sejatinya dirinya tetap memiliki hati selayaknya manusia biasa. Dan marah pada Yin Sheng berlawanan dengan kata hatinya.


"Sesuai janji kita... Kamu harus pergi dari wilayah ini!" Yin Sheng yang telah selesai mengambil bekas sisik Yunyun langsung pergi meninggalkan Yunyun. Ada hal lain yang mesti dirinya lakukan.


Yunyun pun hanya bisa memandang punggung laki-laki berbaju biru tua yang telah membantunya. Ada suatu rasa kehilangan di dalam hatinya setelah laki-laki berbaju biru tua tersebut menghilang dari pandangannya.


Sesampainya di desa, Yin Sheng menutup diri di dalam kamar. Selain hari yang sudah malam, dirinya perlu meneliti lebih jauh tentang racun yang ada di sisik putih Yunyun. Jika tidak segera dirinya lakukan, maka dirinya akan terlalu lama berada di desa kecil bernama Pangkal Sungai Putih ini.


Menjadi murid ahli racun selama bertahun-tahun memberikan pengalaman yang berharga, tanpa kesulitan Yin Sheng bisa memahami materi apa saja yang ada di dalam racun tersebut dan bagaimana cara untuk menawarkannya.


Keesokan paginya Yin Sheng meminta kepada Kepala Desa Du Xing untuk mencari rumput duri biru dan daun pohon pinus merah dalam jumlah yang banyak. Kedua bahan tersebut pernah Yin Sheng lihat selama perjalanan menuju desa dari hutan, tentunya para Kepala Desa tidak akan kesulitan mengerahkan warga untuk mencari kedua bahan tersebut.


Siang harinya para warga sudah membawa apa yang Yin Sheng minta. Sedangkan Yin Sheng tengah memotong beberapa pohon yang ada di halaman rumah Kepala Desa.


"Tuan Yin... Apa yang Anda..." Du Xing tidak bisa berkomentar ketika melihat halaman depan rumahnya yang tadinya nampak asri kini menjadi tandus.


"Ah Tuan Du... Maaf karena telah memotong beberapa pohonmu... Tapi aku butuh ini untuk di sungai..." Jawab Yin Sheng yang tetap memotong kayu menjadi papan-papan dengan gagang pancingnya.


Semua warga tentu takjub melihat Yin Sheng memotong kayu yang keras hanya dengan gagang pancing. Menggunakan kapak yang tajam pun mereka kesulitan untuk memotong kayu seperti yang Yin Sheng lakukan, dan Yin Sheng hanya menggunakan gagang pancing. Para lelaki di desa langsung merasa tertampar dan dipertanyakan akan kejantanannya.


"Tolong bawa semua bahan itu ke pinggir sungai..." Yin Sheng memasukkan semua potongan kayu ke dalam cincin dimensi. Akan membutuhkan waktu yang lama jika di angkat manual. Memasukkan ke dalam cincin dimensi adalah cara terpraktis.


"Manusia macam apa sebenarnya dia itu..." Banyak warga yang tidak mengetahui tentang cincin dimensi di desa ini. Jadi mereka beranggapan Yin Sheng adalah seorang pesulap atau titisan dewa.


Sesampainya di pinggir sungai Yin Sheng membuat sebuah bendungan dengan kayu-kayu yang dirinya potong tadi. Bendungan tersebut Yin Sheng buat dua lapis dengan bagian tengah yang berjarak dua meter.


"Tolong masukkan semua bahan yang kalian temukan tadi. Jika kurang tolong carikan lagi sampai semua ini terisi penuh." Yin Sheng hanya memberi perintah sekedarnya. Dirinya naik ke atas salah satu bendungan dan mengeluarkan talisman lalu mengaktifkannya.


Akar-akar tanaman mencuat dari dalam dasar sungai, mengikat semua papan kayu yang tadinya hanya Yin Sheng tancapkan. Dengan akar-akar ini, Yin Sheng tidak akan takut bendungan akan ambrol meski ada banjir sekalipun.


"Tuan Du... Bendungan tersebut berfungsi untuk menyaring air. Selama ini kalian telah mengkonsumsi air yang mengandung racun."


"Racun?" Semua warga langsung panik Sungai adalah sumber mata air utama mereka, lalu bagaimana mereka akan mendapatkan air jika sungai beracun?


"Tenang... Sumber racunnya sudah aku hilangkan... Hanya saja racun-racun yang ada di sungai aku tidak bisa menghilangkannya secara instant. Bendungan ini berfungsi untuk menghilangkan racun-racun yang ada di sungai." Yin Sheng langsung memberikan penjelasan agar semua warga tidak panik.


"Tuan Yin... Anda benar-benar telah membantu desa ini..." Kepala Desa Du Xing menangis dan bersujud di depan Yin Sheng. Selama ini dirinya merasa gagal menjadi Kepala Desa karena warganya tidak bisa lepas dari wabah. Dan Yin Sheng yang datang sebagai penyelamat tentu adalah sebuah jawaban dewa atas doa-doanya selama ini.


"Jangan begitu Tuan Du... Aku hanya melakukan sebisaku. Tolong untuk tanaman yang ada di dalam bendungan diganti paling tidak sebulan sekali."


"Baik Tuan Yin... Kami akan menjaga bendungan ini selayaknya menjaga rumah kami. Kami menamakan bendungan ini sebagai Bendungan Yin, agar kami selalu ingat akan jasa Tuan Yin untuk desa kami." Kepala Desa berorasi di depan warganya.


"Benar... Tuan Yin, kamu penyelamat desa ini..."


"Hidup Tuan Yin..."


"Hidup Tuan Yin..."


Yin Sheng justru merasa risih diperlakukan seperti itu. Tadinya dirinya ingin berpamitan dengan cara yang baik, namun karena merasa risih Yin Sheng pun memilih menggunakan ilmu meringankan tubuh untuk segera pergi dari Desa Pangkal Sungai Putih.


"Tuan Yin... Tunggu..." Teriak para warga tidak Yin Sheng pedulikan. Bagi dirinya, tugasnya di desa ini sudah selesai. Masalah bagaimana warga desa menanggapi akan sikapnya bukan urusan dirinya.


"Ah... Kenapa mereka bersikap seperti itu... Padahal aku ingin pergi secara baik-baik tadinya..." Yin Sheng merasa sedikit tidak enak hati dengan langsung meninggalkan Desa Pangkal Sungai Putih. Namun mau bagaimana lagi, terlalu lama disana yang ada hanya akan menyita waktunya.


"Jadi... Kemana kita?"


Sebuah pertanyaan mengejutkan Yin Sheng yang baru saja mendarat di area pepohonan.