
Untuk sekali lagi dalam hidupnya... Yin Sheng harus menatap sebuah gundukan dengan satu buah batu nisan tertancap di atasnya. Batu nisan tersebut bertuliskan nama seseorang yang tidak lain adalah gurunya sendiri, Yao He.
'Hidupmu boleh mati, tapi jalan hidupmu tidak boleh ikut mati bersamamu.' Itulah sebuah kalimat yang tertulis di bawah nama Yao He. Sebuah pesan terakhir yang Gurunya tinggalkan sebelum dirinya menghembuskan nafas yang terakhir. Masih teringat jelas di pikiran Yin Sheng wajah Gurunya yang nampak tenang, damai. Seakan-akan Gurunya telah menemukan tempat peristirahatan yang benar-benar dirinya inginkan.
"Murid bersumpah... Akan melanjutkan cita-cita Guru untuk menjadi Alchemist nomer satu di dunia." Yin Sheng memberikan penghormatan terakhir pada Gurunya, sebelum dirinya melangkah keluar dari gua yang menjadi tempat peristirahatan Gurunya tersebut.
Enam belas tahun sepuluh bulan, itulah umur Yin Sheng saat ini. Lebih dari perkiraan Yao He yang memprediksi dirinya akan mati ketika Yin Sheng berumur lima belas tahun. Yao He selalu mengkonsumsi pil-pil yang dibuat oleh Yin Sheng selama proses belajar. Dirinya melakukan hal tersebut untuk mengetes tingkat kemurnian dan tingkat kandungan pil yang dibuat oleh Yin Sheng.
Hasilnya... Yao He bisa memperpanjang usianya lebih dari satu tahun. Yao He bisa saja membuat tubuhnya menjadi sehat lagi, dengan meminum ramuan Heaven Flavour. Namun Yao He merasa nyawanya terlalu murah untuk ditukar dengan ramuan tersebut.
Yao He yakin, satu-satunya ramuan terhebat yang pernah dirinya buat itu akan sangat membantu Yin Sheng suatu saat nanti.
Dengan sebuah pancing peninggalan ayahnya tergantung di punggung. Sebuah penutup mata yang menutupi mata kirinya dan dua buah cincin dimensi peninggalan Ibunya dan Gurunya, Yin Sheng mantap meninggalkan gua tempat tinggalnya selama ini. Dirinya siap untuk mengukir namanya di dunia Kultivator yang terkenal akan kekejamannya.
Lagipula Yin Sheng punya tujuan yang lain yaitu mencari keberadaan Ayahnya, Yin Jiang. Entah dimana keberadaan Ayahnya, Yin Sheng akan mencarinya meski harus ke ujung benua sekalipun. Karena hanya Ayahnya lah satu-satunya keluarga yang dirinya punya saat ini. Ibunya pernah berpesan, hidup tanpa keluarga di sekitar kita selayaknya hidup tanpa ada warna.
Kini Yin Sheng sudah tidak takut lagi menembus hutan belantara. Lebih dari separuh hutan sudah pernah dirinya jelajahi sepenuhnya seorang diri. Jika bukan karena keberadaan Gurunya yang tinggal menetap di gua, mungkin Yin Sheng sudah meninggalkan hutan ini sedari dulu.
Tidak sedikit Magical Beast yang Yin Sheng temui. Jika Magical Beast tersebut terlalu kuat untuk Yin Sheng hadapi, tentu dirinya akan lebih memilih menghindari. Jika dirinya merasa bisa membunuh Magical Beast tersebut, maka dirinya pasti langsung membunuhnya. Mengambil seluruh bagian tubuh Magical Beast untuk dirinya manfaatkan.
Kulit untuk kertas Talisman, daging untuk dirinya konsumsi, tulang untuk dihancurkan dan digunakan sebagai bahan pembuat pil. Mungkin hanya mata dan otak Magical Beast yang tidak berguna bagi Yin Sheng. Karena kotoran dari Magical Beast pun Yin Sheng simpan. Untuk apa? Yin Sheng belum tahu kegunaannya, tapi dirinya yakin itu akan berguna suatu saat.
Lebih dari satu minggu Yin Sheng menelusuri hutan seorang diri. Hingga akhirnya dirinya bisa melihat sebuah padang rumput yang begitu luas membentang sepanjang mata memandang.
"Akhirnya aku bisa mandi..." Yin Sheng begitu senang melihat sebuah sungai yang ada di bawah salah satu bukit. Sungai tersebut memiliki arus air yang cukup deras, sangat cocok untuk menyegarkan badan Yin Sheng yang sudah satu minggu tidak terkena air mandi.
Mungkin jika bajunya direndam di dalam air, air rendaman tersebut bisa dirinya gunakan sebagai obat bius. Karena bau badannya yang sudah sangat menyengat.
Yin Sheng melanjutkan perjalanan ketika matahari sudah mulai turun dari puncak. Berdasarkan informasi dari Gurunya. Dirinya harus menuju ke barat jika ingin menemukan sebuah desa atau kota terdekat. Karena berdasarkan letak geografis, Desa Melati Hijau terletak di ujung timur benua Kura-kura Raksasa.
Hari berganti malam, Yin Sheng masih belum menemukan desa ataupun kota yang bisa dirinya singgahi. Dirinya pun terpaksa tidur beralaskan rerumputan dan beratapkan langit.
Beruntungnya Yin Sheng hari itu tidak hujan. Juka hujan turun, maka Yin Sheng benar benar harus mencari tempat berteduh. Sekuat apapun tubuhnya, meskipun dirinya kini sudah menjadi Kultivator Penempaan Qi tahap 7-kehujanan semalam tentu tidak akan baik untuk tubuhnya.
Srek...
Srek...
Samar-samar Yin Sheng mendengar suara gesekan rumput dengan sesuatu. Yin Sheng melihat sekitar menggunakan mata Azhuranya dibalik penutup matanya. Penutup matanya terbuat dari kulit Magical Beast berbentuk ular putih. Dari luar orang lain tidak akan melihat seperti apa mata Yin Sheng, namun Yin Sheng tetap bisa melihat dengan normal menggunakan mata Azhura miliknya.
"Manusia setengah ular?" Yin Sheng bergumam pelan. Tidak ingin jika suaranya di dengar oleh makhluk tersebut.
Yao He pernah berkata jika ada dua jalan terbentuknya Spirit Beast, yang pertama tentu adalah evolusi. Namun proses evolusi sangatlah panjang waktunya, karena hanya Magical Beast tingkat 9 saja yang bisa memiliki akal seperti manusia maupun berubah bentuk menjadi wujud manusia.
Cara yang kedua adalah melalui perkawinan silang. Magical Beast tingkat 9 yang telah memiliki akal berubah menjadi wujud manusia, lalu menikah dengan seorang manusia. Dari perkawinan itu terlahirlah Spirit Beast.
Jika dilihat dari kekuatan yang dimiliki manusia ular tersebut, Yin Sheng bisa menyimpulkan jika Spirit Beast tersebut adalah hasil perkawinan silang.
"Apa yang harus aku lakukan?" Yin Sheng tentu bimbang melihat Spirit Beast tersebut dari kejauhan. Spirit Beast tersebut tidak mengganggunya namun juga Spirit Beast tersebut berpotensi akan mengganggunya. "Lebih baik aku tetap waspada."
Spirit Beast tersebut bergerak ke arah sungai. Masuk ke dalam sungai dalam waktu yang cukup lama. Barulah setelah dua jam, Spirit Beast tersebut pergi tanpa mengetahui keberadaan Yin Sheng.
"Dunia luar benar-benar diliputi misteri." Yin Sheng hanya bisa menghela nafas panjang setelah kepergian Spirit Beast tersebut. Malam pertama dirinya di luar hutan harus disuguhi dengan perasaan waspada.
Keesokan harinya Yin Sheng melanjutkan perjalanan ke arah barat. Kali ini Yin Sheng menelusuri sungai yang kebetulan juga mengalir ke arah barat. Dirinya sangat yakin, pemukiman penduduk tidak akan jauh dari sumber air.
Barulah di sore hari Yin Sheng mendapati sebuah desa kecil. Walaupun kecil, tapi desa tersebut masih lebih besar dari desa Melati Hijau.
"Apakah kamu seorang pengelana?" Tanya seorang kakek-kakek yang kebetulan Yin Sheng temui di pinggir sungai. Kakek tersebut membawa beberapa ikan dan sebuah jaring. Terlihat jelas jika kakek tersebut baru saja mencari ikan di sungai tersebut.
"Betul kakek... Saya kebetulan akan melewati desa ini untuk pergi ke kota terdekat. Apa kakek tinggal di desa itu juga?" Balas Yin Sheng dengan penuh hormat.
"Pergilah Nak... Jangan masuk ke desaku... Ada wabah penyakit yang bisa menulari mu jika kamu masuk ke desa." Kakek tersebut malah mengusir Yin Sheng agar tidak memasuki desa tempat tinggalnya.
"Maksud Kakek?"
"Terserah kamu. Aku sudah memperingatkanmu!" Kakek tersebut berpaling dan meninggalkan Yin Sheng.
Entah karena memiliki firasat atau memang Yin Sheng yang tidak memiliki tujuan, Yin Sheng mengikuti Kakek tersebut. Beberapa kali Kakek tersebut menegur Yin Sheng untuk tidak mengikutinya. Namun Yin Sheng juga seakan tidak memperdulikan peringatan kakek tersebut. Kata hatinya menyuruhnya untuk mengikuti kakek tersebut sampai rumah.
Sampai di depan rumah yang cukup kecil, hari sudah gelap. Warga desa sudah kembali ke rumah mereka masing-masing. Kakek tersebut juga tidak mempersilahkan Yin Sheng untuk masuk ke dalam rumahnya. Yin Sheng tentu juga sadar diri, dirinya hanya menunggu di luar selama beberapa saat dan melanjutkan langkahnya untuk menyusuri desa. Mencari tempat tumpangan yang bisa dirinya gunakan untuk bermalam.
"Tolong... Tolong..." Suara kakek yang tadi Yin Sheng ikuti terdengar menggema dari dalam rumahnya. Yin Sheng secara reflek berlari ke arah rumah kakek tersebut untuk mencari tahu apa yang terjadi.
"Ada apa kek?" Yin Sheng menerobos masuk ke dalam rumah, membuat pintu rumah kakek tersebut hampir terlepas dari pegangannya.
"Cucuku... Cucuku..." Kakek-kakek tersebut menangis sembari memeluk cucu perempuan yang nampak menggigil. Begitu banyak benjolan di tubuh anak tersebut. Dan yang lebih mengerikannya, benjolan tersebut mengeluarkan nanah yang menjijikkan.
"Tolong... Tolong Nuyingku..."