
Kepala Walikota Dong Liu hampir meledak karena menahan marah. Di Kota ini tidak ada yang berani menolak permintaannya secara kasar seperti yang Yin Sheng lakukan. Walikota bukannya tidak percaya dengan diagnosa yang Tetua Mei Lin berikan, dirinya hanya mencoba memastikan melalui tabib lainnya. Apakah yang dikatakan Tetua Mei Lin benar adanya atau Tetua Mei Lin hanya malas membantu dirinya.
"Seret dia kesini... Entah bagaimanapun caranya!" Perintah Walikota Dong Liu.
"Maaf Tuan... Tapi pemuda itu tidak hanya mampu mengobati, dia juga ahli dalam membunuh dengan cepat. Dan lagi..." Salah satu pengawal yang ikut ke tempat kejadian ingin menjelaskan namun langsung terhenti setelah mendapat tatapan tidak suka dari Walikota Dong Liu.
"Tuan Dong Liu tenang saja... Aku akan membawa dia kemari..." Seorang pria bernama Chang Ming tiba-tiba memasuki ruangan. Sebuah pedang besar yang besarnya hampir setengah badannya tergantung dengan mantap di pundaknya.
"Kalau kau ingin turun tangan sendiri aku tidak perlu khawatir lagi kalau begitu." Walikota Dong Liu merasa sedikit tenang. Chang Ming adalah pengawal keluarganya yang paling kuat. Tingkat kultivasinya berada di ranah Alam Raja. Orang yang bisa mengimbangi Chang Ming di kota ini bahkan bisa dihitung dengan jari.
Chang Ming pun pergi setelahnya, dirinya memutuskan untuk pergi sendiri. Lebih mudah bagi dirinya untuk menyeret tabib sombong itu seorang diri daripada harus membawa rekan-rekannya yang jauh lebih lemah darinya.
Tidak seperti rekan Chang Ming yang membuat onar, Chang Ming memilih untuk ikut mengantri. Lagipula haru sudah sore, hanya sedikit warga yang masih mengantri untuk berobat di klinik dadakan tersebut.
"Song Huang?" Chang Ming sempat terkejut melihat Song Huang yang berdiri mengatur antrian. Di antara beberapa orang yang bisa mengimbangi Chang Ming di kota ini, Song Huang adalah salah satunya. Jadi sudah menjadi hal wajar jika Chang Ming mengetahui identitas Song Huang, lagipula nama Song Huang cukup terkenal di antara para pengawal bayaran lepas.
"Apa mungkin karena dia?" Chang Ming menduga jika Song Huang adalah penyebab kegagalan rekan-rekannya membawa tabib untuk putri Walikota.
Chang Ming memberikan beberapa koin perak pada warga yang mengantri di depannya. Sehingga dirinya bisa mendahului antrian tanpa menimbulkan keributan. Warga biasa tentu tidak keberatan sama sekali. Mereka justru senang dengan apa yang Chang Ming lakukan, bisa berobat gratis ditambah dikasih uang. Mungkin warga yang diberi uang tersebut akan datang setiap hari ke klinik dadakan tersebut.
"Apa kau juga akan berobat?" Tanya Song Huang pada Chang Ming. Song Huang tidak melihat hal yang aneh dari Chang Ming, sehingga Song Huang merasa sedikit curiga. Berbeda dengan Chang Ming yang menyelidiki setiap saingannya di Kota Bintang Timur, Song Huang adalah tipe orang yang malas melakukan hal seperti itu. Sehingga dirinya tidak mengetahui identitas Chang Ming.
"Aku ingin berbicara dengan tabib, adikku sedang sakit. Jadi aku ingin tabib untuk datang memeriksanya." Jawab Chang Ming dengan senyum ramah. Dirinya tahu sepak terjang Song Huang, jadi memilih untuk tidak mencari keributan tanpa diperlukan. Meskipun dirinya cukup percaya diri bisa mengalahkan Song Huang, pasti akan ada kerugian yang harus dirinya terima jika berselisih dengan Song Huang.
"Tabib tidak bisa meninggalkan tempat ini sebelum semua pasien selesai diperiksa. Jadi silahkan tunggu sampai kami selesai jika ingin tabib mengunjungi adikmu." Jawab Song Huang sembari menggestur tangannya, memberikan arahan pada Chang Ming agar menyingkir dari antrian.
Chang Ming tidak kehabisan akal, dirinya mengeluarkan beberapa koin peraknya sekali lagi. Membagi-bagikan kepada para warga namun meminta mereka untuk pulang. Sebagian warga mau menerimanya namun ada beberapa yang tetap menolak, karena mereka memang sangat memerlukan pengobatan gratis yang disediakan.
Yin Sheng maupun Song Huang tidak terlalu memperdulikan apa yang dilakukan oleh Chang Ming. Pergi atau tetap menunggu antrian adalah pilihan warga sendiri, mereka tidak mau memaksakan kehendak mereka berdua.
Menjelang malam barulah Yin Sheng selesai mengobati semua warga. Dengan wajah penuh kelelahan, Yin Sheng menghela nafas panjang dan menelan sebutir Qi Absorption pil untuk memulihkan Qi miliknya yang terkuras.
Chang Ming yang memandang Yin Sheng kini tertegun, melihat betapa muda dan tingkat kultivasi Yin Sheng yang masih berada di alam Penempaan Qi. Tadinya dirinya mengira tabib yang mengobati warga merupakan Kultivator ranah Alam Raja atau di atasnya. Jika saja dirinya mengetahui sejak awal, tentu dirinya memilih menculik Yin Sheng daripada mengeluarkan beberapa koin perak.
"Apakah sekarang kita bisa pergi?" Tanya Chang Ming yang sudah mulai kehilangan kesabaran.
Yin Sheng dan Song Huang hanya saling melirik, menunggu salah satu di antara mereka mengambil inisiatif untuk menjawab Chang Ming. "Tentu... Silahkan Tuan Chang menunjukkan jalannya." Song Huang akhirnya membuka kata.
Sementara dari kejauhan, Tetua Mei Lin yang mengawasi dari kejauhan hanya memasang senyum kecut. Dirinya tahu siapa Chang Ming dan sudah bisa menebak kemana mereka bertiga akan pergi. Lebih baik bagi dirinya untuk tidak mengikuti ketiganya.
"Tuan tabib..." Walikota Dong Liu memberi hormat, meskipun dirinya sedikit merasa kesal karena kedatangan tabib sudah malam. Namun tentu dirinya tidak berani menunjukkan kekesalannya, pasalnya Chang Ming sudah memberi tanda kepada dirinya ketika mereka bertiga masuk ruangan.
"Maaf Tuan Dong Liu... Sepertinya Anda telah salah orang..." Song Huang mencoba memberikan pengertian tanpa menyinggung perasaan Dong Liu.
"Ah..." Dong Liu tidak bisa berkata-kata, dirinya merasa malu karena telah salah. Dirinya pun sedikit terkejut melihat Yin Sheng yang berada di sampingnya. Usia dan penampilan Yin Sheng sangat tidak menunjukkan jika dirinya mampu menyembuhkan orang.
"Apakah kamu tabibnya?" Walikota Dong Liu bertanya penuh keraguan.
"Benar Tuan Dong Liu... Perkenalkan ini Saudara Yin Sheng, Master Alchemist termuda di dunia ini." Song Huang memotong Yin Sheng yang ingin memperkenalkan diri. Sikap Dong Liu yang nampak meragukan Yin Sheng membuat Song Huang sedikit geram, jadi dirinya mengungkap status yang dimiliki Yin Sheng di depan Walikota Dong Liu.
"Master Alchemist?" Tidak hanya Dong Liu, semua orang yang ada di ruangan tersebut terkejut. Bahkan beberapa pengawal Dong Liu sampai menggaruk telinga mereka dengan pedangnya. Memeriksa apakah telinganya telah salah mendengar atau tidak.
"Jika Tuan Dong Liu tidak percaya, Anda bisa menanyakan ke Asosiasi Alchemist." Song Huang semakin menyombongkan diri. Sementara Yin Sheng yang berada di sampingnya hanya tersenyum canggung. Tidak tahu dirinya harus merasa bangga atau malu akan statusnya.
"Maafkan saya karena telah meragukan Tuan Yin Sheng tadi... Mari... Ruangan putri saya di sebelah sini..." Sikap Walikota Dong Liu langsung berubah drastis. Seorang Master Alchemist termuda, sebuah sekte besar pasti berada di belakangnya. Jika sampai Yin Sheng tersinggung, bisa-bisa Kota Bintang Timur diratakan tanah oleh Sekte di belakang Yin Sheng.
Song Huang dan Yin Sheng hanya mengumpat di dalam hati melihat perubahan sikap Walikota Dong Liu. Namun mereka juga sadar, mereka berada di kandang seekor singa. Salah bertindak, maka mereka tidak akan bisa keluar dari kandang tersebut.
Seorang wanita cantik nampak terbaring di atas ranjang empuk. Balutan pakaian sutra berwarna putih yang terkena sinar rembulan malam membuat kecantikan wanita tersebut semakin mempesona. Rambut hitamnya nampak rapi, meskipun wanita tersebut telah tertidur entah selama berapa hari. Terlihat jelas jika wanita tersebut tetap terawat meskipun matanya tidak pernah terbuka.
Setelah mendengar penjelasan singkat dari Walikota Dong Liu, Yin Sheng mulai memeriksa kondisi putri Dong Liu. Yin Sheng mulai mengalirkan Qi ke dalam tubuh wanita tersebut dan menyebarkannya ke seluruh tubuh.
"Ini..." Yin Sheng merasa ada yang salah, seluruh tubuh wanita tersebut berfungsi dengan normal selayaknya manusia yang sehat. Tidak ada gejala sakit atau keracunan.
"Ada apa Tuan Yin Sheng?" Walikota Dong Liu mencoba bertanya.
Yin Sheng tidak menjawab pertanyaan Walikota Dong Liu, dirinya malah mengaktifkan kekuatan mata Azhura miliknya.
Yin Sheng sedikit terkejut, dari dalam tubuh wanita tersebut nampak bergejolak suatu energi berwarna merah. Dan anehnya, energi berwarna merah tersebut terhubung dengan sebuah benang yang terbuat dari energi merah ke luar tubuh. Yin Sheng memperhatikan benang energi merah tersebut, dan ternyata benang tersebut mengarah keluar rumah kediaman Walikota.
Tanpa basa-basi Yin Sheng keluar dari ruangan melalui jendela, mengikuti kemana benang energi merah tersebut berasal.
"Saudara Yin..." Song Huang dan semua orang yang ada di ruangan tersebut tentu bingung melihat apa yang dilakukan oleh Yin Sheng. Mereka yang bisa mengikuti hanya bisa mengikuti Yin Sheng yang dengan cepat berlari.