
Benang energi merah membawa Yin Sheng sampai pada sebuah bangunan yang cukup besar di pinggiran Kota Bintang Timur. Bangunan berbentuk rumah tersebut nampak terkawal oleh beberapa penjaga di pintu masuknya.
Yin Sheng tidak cukup bodoh untuk menyelinap masuk ke dalam. Sebuah rumah dengan penjaga di pintu masuk, jika bukan keluarga terpandang tentu tidak mungkin mampu melakukan hal seperti itu.
"Saudara Yin... Ada apa?" Song Huang yang baru saja menyusul langsung bertanya pada Yin Sheng. Chang Ming dan beberapa rekannya yang ikut menyusul juga akhirnya tiba di tempat Yin Sheng berhenti. Raut muka kebingungan nampak menghiasi wajah masing-masing dari mereka.
"Aku merasakan ada semacam Qi yang aneh di dalam tubuh putri Walikota. Dan Qi tersebut mengarah dari dalam rumah ini." Jawab Yin Sheng sembari menunjuk rumah besar yang ada di depannya.
"Klan Xue?" Chang Ming yang pertama bereaksi. Dirinya adalah pengawal Walikota, jadi wajar jika dirinya tahu semua keluarga berpengaruh di Kota Bintang Timur.
"Apa Senior Chang tahu sesuatu?" Tanya balik Yin Sheng.
"Ini akan menjadi urusan yang rumit antar dua keluarga, lebih baik kita kembali dan memberitahu kepada Walikota Dong Liu." Jawab Chang Ming dengan muka yang cukup serius.
Wajah Walikota pucat pasi setelah mendengar penjelasan Yin Sheng. Dirinya tidak akan menduga jika Keluarga Xue akan berada di balik semua ini. Kini dirinya merasa begitu menyesal telah menolak lamaran dari putra ketiga keluarga Xue untuk putrinya.
"Apa yang harus kita lakukan Tuan?" Chang Ming bertanya dengan raut muka serius. Meminta keluarga Xue melepaskan roh di dalam putrinya begitu saja merupakan suatu hal yang mustahil.
Walikota Dong Liu bisa dituduh memperburuk nama baik keluarga Xue, karena menuduh tanpa bukti. Keluarga Xue tentu tidak akan mau mengakui hal seperti itu jika Walikota Dong Liu tidak menunjukkan bukti yang kuat. Sementara bukti yang ada hanya bisa dirasakan oleh Yin Sheng, dimana Yin Sheng tidak bisa menunjukkan bukti yang ada secara langsung pada semua orang.
Memaksa keluarga Xue untuk melepaskan roh di dalam putri Walikota secara paksa juga bukan pilihan yang tepat. Semua orang di Kota Bintang Timur tentu mengetahui kekuatan keluarga Xue, tiga orang kultivator ranah Alam Raja yang ada di keluarga Xue sudah menjadi cukup bukti akan kekuatan keluarga Xue.
"Satu-satunya cara adalah menjebak pelaku agar memunculkan diri..." Yin Sheng tiba-tiba bersuara di tengah keheningan karena semua orang sedang memikirkan jalan keluar.
"Maksud Tuan Yin?" Walikota Dong Liu masih belum paham. Menjebak pelaku untuk datang secara langsung? Mana ada tikus yang mau dengan sukarela masuk ke kandang harimau?
"Jadi begini..."
###
Xue Bohai, putra ketiga dari keluarga Xue. Seorang pria berumur dua puluh satu tahun yang baru saja memasuki alam ksatria dengan membentuk pondasi berwarna biru tua pada Alam penetapan pondasi.
Dengan terbentuknya pondasi berwarna biru tua, Xue Bohai memiliki kesempatan untuk bisa menjadi seorang Kultivator ranah Alam Dewa selama disokong sumber daya yang mumpuni dari keluarganya.
Xue Bohai digadang-gadang akan menjadi penerus kepala keluarga Xue karena bakatnya yang melebihi kedua kakaknya. Hal itulah yang membuat Xue Bohai mendapatkan banyak hak yang istimewa dari keluarganya. Meskipun dirinya hanyalah anak ketiga, namun ketika ada acara undangan resmi dari keluarga terpandang atau dari pihak Kerajaan- Xue Bohai akan dipilih untuk ikut serta menemani Xue Liang. Xue Liang sendiri adalah Kepala keluarga saat ini, atau sering dipanggil Patriark.
Xue Bohai diam duduk di atas sebuah ranjang, dirinya bermeditasi untuk menyerap Qi yang ada di alam. Namun dirinya tidak hanya bermeditasi, sebuah boneka kecil nampak tertidur di depan Xue Bohai. Jika dilihat dengan mata Azhura milik Yin Sheng, maka Yin Sheng akan bisa melihat energi merah yang terhubung dengan tubuh putri walikota keluar dari boneka tersebut. Energi merah tersebut juga tersambung dengan tubuh Xue Bohai, dimana Xue Bohai adalah pemasok utama dari energi merah yang menyelubungi boneka tersebut.
Xue Bohai langsung gelagapan menyembunyikan boneka yang ada di hadapannya. Dirinya tidak ingin ada siapapun yang mengetahui perihal boneka tersebut.
"Ada apa Ayah?" Tanya Xue Bohai setelah menyembunyikan boneka miliknya. Dirinya langsung menuju pintu untuk membukakan pintu yang tertutup rapat.
"Ada yang ingin Ayah bicarakan." Jawab Xue Liang yang langsung masuk ke dalam ruangan Xue Bohai setelah pintu dibuka. Menyamankan diri pada kursi yang ada di ruangan tersebut dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna emas.
"Sepertinya serius... Apa ini sesuatu yang penting?" Xue Bohai menatap amplop berwarna emas yang ada di atas meja. Dilihat dari bentuknya, pastilah ini sebuah undangan untuk acara yang resmi.
"Ayah tahu kamu mungkin tidak akan suka dengan hal ini, tapi ini menyangkut nama baik keluarga kita." Xue Liang mengelus dagu miliknya, memperagakan sisi bijaksana padahal dirinya tidak memiliki satupun rambut di dagunya.
"Ayah... Tolong jangan membuat aku penasaran, jika itu menyangkut nama baik keluarga, pasti aku akan melakukan yang terbaik." Jawab Xue Bohai dengan mantap.
"Hah... Syukurlah kalau kamu bisa berpikir dengan jernih." Xue Liang kini bisa sedikit tersenyum. "Aku tahu kamu masih sakit hati dengan penolakan lamaran Walikota Dong Liu untuk putrinya. Tapi demi menjaga nama baik keluarga kita..." Wajah Xue Bohai sedikit berubah ketika mendengar nama Walikota Dong Liu disebut. Dirinya memang menyimpan dendam pada putri Walikota yamg dengan sombongnya menolak lamaran pernikahan dari dirinya.
"Demi menjaga nama baik keluarga kita, aku harap kamu mau datang bersamaku di acara pesta yang diadakan oleh Walikota Dong Liu." Lanjut Xue Liang.
"Pesta?" Wajah Xue Bohai sedikit bingung, pesta apa yang diadakan Walikota ketika putrinya sedang sakit? Apakah Walikota sudah gila? Mengadakan pesta di saat putrinya tengah menderita dan tidak bisa membuka mata.
"Walikota merayakan kesembuhan putrinya. Kini putri Walikota telah sembuh dan bisa beraktifitas seperti biasa. Untuk itulah Walikota Dong Liu mengadakan pesta ini dan mengundang semua keluarga penting, bahkan keluarga dari luar kota juga ikut diundang."
"Apa? Sembuh?" Xue Bohai mengorek telinganya, memastikan tidak ada sumbatan yang merubah suara yang masuk ke dalam telinga miliknya. Baru saja dirinya memastikan Qi miliknya tetap terjaga dan tersalurkan ke dalam tubuh Putri Walikota Dong Liu, dan kini dirinya mendengar jika Putri Walikota sudah sembuh.
"Ada apa? Kenapa kamu begitu terkejut dengan berita kesembuhan Putri Walikota?" Xue Liang nampak curiga dengan ekspresi Xue Bohai yang nampak terkejut.
"Tidak ada apa-apa Ayah. Aku hanya tidak menduga ada tabib yang bisa menyembuhkannya. Aku dengar penyakit Putri Walikota tergolong penyakit yang aneh. Oleh karena itu... Tabib yang menyembuhkannya pastilah tabib yang sangat hebat." Xue Bohai mencoba mencari alasan yang tepat.
"Kamu benar... Tabib itu pasti bukan tabib biasa." Xue Liang nampak percaya dengan alasan Xue Bohai yang dibuat-buat.
"Tapi tabib itu pasti juga datang di acara nanti... Kita bisa berkenalan dan siapa tahu kita bisa bekerja sama dengannya." Senyum kecil sedikit terpancar dari Xue Liang. Memiliki tabib yang hebat untuk bekerja pada keluarga Xue? Jika sampai itu terjadi, maka nama baik keluarga Xue akan semakin terpandang.
"Jadi... Kamu mau ikut kan?" Tanya Xue Liang dengan serius kali ini. Tidak mengharapkan penolakan dari putra ketiganya yang akan menjadi penerusnya kelak.
"Tentu Ayah..." Jawab Xue Bohai yang juga ingin memastikan sendiri apakah Putri Walikota benar-benar telah sembuh atau berita ini hanya bualan belaka.