
"Tetua Mei Lin..." Song Huang memberi hormat pada salah satu Tetua pengurus Asosiasi Alchemist begitu dirinya dan Yin Sheng sampai di cabang Asosiasi Alchemist.
"Saudara Huang... Tumben datang ke cabang kami. Apa ada sesuatu yang kamu inginkan?" Tanya balik seorang wanita berumur tiga puluhan tahun. Meskipun telah berumur tiga puluhan tahun, kerutan maupun garis wajah sama sekali tidak nampak di wajahnya. Terlihat jelas jika wanita tersebut sangat menjaga penampilannya.
"Tetua Mei Lin... Kenapa sikapmu menunjukkan jika aku datang maka kamu akan terepotkan?" Song Huang memonyongkan bibirnya, menunjukkan sedikit protes atas sikap Mei Lin.
"Apa harus aku ingatkan semua? Terakhir kali kamu datang merengek meminta pil penguat dantian yang begitu langka dan sulit untuk dibuat. Dan yang sebelumnya, kamu..." Balas Mei Lin dengan tak kalah ketus.
"Sudah... Sudah Tetua Mei... Jangan diungkit-ungkit lagi. Biarlah yang sudah-sudah berlalu begitu saja." Song Huang tidak mau jika Mei Lin membuka semua aib miliknya di hadapan Yin Sheng. Dirinya langsung mengajak Tetua Mei Lin berjalan disisinya.
"Tetua Mei Lin... Aku membawa seorang pemuda yang jenius dalam Alchemist. Aku yakin dia akan menjadi kekuatan yang hebat jika bergabung dengan Asosiasi Alchemist." Bisik Song Huang yang tidak ingin Yin Sheng sampai ikut mendengar.
Tetua Mei Lin reflek menatap Yin Sheng dari atas sampai bawah. Menilai bakat kultivasinya dan juga cara berpenampilannya.
"Anak ini?" Mei Lin nampak ragu, baju yang dikenakan Yin Sheng tidak ada yang spesial sama sekali bahkan terlihat lusuh. Bakat kultivasinya memang cukup bagus, tapi enam belas tahun dengan dengan tingkat kultivasi alam penempaan Qi tahap 7 sudah sangat pasaran di suatu Sekte besar. Mei Lin bahkan sudah sering melihat bakat yang lebih hebat dari pemuda di hadapannya.
"Tetua Mei... Jangan tertipu dengan penampilannya, aku sudah melihat sendiri dia membunuh seorang Alam Ksatria dengan mudah." Song Huang mengerti jika Tetua Mei Lin meragukan kemampuan Yin Sheng.
"Jangan bercanda... Selisih dua Alam adalah jarak yang sulit untuk dikejar." Tetua Mei Lin menganggap Song Huang sedang membual.
"Jika saja memang itu adalah sebuah bualan, mungkin aku akan tertawa sekarang." Jawab Song Huang dengan acuh. Tidak peduli jika Tetua Mei Lin menganggapnya sedang bercanda.
"Ok... Kita lihat kemampuanmu. Kamu bisa mendaftar di loket pendaftaran sebelah sana. Aku sendiri yang akan menjadi juri kelulusanmu nanti." Mei Lin menunjuk suatu loket dan meninggalkan kedua pria tersebut.
"Senior Huang... Sepertinya Anda akrab dengan petinggi Asosiasi ini." Yin Sheng yang sedari tadi diam seribu bahasa akhirnya membuka mulutnya. Rasa penasaran akan hubungan apa yang dimiliki oleh Song Huang sehingga bisa begitu akrab dengan petinggi Aosisasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur.
"Tidak juga... Mereka hanya sering meminta bantuanku beberapa kali, begitu juga aku sering meminta bantuan pada mereka." Jawab Song Huang santai, dirinya melangkahkan kaki menuju loket yang kemudian diikuti oleh Yin Sheng.
"Biaya pendaftaran untuk memulai ujian Alchemist lima puluh perak. Semua biaya harus dibayar dimuka karena akan digunakan sebagai biaya pengganti bahan yang dipakai." Salah seorang wanita penerima tamu menjelaskan biaya pendaftaran pada Song Huang dan Yin Sheng.
"Lima puluh perak?" Song Huang nampak terkejut mendengar biaya yang lumayan tinggi. Untuk biaya kehidupan sehari di Kota Bintang Timur 10 perunggu sudah cukup. Satu perak adalah seratus perunggu, lima puluh perak berarti lima ratus perunggu. Itu artinya biaya pendaftaran menjadi seorang Alchemist bisa untuk hidup selama 50 hari di Kota Bintang Timur. Dan biaya itu tidak akan dikembalikan jika peserta gagal dalam melewati ujian.
"Pantas saja jarang orang mau menjadi Alchemist." Song Huang merasa biaya pendaftaran untuk menjadi Alchemist terlalu tinggi, sehingga jarang ada orang yang mau merelakan lima puluh perak untuk sekedar mendapatkan lencana Alchemist.
"Senior Huang... Ada apa?" Yin Sheng yang berdiri di belakang Song Huang bertanya.
"Saudara Yin... Maaf... Tapi apakah kamu memiliki uang untuk biaya pendaftaran?" Song Huang tadinya ingin dirinya yang mengurus semua administrasi, tapi lima puluh perak tentu terlalu berharga untuk dirinya yang sekedar pengawal bayaran lepas.
"Lima puluh perak..." Jawab Song Huang dengan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Oh... Baiklah..." Yin Sheng mengeluarkan sebuah koin emas dari dalam cincin dimensi. Tentu Yin Sheng tidak menunjukkannya di depan Song Huang, melainkan dirinya memasukkan tangannya terlebih dahulu ke dalam baju birunya. Sangat tidak bijak memamerkan harta yang kita miliki di depan semua orang. Begitulah salah satu pesan Xie Qinling pada Yin Sheng dahulu.
"Pemuda ini..." Song Huang terkejut melihat Yin Sheng mengeluarkan satu koin emas dengan mudah. Identitas mengenai siapa sebenarnya Yin Sheng pun kini semakin terngiang-ngiang di pikirannya.
"Silahkan isi data diri Anda... Dan tunggulah sampai kami menyiapkan tes ujian untuk Anda..." Petugas penerima tamu langsung menyerahkan selembar formulir begitu melihat Yin Sheng mampu membayar biaya pendaftaran.
"Ini kembaliannya Saudara Yin..." Song Huang mengembalikan uang yang tersisa kepada sang pemiliknya.
"Jangan sungkan Senior Huang. Senior sudah banyak membantuku... Senior bisa membawanya..." Jawab Yin Sheng dengan santai namun tetap sopan.
"Ini..." Bagai mendapat angin segar, Song Huang langsung memasukkan lima puluh perak yang tersisa ke dalam saku bajunya. "Terima kasih banyak Saudara Yin..."
Setelah menunggu selama satu jam, nama Yin Sheng akhirnya dipanggil untuk masuk ke dalam salah satu ruangan. Yin Sheng pun langsung mengikuti petugas yang memanggil namanya. Sementara Song Huang hanya bisa menunggu di luar ruangan, karena memang dirinya tidak diijinkan untuk ikut masuk ke dalam.
Ruangan tempat ujian Yin Sheng cukup luas. Hanya ada dua meja di ruangan tersebut. Satu meja merupakan meja juri, dimana Tetua Mei Lin duduk di kursi yang ada di belakang meja. Sementara satu meja penuh dengan beberapa bahan serta ada satu tungku yang biasa digunakan untuk membuat pil di atasnya.
Tetua Mei Lin menatap Yin Sheng dengan tajam. Di ruangan ini dirinya lah yang berkuasa. Dirinya adalah satu-satunya juri yang akan menilai Yin Sheng. Keputusan untuk memberikan Yin Sheng gelar seorang Alchemist atau tidak semua berada di tangannya.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya Mei Lin yang melihat Yin Sheng tampak sedikit gugup.
Sebenarnya Yin Sheng bukan gugup karena ujian Alchemist. Tetapi dirinya gugup karena harus berduaan dengan Tetua Mei Lin di satu ruangan. Ini adalah pengalaman pertama kalinya bagi Yin Sheng berada dalam satu ruangan dengan seorang perempuan.
"Tentu..." Yin Sheng berdiri di belakang meja yang penuh akan bahan-bahan.
"Jadi... Kamu ingin membuat apa?" Tanya Mei Lin pada pemuda bermata satu di hadapannya tersebut.
"Ehm... Aku tidak menemukan bahan yang cocok disini... Apa aku boleh memakai bahan pribadiku sendiri?" Tanya Yin Sheng yang setelah melihat bahan-bahan yang tersedia hanyalah tanaman herbal kelas rendah. Dan untuk membuat sebuah pil, tanaman seperti itu hanya akan menghasilkan pil kelas satu atau kelas dua.
"Cukup besar kepala... Silahkan... Kamu dipersilahkan melakukan sesukamu selama itu berhubungan dengan ilmu Alchemist." Mei Lin merasa sedikit tertarik dengan apa yang dilakukan oleh Yin Sheng. Jarang-jarang ada seorang pemula yang mau mengorbankan bahan berharga miliknya sendiri padahal dirinya sudah membayar bahan-bahan yang tersedia.
"Baiklah... Kita mulai..." Kata Yin Sheng sembari menggulung lengan bajunya. Tangan kanannya mengeluarkan sebuah kertas talisman kecil, sementara tangan kirinya sudah siap untuk menerima api yang akan keluar dari kertas talisman tersebut.
"Ini..." Kedua bola mata Mei Lin hampir melompat dari lubangnya. Dirinya sontak berdiri untuk melihat apa yang Yin Sheng lakukan secara lebih dekat.