
Seorang Pria berjanggut putih nampak sedang menuliskan sesuatu di papan berwarna putih. Tidak ada kuas tinta, ataupun batu berwarna yang Pria berjanggut putih tersebut pegang. Pria berjanggut putih murni menuliskan tulisan- murni dengan jarinya yang ujungnya memancarkan cahaya biru tua.
Tulisan Pria yang berperawakan lima puluh tahunan tersebut hanya sebentar menempel di papan putih, kemudian melayang-dan mendekati ke arah pandangan orang yang ada di hadapannya. Tulisan tersebut melayang di sekitar kepala, membuat orang di hadapan Pria berjanggut putih bisa semakin jelas membaca tulisan.
Aura Pedang
Hanya dua kata tersebut yang Pria berjanggut putih tulis. Mulut Pria berjanggut putih tersebut terus berkomat-kamit seiring dengan irama kata-kata yang seharusnya keluar dari mulutnya. Namun tidak ada suara yang terdengar sedikitpun bagi seorang yang ada di hadapan Pria berjanggut putih.
'Apa? Kenapa tidak ada suara yang terdengar? Sebenarnya kenapa aku? Dan... Dimana Aku?' Batin orang yang ada di hadapan Pria berjanggut.
Tulisan yang melayang akhirnya masuk ke dalam kepala orang di hadapan Pria berjanggut putih. Hawa dingin di kepala masuk dan menyegarkan kepalanya, seakan akan kepalanya baru saja disiram dengan air surga.
"Hah.... Hah..."
"Kamu sudah bangun?" Tanya Yao He yang tengah duduk di samping Yin Sheng. Pandangan Yao He membelakangi Yin Sheng, sehingga Yin Sheng tidak bisa melihat wajah Yao He.
"Paman... Kenapa aku tiba-tiba disini? Dimana Pria yang berjanggut putih?" Tanya Yin Sheng kebingungan, tiba-tiba dirinya merasa berpindah tempat dalam sekejap mata. Masih teringat jelas jika apa yang barusan dirinya lihat bukanlah sebuah mimpi belaka.
"Jadi kamu sudah mulai melihatnya?" Bukan jawaban dari Yao He yang Yin Sheng, melainkan pertanyaan lainnya.
"Maksud Paman?"
"Maafkan aku telah membuat kamu harus menanggung kehidupan yang berat nantinya?" Yao He membalikkan badannya ke arah Yin Sheng.
Yin Sheng melompat ke belakang melihat apa yang terjadi dengan wajah Yao He. Satu mata Yao He kini telah menghilang seutuhnya, hanya menyisakan lubang matanya saja. Tidak ada luka maupun noda darah di wajah Yao He, membuat Yin Sheng bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi dengan bola mata Yao He.
"Paman... Mata Paman..."
"Hah..." Yao He menghela nafas..."Tenanglah... Aku tidak apa-apa... Justru aku mengkhawatirkan keadaanmu."
"Yin Sheng... Duduk dan dengarkanlah... Ada satu hal yang harus aku bicarakan..." Yao He mesti berhati-hati untuk menjelaskan pada Yin Sheng. Dari sikap Yin Sheng saat ini, Yao He yakin Yin Sheng telah kehilangan akal sehatnya semalam. Apa yang dia lakukan murni dalam kendali emosi alam bawah sadarnya.
"Apakah Paman akan mengangkatku sebagai murid Paman?" Yin Sheng masih tertawa polos, sepertinya dirinya masih tidak ingat dengan kejadian semalam.
"Hah... Baiklah... Aku akan mengangkatmu sebagai muridmu... Tapi berjanjilah satu hal padaku!"
"Murid akan berusaha selalu menepati janji." Yin Sheng memberikan hormat kepada Yao He. Tidak dirinya sangka jika Yao He mau menerimanya sebagai murid. Ibunya pasti akan terkejut jika mengetahui hal ini.
"Berjanjilah untuk selalu bisa meredam emosimu! Dan juga, patuhlah pada perintah gurumu ini!" Yao He menepuk pundak Yin Sheng yang masih memberi hormat.
"Sumpah murid Yin Sheng atas nama langit, murid akan selalu berusaha meredam emosi dan mematuhi perintah dari Guru."
"Baguslah... Sekarang dengarkan baik-baik..."
###
"Ibu... Ibu..."
Hanya sekedar tangisan tidak bisa menggambarkan seperti apa luka hati yang Yin Sheng alami. Melihat Ibunya satu-satunya kini telah tertidur selamanya di dalam pelukannya. Luka-luka yang ada di tubuh Ibunya bahkan belum mengering, bercak darah kembali menempel pada baju Yin Sheng yang sudah Yao He ganti semalam.
"Maafkan aku Yin Sheng... Aku tidak bisa menghidupkan orang yang telah mati..." Yao He hanya bisa mengelus kepala Yin Sheng. Entah kenapa sisi lembut di dalam hatinya tergugah ketika melihat tatapan Yin Sheng yang penuh dengan kesedihan.
Yao He membiarkan Yin Sheng untuk meluapkan kesedihannya, memeras kantong air matanya hingga kantong air mata tersebut tidak lagi bisa bekerja.
"Guru... Apa kau tahu pelakunya?"
"Hah... Kamu sudah membunuhnya..."
Yin Sheng tentu terkejut mendengar jawaban Gurunya. Dirinya? Membunuh pembunuh Ibu? Bagaimana dirinya melakukan? Bahkan membunuh hewan ternak saja Yin Sheng tidak tega, bagaimana dirinya tega membunuh orang?
"Hah..." Yao He kembali menjelaskan penjelasannya yang terpotong tadi karena Yin Sheng langsung berlari ke arah jasad Ibunya ketika mengetahui Ibunya telah meninggal.
Terpukul!
Itu tentu yang Yin Sheng alami saat ini. Seorang anak berumur 10 tahun mendengar apa yang dirinya lakukan dalam semalam.
"Tenangkan dirimu... Aku tahu kamu merasa begitu bersalah... Tapi gunakan rasa bersalahmu sebagai cambuk untuk menata masa depan!" Yao He mencoba menghibur Yin Sheng yang masih tampak terpukul mental.
"Semua ini terjadi karena kita tidak siap untuk menerima cobaan dari luar. Jika kita cukup kuat untuk menahan cobaan dari luar, tentu hal seperti ini tidak akan terjadi."
Yin Sheng tentu tidak merespon perkataan gurunya. Tatapannya masih kosong memandang ke arah desa yang kini tengah sunyi senyap. Bagaimanapun juga dirinyalah yang membuat desa tersebut menjadi sunyi senyap.
Hilir mudik orang-orang desa, ramah tamah-canda tawa yang sering terdengar dari penduduk desa, kehangatan banyak keluarga yang dimiliki penduduk desa, semua dirinya hancurkan dalam semalam.
"Apa aku jahat guru?"
"Jahat ataupun baik itu relatif Yin Sheng. Akan sebaik apapun kamu, di hadapan orang yang membencimu kamu akan tetap terlihat buruk. Seburuk apapun kamu, di hadapan orang yang menyayangimu kamu tetap orang baik."
"Aku tahu kata-kata itu tidak akan bisa mengobati lukamu. Apa yang telah terjadi juga tidak bisa kita ubah lagi."
"Namun kita selalu bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi."
"Guru..." Yin Sheng bangkit dan menghadap gurunya. "Bisa guru mengajarkanku untuk menjadi kuat? Aku terlalu lemah hingga tidak bisa melindungi orang-orang di sekitarku."
"Hem..." Yao He bergumam. Mengajari Yin Sheng menjadi kuat tentu bukanlah hal yang sulit, mengingat tubuh Yin Sheng sendiri merupakan salah satu ketidaknormalan tubuh manusia. Dirinya bisa menjadi kuat selama dirinya memiliki bahan yang cukup untuk menjadi kuat, Qi.
"Menjadi kuat secara luar itu mudah, tapi menjadi kuat di dalam itu adalah yang utama." Yao He menunjuk dada Yin Sheng. Sekuat apapun Yin Sheng nantinya, jika tidak bisa mengendalikan emosi-maka kekuatan Yin Sheng nantinya yang akan mengambil kesadarannya. Dan kejadian seperti semalam hanya akan terulang lagi jika hal itu terjadi.
"Murid mohon pada Guru... Ajari murid semuanya Guru... Murid akan melakukan apapun yang Guru minta." Yin Sheng bersujud di hadapan Yao He.
'Inikah yang namanya menjadi Guru?' Hati Yao He tergetar melihat ketulusan Yin Sheng dalam memohon kepadanya. Selama ini dirinya tidak pernah mau mengangkat murid meski banyak yang memintanya. Dulu menurutnya mempunyai murid adalah suatu hal yang merepotkan.
"Nampaknya semua berubah..." Yao He terkekeh kecil. Membayangkan perubahan kehidupan dirinya hanya dalam hitungan bulan.
Mungkin memang inilah takdir yang harus dirinya jalani. Memiliki murid untuk melanjutkan apa yang sudah dirinya mulai, namun tidak bisa dirinya capai.
"Ayo... Banyak yang harus kita lakukan..." Yao He menepuk pundak Yin Sheng yang masih bersujud di depannya.