
Kemeriahan pesta mesti terpecahkan oleh teriakan seorang pelayan. Semua orang yang tengah menikmati pesta malam itu langsung berbondong-bondong ke arah sumber teriakan.
"Ada apa? Teriak salah satu penjaga yang bereaksi paling cepat. Dirinya ingin sekali memaki sang pelayan karena telah merusak kemeriahan pesta yang ada.
Pelayan tersebut tidak menjawab pertanyaan si penjaga, dirinya hanya bisa duduk terkulai dengan tangan menunjuk ke salah satu ujung lorong.
"Ini... Mati aku..." Penjaga tersebut merasa hidupnya akan berakhir saat itu juga. Melihat seseorang tengah terduduk lemas dengan luka melepuh di beberapa bagian tubuhnya. Wajah orang tersebut masih bisa penjaga kenali, karena hanya sebagian kecil dari wajahnya yang telah melepuh.
Xue Bohai... Orang tersebut adalah Xue Bohai. Sekali melihat penjaga tersebut bisa tahu jika Xue Bohai telah mati dengan cara yang mengenaskan. Meskipun tidak ada bercak darah yang ada di sekitar tubuh Xue Bohai, tatapan mata yang Xue Bohai tunjukkan saat ini menunjukkan jika Xue Bohai mati dengan sangat tersiksa.
"Ada apa?" Walikota Dong Liu tiba bersama beberapa tamu undangan. Mereka belum melihat mayat Xue Bohai karena memang pencahayaan ujung lorong sedikit gelap. Perlu mata yang teliti dan jarak yang cukup dekat untuk bisa melihat detail dari kondisi mayat Xue Bohai.
"Tu... Tu...Tuan... Maafkan saya..." Penjaga tersebut terbata-bata sembari menunjuk mayat Xue Bohai. Dirinya benar-benar merasa ketakutan jika sampai dituduh sebagai pelaku. Tidak perlu dituduh sebagai pelaku, kondisi dirinya yang sedang menjaga pesta pun sudah cukup menjadikan dirinya untuk mendapat hukuman karena telah lalai dalam menjaga keamanan.
Berbeda dengan ekspresi penjaga dan pelayan yang menemukan pertama, Dong Liu nampak sedikit tersenyum melihat mayat Xue Bohai. Namun ketenangan langsung kembali menguasai Dong Liu, tidak mungkin dirinya menampakkan kesenangan atas matinya Xue Bohai di depan umum.
"Tuan Xue Bohai..." Dong Liu berpura-pura terkejut dan menampakkan wajah penuh kesedihan.
"Penjaga!" Dong Liu berteriak. "Cepat cari pelakunya!" Lanjut Dong Liu dengan wajah tegas senatural mungkin.
Penjaga yang sedari tadi diam langsung berlari untuk melanjutkan perintah kepada semua rekan-rekannya.
Xue Lian yang sedari tadi asik beramah tamah dengan beberapa Tetua dari berbagai sekte akhirnya ikut mendekati keramaian. Walikota Dong Liu yang melihat kedatangan Xue Lian langsung mengambil inisiatif untuk mendekat dan meminta maaf. Bagaimanapun juga hal seperti ini terjadi di kediamannya. Sebagai tuan rumah, dan untuk menjaga martabatnya sebagai Walikota dirinya diwajibkan untuk meminta maaf.
"Tuan Xue Lian... Maafkan aku..." Walikota Dong Liu berpura-pura bersujud di depan Xue Lian. Xue Lian masih dalam keadaan bingung melihat Walikota Dong Liu bersujud di hadapannya dan terus terusan meminta maaf.
"Walikota Dong Liu... Ada apa? Tolong jangan merendahkan martabat Anda seperti itu." Xue Lian membantu Walikota untuk berdiri. Apa yang dilakukan oleh Walikota Dong Liu membuat Xue Lian belum menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi.
"Putra Anda... Xue Bohai... Maafkan aku karena tidak mampu menjaga pesta ini dengan benar." Walikota Dong Liu menunjuk dengan tangan gemetar. Kali ini dirinya benar-benar takut, karena jarak antara dirinya dan Xue Lian begitu dekat. Jika Xue Lian sampai mengamuk dan melampiaskan kemarahan kepada dirinya, maka tidak akan ada yang bisa menolongnya.
"Hai'er..." Air mata Xue Lian tiba-tiba tumpah dengan sendirinya, melihat anak yang seharusnya akan menjadi penerusnya terduduk dengan luka yang mengenaskan.
"HAI'ER..." Benar saja apa yang Walikota Dong Liu takutkan. Xue Lian mengeluarkan Qi dalam jumlah yang besar. Walikota Dong Liu sampai terpental beberapa meter ke belakang karena tekanan Qi yang kuat.
"Anda tidak apa-apa Tuan?" Chang Ming memang selalu bisa diandalkan untuk melindungi Walikota Dong Liu. Dengan sigap dirinya menangkap tubuh Dong Liu agar tidak berbenturan dengan dinding.
"Siapa pelakunya?" Teriak Xue Lian dan tatapannya mengarah ke semua orang yang ada di tempat tersebut.
Tidak ada yang berani dan cukup bodoh untuk mengaku atau sekedar mengeluarkan kata-kata. Xue Lian adalah Kultivator ranah Alam Raja midstage, hanya Tetua Mei Ling seorang yang mungkin bisa mengimbangi Xue Lian jika bertarung satu lawan satu di tempat tersebut.
"Tuan Xue... Tolong tenangkan dirimu..." Walikota Dong Liu mencoba menenangkan Xue Lian.
"Dong Liu... Kamu harus bertanggung jawab atas semua ini!" Xue Lian yang sedang tersulut emosi malah menjadikan Walikota Dong Liu sasaran kemarahannya.
Xue Lian menarik pedang bermata dua miliknya dan maju menerjang Walikota Dong Liu.
"Tuan... Minggirlah!" Chang Ming langsung berdiri di hadapan Walikota Dong Liu. Menarik pedang miliknya untuk menghalau serangan Xue Lian.
Thang...
Bruk...
Perbedaan kekuatan keduanya terlampau besar. Meskipun sama-sama berada di ranah Alam Raja, Xue Lian yang sudah bertahun-tahun berada di ranah Alam Raja tidak bisa dibandingkan dengan Chang Ming yang masih berada di tahap awal ranah Alam Raja. Chang Ming terpental ke belakang sampai tubuhnya menabrak tembok setelah menghalau serangan dari Xue Lian.
Walikota Dong Liu dan semua tamu undangan langsung tercengang melihat pertukaran serangan barusan. Para Tetua Sekte-sekte yang hadir pun juga tidak berani untuk mengambil sikap. Mereka semua begitu dilema ingin membantu pihak yang mana. Salah bertindak, sekte mereka malah akan ikut mendapatkan masalah di kedepannya.
"Xue Lian! Cukup!" Tetua Mei Lin tiba-tiba muncul dan menghalau serangan yang dilancarkan oleh Xue Lian.
"Mei Lin... Jangan ikut campur!" Xue Lian masih mengeram penuh emosi. Namun dirinya juga masih bisa sedikit berpikir untuk tidak berurusan dengan Tetua Mei Lin.
"Tidak ada gunanya membunuhnya sekarang! Lebih baik kita mencari tahu siapa pelaku sebenarnya!" Tetua Mei Lin mencoba mengingatkan Xue Lian.
Sebenarnya Mei Lin malas untuk membantu Walikota Dong Liu. Namun dirinya akan lebih malas lagi dengan urusan ke depannya jika Xue Lian membunuh Walikota Dong Liu. Pihak Kerajaan Twinpillar tentu tidak akan tinggal diam, Kota Bintang Timur bisa menjadi kota penuh masalah nantinya.
Dan jika sampai hal seperti itu terjadi, perkembangan Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur pasti akan terhambat. Semakin lama perkembangan Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur, semakin lama pula dirinya harus mengurusi cabang kota pinggiran seperti ini.
Dan Tetua Mei Lin tidak ingin itu terjadi. Target dirinya dalam satu dua tahun ke depan, dirinya sudah bisa dipindah tugaskan ke Kota yang lebih besar.
"Minggirlah Mei Lin!" Xue Lian masih mempertahankan egonya, kemarahan dan kesedihan putranya membuat dirinya tidak bisa memikirkan efek jangka panjang.
"Aku tidak bisa membiarkanmu membunuhnya!" Tetua Mei Lin pun bersikeras untuk melindungi Walikota Dong Liu. Dirinya juga melirik beberapa Tetua dar beberapa Sekte yang hadir untuk membantu dirinya menghadapi Xue Lian.
Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Tetua Mei Lin, para tetua dari beberapa Sekte akhirnya ikut membantu Tetua Mei Lin. Meskipun mereka semua tidak berniat untuk membunuh Xue Lian, melainkan hanya menahan dan mengunci pergerakan Xue Lian.
Dikeroyok lebih dari sepuluh orang akhirnya membuat Xue Lian terkunci pergerakannya. Dirinya terlilit rantai yang digunakan oleh salah satu Tetua dari Sekte Singa Malam, salah satu Sekte bintang empat yang memang bermarkas di dekat Kota Bintang Timur.
"Xue Lian... Hentikan... Ini tidak ada gunanya, Walikota Dong Liu belum tentu bersalah!" Tetua Mei Lin kembali memperingatkan Xue Lian yang nampak masih mencoba untuk membebaskan diri dari rantai yang membelenggunya.
"Lebih baik kita memeriksa kondisi mayat Xue Bohai, dan segera mengetahui pelakunya. Jika pelakunya telah kabur, paling tidak pelakunya masih belum jauh. Kita masih bisa mengejarnya."
Penjelasan Tetua Mei Lin dibenarkan oleh para Tetua Sekte dan semua tamu undangan yang hadir. Meneliti dengan jelas pelaku sebenarnya adalah jalan terbaik, daripada dengan penuh emosi mencoba membunuh sang punya tempat.
Tetua Mei Lin tidak menunggu jawaban dari Xue Lian. Dirinya langsung mendekati mayat Xue Bohai untuk memeriksa lebih jauh.
"Racun?" Satu kata Tetua Mei Lin langsung menarik perhatian para Tetua Sekte dan juga Xue Lian. Mereka melihat luka melepuh di tubuh Xue Bohai, mereka sempat berpikir jika Xue Bohai matu karena terbakar atau efek dari teknik elemen api.
"Apa maksud Tetua Mei?" Xue Lian kini mulai bisa berpikir dengan jernih. Mendengar kata racun, berarti para Tetua Sekte maupun tamu undangan pasti bukanlah pelakunya. Tidak ada Sekte yang menekankan basis kultivasi racun di wilayah sekitar Kota Bintang Timur. Meskipun racun bisa diperjual belikan dengan bebas, tapi dengan tingkat Kultivasi Xue Bohai butuh seorang Kultivator racun yang handal untuk bisa membunuhnya.
"Anakmu dibunuh dengan racun!" Tetua Mei Lin kembali mempertegas kata-katanya.
"Tidak mungkin! Tidak ada..."
"Aku tahu yang kamu pikirkan... Tapi itulah yang sebenarnya terjadi. Apa anakmu pernah menyinggung orang dari Sekte illusion Poison?" Tanya balik Tetua Mei. Dirinya bisa beranggapan seperti itu karena yang bisa menggunakan racun sampai tahap seperti itu hanya orang-orang yang handal. Dan Sekte Illusion Poison adalah kemungkinan terbesar mengingat Sekte tersebut memang Sekte yang berbasis pada Kultivasi ilusi dan racun.
"Tidak... Tidak mungkin..." Xue Lian merasa tidak berdaya, jika memang Xue Bohai dibunuh orang dari Sekte illusion Poison maka tidak ada kesempatan bagi dirinya untuk membalas dendam.
Sekte illusion Poison adalah satu dari lima Sekte besar yang ada di Benua Kura-kura Raksasa. Tidak ada orang yang cukup bodoh untuk mau berurusan dengan Sekte sebesar itu.
"Aku tahu yang kamu rasakan... Tapi aku juga tidak menemukan jejak Qi yang menempel di tubuh anakmu. Artinya anakmu benar-benar dibunuh dengan racun, dan melihat ekspresinya..." Tetua Mei Lin tidak mau melanjutkan kata-katanya, takut jika Xue Lian semakin terpuruk dengan keadaan yang menimpa dirinya.
Walikota Dong Liu yang mengetahui siapa pelaku sebenarnya hanya bergidik ngeri. Dirinya tidak menduga sama sekali jika Yin Sheng berasal dari Sekte sebesar Sekte illusion Poison. Dirinya merasa beruntung tidak pernah menyinggung Yin Sheng selama ini.
"Tetua Mei..." Walikota Dong Liu mencoba mendekat ke arah Tetua Mei Lin.
"Hem... Tuan Dong Liu... Aku tahu kamu juga merasa bersalah, tapi semua yang ada disini pun juga tidak mungkin bisa berbuat banyak jika melihat pelakunya. Aku tidak memihak, tapi ini memang juga bukan salahmu." Tetua Mei Lin seakan tahu apa yang ingin Walikota tanyakan.
"Tuan Xue Lian... Lebih baik segera urus pemakaman untuk anakmu. Berikan dia penghargaan terakhir yang layak. Jika kamu ingin membalas dendam, aku tidak akan mencegahmu. Tapi jangan pernah libatkan kota ini dalam tindakanmu." Tetua Mei Lin memberi saran kepada Xue Lian.