
Trang...
Trang...
Trang...
Benturan pedang Kultivator ranah Alam Raja dengan payung Yin Sheng terjadi beberapa kali. Di setiap benturan kedua senjata tersebut, Yin Sheng terpaksa harus mengambil satu langkah mundur karena perbedaan kekuatan yang cukup kentara.
"Harus ku akui... Kekuatan fisikmu diluar nalar orang biasa!" Kultivator ranah Alam Raja memuji Yin Sheng yang bisa menahan tebasan pedang sekuat tenaga darinya. Niatnya dirinya ingin menyerang Yin Sheng dengan cepat dan mengakhiri pertarungan ini dengan segera. Sehingga dirinya mengeluarkan kekuatan penuhnya dari sejak awal pertarungan dimulai.
Namun kenyataan yang terjadi berbeda dari keinginannya. Yin Sheng nampak bisa mengimbangi serangan yang datang kepadanya meskipun harus dipaksa terus mundur.
"Tapi kita lihat sejauh mana kamu bisa bertahan!" Kultivator ranah Alam Raja mengambil satu kuda-kuda. Pedang miliknya terangkat di atas bahu sedangkan tangan kirinya kini maju ke depan dada.
"Tusukan petir biru!" Aliran listrik keluar dari tubuh Kultivator ranah Alam Raja dan berkumpul di pedang miliknya. Kultivator ranah Alam Raja memajukan pedangnya ke depan dan listrik-listrik yang berkumpul di pedangnya langsung bergerak menyasar Yin Sheng bagaikan sebuah petir berwarna biru.
Boom...
Boom...
Boom...
Total lima kali ledakan terjadi di tempat Yin Sheng berdiri. Kepulan debu yang dihasilkan dari efek ledakan langsung menutupi keseluruhan area.
"Sayang sekali bakat seperti dia harus mati di tempat ini." Kultivator ranah Alam Raja sedikit menyesali perbuatannya barusan. Jika saja Yin Sheng tidak terlahir di Sekte Air terjun berantai, Yin Sheng pasti akan menjadi seorang Kultivator yang hebat di masa depan.
Ciu...
Thang...
Belum sempat kepulan debu menghilang, sebuah jarum melesat ke arah Kultivator ranah Alam Raja. Beruntungnya Kultivator ranah Alam Raja tidak lengah sehingga bisa menangkis serangan jarum barusan.
"Mustahil..." Satu kata yang keluar dari mulut Kultivator ranah Alam Raja ketika melihat bayangan seseorang berjalan perlahan keluar dari kepulan debu. Dari bentuk tubuh bayangan tersebut Kultivator ranah Alam Raja bisa menduga jika orang tersebut adalah Yin Sheng.
"Tadi hampir saja Senior..." Yin Sheng kini memainkan payung yang dibawanya. Payung tersebut adalah penyelamat nyawanya kali ini.
"Bagaimana bisa kamu selamat?" Kultivator ranah Alam Raja menggosok kedua matanya, memastikan dirinya tidak sedang melihat arwah Yin Sheng.
"Ah... Bagaimana ya... Itu akan membongkar rahasiaku jika aku ucapkan!" Jawab Yin Sheng dengan sebuah senyuman polos.
Yang tidak diketahui Kultivator ranah Alam Raja adalah Yin Sheng telah menangkis serangan dahsyat yang dilakukan oleh Kultivator ranah Alam Raja. Yin Sheng dengan cepat mengeluarkan lima lembar talisman bertuliskan 'Dinding tanah'. Dengan dinding tanah tersebut Yin Sheng mengurangi daya hancur yang dihasilkan oleh serangan Kultivator ranah Alam Dewa.
Namun tentu hanya dengan dinding tanah saja tidak cukup untuk menghentikan serangan petir Kultivator ranah Alam Raja tadi. Payung yang dibawa Yin Sheng lah yang menjadi penentunya.
Payung tersebut adalah sebuah senjata kelas bumi, dimana kemampuan spesial payung tersebut adalah mampu menangkis segala bentuk serangan selama kekuatan serangan tidak terlampau jauh dari pengguna payungnya. Dengan berkurangnya daya hancur serangan petir karena dinding tanah, ditambah kekuatan Yin Sheng yang memang di atas rata-rata Alam penempa. Yin Sheng mampu menghalau serangan Kultivator ranah Alan Raja tadi dengan sempurna.
"Kini giliranku Senior..." Yin Sheng mengeluarkan dua aura secara bersamaan, aura hitam dan putih dari tubuhnya. Menandakan jika Yin Sheng menggunakan kedua jenis qi yang dimilikinya.
"Eagle Sword... Hidden teknik... Seven Art of Kill, First Step and Second Step!" Yin Sheng mengalirkan qi ke dalam kakinya dalam langkah pertama Seven Art of Kill, membuat gerakannya begitu cepat. Dalam satu tarikan nafas Yin Sheng sudah muncul di hadapan Kultivator ranah Alam Raja. Sedangkan langkah kedua adalah sebuah gerakan kombinasi serangan.
Trang...
Trang..
Berkali-kali serangan payung Yin Sheng dihalau oleh Kultivator ranah Alam Raja. Namun Seven Art of Kill adalah sebuah teknik pedang yang ditujukan untuk membunuh dengan cepat. Kultivator ranah Alam Raja dipaksa terus bertahan untuk menangkis serangan dari Yin Sheng.
"Ini..." Kultivator ranah Alam Raja tidak menduga sama sekali dengan apa yang dilakukan oleh Yin Sheng di tengah-tengah serangan. Menghalau serangan-serangan Yin Sheng saja sudah membuat dirinya kerepotan, kini ditambah munculnya enam bayangan tambahan. Kultivator ranah Alam Raja semakin kesulitan untuk menebak arah serangan Yin Sheng.
"Hia...." Merasa terdesak Kultivator ranah Alam Raja mengeluarkan ledakan aura untuk membuat Yin Sheng terpental.
Slash...
Slash...
Sayangnya apa yang diinginkan oleh Kultivator ranah Alam Raja tidak pernah terjadi. Yin Sheng memahami betul apa yang namanya aura pedang. Tebasan payung Yin Sheng bisa membelah apapun, bahkan itu adalah sebuah aura yang mencoba membuatnya terpental sekalipun.
Ketika Kultivator ranah Alam Raja meledakkan auranya, disitulah satu titik lemah terbuka. Yin Sheng memanfaatkan momentum yang terjadi untuk mendaratkan tiga tebasan beruntun di dada serta pundak Kultivator ranah Alam Raja.
"Sialan kau bocah..." Kultivator ranah Alam Raja kini ingin sekali membunuh Yin Sheng. Luka yang baru saja diberikan oleh Yin Sheng cukup dalan untuk membuat dirinya merasa kesakitan.
"Kau benar-benar meminta mati!" Kultivator ranah Alan Raja mengeluarkan aura dalam jumlah yang sangat besar. Dirinya menggunakan semua qi yang dimilikinya untuk melakukan satu teknik pamungkas miliknya.
"Thunder Soul Body!" Percikan listrik kini menutupi seluruh tubuh Kultivator ranah Alam Raja. Percikan listrik tersebut semakin banyak, hingga akhirnya seluruh tubuh Kultivator ranah Alam Raja bagaikan manusia dengan kulit listrik.
"Kita lihat sekarang siapa yang lebih cepat!" Kultivator ranah Alam Raja melempar pedangnya ke arahYin Sheng.
Yin Sheng dengan cepat menghindar, namun Kultivator ranah Alam Raja memang sengaja melakukan hal tersebut. Kultivator ranah Alam Raja sudah muncul begitu saja di hadapan Yin Sheng yang tengah melompat. Memberikan satu pukulan terarah ke perut Yin Sheng.
Bug...
Yin Sheng berhasil menangkis serangan tersebut, namun tenaga serta listrik yang menyelimuti kulit Kultivator ranah Alam Raja membuat Yin Sheng terpental ke belakang. Kedua punggung tangan yang Yin Sheng gunakan untuk menahan pukulan pun kini nampak menghitam, bagaikan sebuah kayu yang terbakar menjadi arang.
"Ini bahaya..." Yin Sheng langsung sadar jika dirinya tidak bisa menangkis serangan Kultivator ranah Alam Raja. Namun menghindari serangan juga bukanlah suatu hal yang mudah. Kecepatan Kultivator ranah Alam Raja meningkat hampir tiga kali lipat dari sebelumnya.
Beberapa kali Yin Sheng harus terkena pukulan maupun tendangan dari Kultivator ranah Alan Raja. Kini tubuh Yin Sheng dipenuhi luka bakar yang terasa sangat panas.
"Bagaimana bocah? Ada kata terakhir yang ingin kamu ucapkan?" Kultivator ranah Alam Raja kini berjalan perlahan ke arah Yin Sheng yang tengah terbaring di atas tanah dan mencoba bangkit. Tangan kanannya yang di selimuti listrik tengah bersiap untuk memberikan satu pukulan terakhir.
"Kata terakhir? Cuih... Seakan aku akan mati disini... Aku masih belum akan mati di tempat ini." Ucap Yin Sheng yang kini tengah sanggup berdiri kembali.
"Besar mulut kamu bocah... Kini rasakan perbedaan kekuatan di antara kita. Sampaikan salamku pada Dewa Kematian!" Kultivator ranah Alam Raja maju menerjang ke arah Yin Sheng. Tangan kanannya meruncing bersiap untuk memberikan satu tusukan terarah ke jantung Yin Sheng.
"Segel mata... Divine Prison!" Yin Sheng akhirnya mengaktifkan satu kartu AS terakhir yang dimilikinya. Segel mata, kemampuan menghentikan pergerakan lawan dengan seketika. Entah itu seberapa cepat lawannya, selama tertangkap mata Azhura maka akan bisa terkena segel mata darinya.
'Apa?' Kultivator ranah Alam Raja bingung seketika, dirinya hanya bisa mengumpat di dalam hati karena tidak bisa berbicara.
"Yang harusnya menitipkan salam ke Dewa Kematian itu adalah kamu."
Slash...
Satu tebasan payung Yin Sheng membuat pandangan Kultivator ranah Alam Raja menggelap seketika. Kini akhirnya dia bisa menyampaikan salam yang dititipkan Yin Sheng kepada Dewa Kematian.
Brug...
Yin Sheng terjatuh tertekuk lutut setelah kejadian itu terjadi. Seluruh tubuhnya terasa lemas karena kehabisan tenaga dan rasa sakit daru luka yang di deritanya.
"Aku harus segera menyembuhkan diri..." Ucap Yin Sheng yang langsung menelan beberapa pil pemulih Qi dan pil penyembuh. Di tengah pertarungan seperti ini, akan sangat berbahaya jika sampai dirinya bertemu lawan dalam kondisi penuh luka.