
Itulah sejarah munculnya para Kultivator di antara para ras manusia. Para manusia yang mampu menyerap energi alam akhirnya mulai mengembangkan kekuatan mereka. Melimpahnya energi alam yang tersedia untuk diserap, serta jumlah penyerap yang baru sedikit. Membuat perkembangan para Kultivator tersebut menjadi sangat pesat.
Iblis memanfaatkan keadaan perkembangan Kultivator tersebut dengan sangat baik. Sekali lagi iblis menghasut hati para manusia yang menjadi Kultivator untuk melakukan hal yang tercela. Para iblis menghasut para Kultivator untuk mulai membunuh para monster yang ada. Menghasut para Kultivator untuk membuktikan kekuatan yang mereka miliki telah melebihi ras yang paling kuat.
Seiring berjalannya waktu, apa yang dilakukan oleh para Kultivator akhirnya diketahui oleh pemimpin ras manusia. Pemimpin ras manusia murka, karena para Kultivator telah melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan apa yang dirinya ajarkan kepada mereka. Apa lagi mereka telah membunuh pemimpin ras tanaman, salah satu makhluk yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dengan tangannya sendiri.
Para Kultivator yang telah mendapat kekuatan, merasa jika pemimpin ras manusia terlalu berlebihan. Para Kultivator beranggapan jika mereka hanya mencoba untuk bertahan hidup dari kerasnya alam dan ingin berumur panjang selayaknya ras yang lain.
Merasa tidak dihargai pemimpin ras manusia akhirnya menjadikan para Kultivator sebagai kriminal. Pemimpin ras manusia mengusir mereka dan tidak mengakuinya sebagai bagian dari ras manusia.
Para Kultivator yang mendengar hal tersebut tentu merasa sangat marah. Merasa menang jumlah dan merasa lebih kuat, para Kultivator akhirnya menyerang pemimpin ras manusia beserta pengikut setianya.
Hasil akhir tentu begitu mudah ditebak, para Kultivator bisa dengan mudah memenangkan pertikaian sesama ras manusia. Pemimpin ras manusia beserta para pengikut setianya tidak bisa memberikan perlawanan yang berarti kepada para Kultivator yang sangat kuat.
Dan untuk kesekian kalinya, iblis menggunakan kesempatan yang ada untuk menghasut para Kultivator. Iblis menghasut jika manusia yang tidak menjadi Kultivator adalah ras manusia kelas dua, sedangkan para Kultivator adalah ras manusia yang utama.
Para Kultivator tentu sangat setuju dengan pemahaman seperti itu. Karena pemahaman seperti itu akan sangat menguntungkan bagi para Kultivator. Dari situlah terbentuknya suatu sistem kasta dan juga perbudakan. Seseorang yang lebih kuat dianggap memiliki kasta yang lebih tinggi, sedangkan yang lemah harus rela untuk hidup di kasta rendah dan melayani orang-orang yang memiliki kasta tinggi.
Namun satu kesalahan besar telah dilakukan oleh para Kultivator tersebut, yaitu menunda kematian pemimpin ras manusia. Pemimpin ras manusia adalah ciptaan langsung Yang Maha Pencipta, dirinya tentu memiliki akses langsung untuk berhubungan dengan Yang Maha Pencipta.
Tepat sebelum kematiannya, Pemimpin ras manusia yang mengetahui dalang dibalik semua ini adalah ras Iblis meminta kepada Yang Maha Pencipta untuk membuatkan satu dunia lagi. Pemimpin ras manusia juga meminta kepada Yang Maha Pencipta untuk memindahkan semua ras iblis ke dalam dunia baru tersebut. Di ujung kematiannya, Pemimpin ras manusia masih berharap jika ras manusia masih bisa kembali seperti dahulu kala. Yaitu hidup berdampingan dengan semua ras yang Yang Maha Pencipta ciptakan.
Melihat ketulusan permintaan Pemimpin ras manusia, Yang Maha Pencipta mengabulkan permintaannya. Yang Maha Pencipta tidak hanya menciptakan satu dunia tambahan, melainkan Yang Maha Pencipta menciptakan puluhan bahkan ratusan dunia berbeda.
Namun Yang Maha Pencipta juga sangat adil. Apa yang telah Yang Maha Pencipta lakukan tidak adil bagi ras iblis karena harus terkurung dalam satu dunia. Sedangkan ras iblis adalah ras yang memiliki ambisi sangat besar, oleh karena itu Yang Maha Pencipta memberikan akses kepada ras iblis untuk memindahkan jiwa mereka ke semua dunia yang dirinya ciptakan. Meskipun tubuh utamanya tetap harus terkunci di dalam satu dunia yang khusus dihuni oleh ras iblis.
Pemimpin ras Iblis tidak merasa keberatan dengan apa yang Yang Maha Pencipta lakukan. Bagi dirinya, jiwa yang bisa berpindah-pindah sudah lebih dari cukup bagi ras iblis. Karena sejatinya ambisi ras iblis terletak di jiwa mereka, bukanlah di tubuh mereka. Selama jiwa mereka bebas, ras iblis masih bisa bebas melakukan apa yang mereka inginkan.
"Hahaha... Selain gambar-gambar itu... Ada satu hal lagi yang ingin aku tunjukkan..." Xu Feng melangkahkan kaki ke salah satu sudut ruangan. Terlihat sebuah meja kecil yang terbalut kain hitam dengan berbagai gambar formasi berwarna emas di kain tersebut.
"Apa itu Senior?" Tanya Yin Sheng yang telah berdiri di belakang Xu Feng. Mengamati meja kecil di hadapannya dengan seksama.
"Jangan terburu-buru anak muda..." Xu Feng tersenyum sesaat sebelum melakukan segel tangan. Dirinya membuka segel formasi yang terdapat di kain hitam yang membungkus meja kecil di hadapannya.
"Senior..." Yin Sheng mencoba mengatakan kepada Xu Feng, jika dirinya merasa sangat tertekan.
"Tahanlah sebentar... Kamu tidak akan merasa rugi setelah melihatnya..." Xu Feng akhirnya membuka kain hitam yang menutupi meja.
Sebuah meja kecil dengan kotak peti emas kecil terlihat setelah Xu Feng membuka kain hitam. Dari kotak peti emas tersebutlah aura yang menekan tersebut berasal. Xu Feng membuka kotak peti emas tersebut dan sebuah bola berwarna-warni kini bisa dilihat oleh Yin Sheng.
"Apa itu Senior?" Yin Sheng mencoba bertahan sekuat tenaga. Rasa penasaran di dalam dirinya memaksa dirinya untuk terus bertahan di tengah tekanan aura dari bola berwarna-warni tersebut.
"Aku pun juga tidak tahu pasti..." Jawab Xu Feng dengan mengelus janggut putihnya.
"Tidak tahu pasti?" Yin Sheng terkejut, jika Xu Feng yang memiliki bola tersebut saja tidak mengetahuinya, lalu kenapa bola itu diperlihatkan kepada dirinya.
"Aku menemukan bola ini di dasar Jurang neraka. Sebuah jurang yang terletak di bagian barat benua ini."
"Jurang neraka? Anda masuk ke dalam jurang?"
"Hahaha... Gila kan? Sebegitu gilanya aku dulu hingga rela masuk ke dalam jurang... Haha" Xu Feng malah menyombongkan diri dengan kegilaannya ketika waktu berpetualang dulu.
"Lalu apa fungsi bola ini? Apa bola ini bisa diserap selayaknya Inti jiwa Magical Beast?"
"Hah... Untuk fungsinya aku masih belum mengetahuinya. Aku pernah mencoba menyerapnya selayaknya Inti jiwa, namun kekuatan yang terkandung di dalam bola ini berbeda dengan Qi. Ketika aku menyerapnya... Kekuatan ini saling bertabrakan dengan Qi yang ada di dalam dantian milikku. Untung saja aku bisa mengeluarkan kekuatan ini dari tubuhku tepat waktu, jika tidak mungkin aku sudah tidak berdiri disini dengan dirimu hari ini."
"Kekuatan yang berbeda dengan Qi?" Yin Sheng baru mendengar tentang hal tersebut. Bahkan setelah apa yang dirinya lihat selama ini dengan mata Azhura miliknya, tidak ada satu hal pun yang menyebutkan tentang kekuatan yang berbeda dengan Qi.
"Ya... Itulah sebabnya aku hanya menyimpan bola ini dan mengekang kekuatannya agar tidak diketahui oleh orang lain dari aura yang dipancarkannya." Xu Feng menghela nafas dan wajahnya nampak sedikit murung. Sangat disayangkan dirinya memiliki bola yang bisa mengandung kekuatan sebanyak itu namun hanya disimpan di brangkas rahasia miliknya.
Namun sesuatu hal terjadi setelahnya. Yin Sheng merasakan panas yang sangat kuat di mata Azhura miliknya. Rasa panas tersebut sangat kuat hingga Yin Sheng harus terjatuh dengan memegangi mata kanannya.
"Ada apa?" Xu Feng tentu panik melihat apa yang terjadi pada Yin Sheng. Dirinya mencoba menolong Yin Sheng namun tidak tahu harus berbuat apa.
"Aaah..." Yin Sheng berteriak keras... Sebuah penglihatan tiba-tiba diperlihatkan oleh mata Azhura kepada dirinya. Sebuah penglihatan yang menembus waktu yang sudah tidak tercatat dalam untaian sejarah.