Heaven Road

Heaven Road
5. Kota Bintang Timur 2



"Terima kasih banyak atas bantuan Saudara...Namaku Song Huang, kalau boleh tahu, nama saudara siapa?" Kultivator Alam Raja langsung menghampiri Yin Sheng untuk mengucapkan terima kasih. Jika Yin Sheng tidak muncul dengan tiba-tiba sudah dipastikan dirinya akan bernasib seperti pimpinan bandit tersebut.


"Tidak perlu sungkan, sudah sewajarnya kita saling membantu dalam kesusahan. Senior bisa memanggilku Yin Sheng." Yin Sheng memberikan hormat pada Song Huang.


"Saudara Yin begitu sopan. Kalau boleh tahu saudara darimana?" Song Huang mencoba menelisik identitas Yin Sheng. Yin Sheng terlihat masih muda, namun memiliki kemampuan yang hebat. Song Huang menduga jika asal usul Yin Sheng bukanlah dari kalangan biasa.


Apalagi setelah dirinya melihat Yin Sheng dengan tega memotong kaki dan tangan pimpinan para bandit. Untuk ukuran Kultivator semuda Yin Sheng, tentu hal seperti itu termasuk aneh. Perlu mental yang terlatih untuk bisa melakukan hal sekeji itu. Song Huang pun menduga jika Yin Sheng berasal dari Sekte aliran hitam yang besar.


"Aku berasal dari desa sekitar sini, aku sedang melakukan perjalanan menuju ke barat." Jawab Yin Sheng dengan jujur tanpa menyembunyikan apapun.


Song Hung semakin curiga dengan asal Yin Sheng yang berasal dari desa sekitar. Di daerah sekitar tidak ada Sekte apapun, hanya desa-desa terpencil yang notabene isinya hanyalah manusia biasa bukan Kultivator.


"Apakah Saudara Yin bersedia untuk ikut dengan rombongan kami? Akan berbahaya jika hanya bepergian seorang diri. Di daerah sini banyak perampok yang sering beraksi mencari mangsa." Song Huang mencoba bersikap ramah-tamah. Lagipula akan lebih mudah untuk dirinya mengawasi Yin Sheng jika Yin Sheng ternyata adalah seorang mata-mata dari suatu kelompok perampok.


"Mengenai hal itu..." Yin Sheng mencoba memikirkan baik-buruknya dari tawaran Song Huang.


"Tidak apa-apa... Gerobak kami lebih dari cukup untuk menampung kita semua. Lagipula dengan ikut gerobak kami, Saudara bisa lebih menghemat tenaga." Song Huang nampak sedikit memaksa. Lebih tepatnya dirinya ingin mengetahui seluk beluk Yin Sheng lebih jauh.


"Maaf kalau saya merepotkan Senior dan yang lainnya..." Yin Sheng tidak kuasa menolak ajakan Song Huang, lagipula yang dikatakan Song Huang memang benar adanya. Jika ikut rombongan Song Huang, Yin Sheng bisa melanjutkan perjalanan sembari bermeditasi. Berbeda cerita jika Yin Sheng harus berjalan kaki, dirinya harus rela berhenti jika ingin bermeditasi.


Rombongan Song Huang yang kini bertambah Yin Sheng pun berangkat setelah mengikat semua komplotan perampok. Mereka tidak membawa komplotan para perampok untuk diserahkan pada pihak Kerajaan, namun mereka memilih hanya meninggalkannya. Biarlah mereka bertaruh dengan keberuntungan mereka. Jika mereka cukup beruntung tentu mereka bisa selamat. Jika tidak, mungkin Magical Beast yang ada di sekitar tempat itu akan menjadikan mereka sebagai mangsanya.


Yin Sheng duduk dengan tenang di dalam gerobak, dirinya memilih untuk bermeditasi selama perjalanan. Yin Sheng satu gerobak dengan Song Huang. Mata Song Huang seakan tidak melepaskan Yin Sheng sedikitpun. Dirinya terus mengawasi Yin Sheng secara intens meskipun notabene Yin Sheng hanya duduk bermeditasi. Yin Sheng yang menyadari hal tersebut juga tidak mempermasalahkan lebih jauh, sudah menjadi hal wajar jika Song Huang menaruh kecurigaan pada dirinya yang tiba-tiba muncul dan membantunya.


"Saudara Yin... Sepertinya Saudara tidak pernah menyia-nyiakan waktu untuk berlatih." Song Huang mengajak Yin Sheng berbicara ketika Yin Sheng mulai membuka mata.


"Aku hanya mencoba yang terbaik untuk menjadi lebih kuat Senior..." Jawab Yin Sheng dengan sopan. "Melihat pertarungan Senior dengan para perampok tadi, membuatku merasa diriku masih sangat lemah." Lanjut Yin Sheng.


"Saudara Yin terlalu merendah. Bukankah Saudara bisa menghabisi pimpinan perampok dengan mudah tadi." Balas Song Huang.


"Senior... Senior pasti tahu jika tadi aku cukup beruntung karena pimpinan perampok lengah. Jika tadi aku bertarung secara adil, tentu hasilnya akan berbeda."


Song Huang tentu tidak bisa membantah kata-kata Yin Sheng. Memang benar adanya, kemenangan dari para perampok tadi termasuk dalam keberuntungan bagi mereka. Tapi bagi Song Huang secara pribadi, Yin Sheng memang sangat hebat. Dia bisa mengambil keputusan yang tepat di waktu yang tepat.


"Itu..." Song Huang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung ingin bercerita mulai darimana.


"Rencananya kami pergi ke Desa Melati Hijau untuk membeli bahan-bahan pil yang nantinya akan dijual lagi. Namun sesampainya disana, rencana kami tidak berjalan sebagaimana mestinya."


Mendengar nama Desa Melati Hijau disebut, jantung Yin Sheng langsung berpacu dengan sendirinya. Ada semacam rasa bersalah yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya.


"Desa tersebut seakan sudah ditinggalkan selama bertahun-tahun. Rumah-rumah banyak yang telah roboh. Bahkan ada beberapa Magical Beast yang menggunakan desa itu untuk dijadikan sarang mereka." Lanjut Song Huang.


Yin Sheng menahan air matanya yang seakan ingin jatuh dengan sendirinya. Desa tersebut menjadi mati total karena dirinya. Jika saja dirinya tidak lahir di desa itu, mungkin seluruh warga desa masih hidup dengan damai sentosa.


Yin Sheng memilih untuk diam setelah mendengar cerita kondisi Desa Melati Hijau. Bermeditasipun akan percuma, karena dirinya tidak bisa memusatkan konsentrasinya.


Song Huang yang melihat perubahan sikap Yin Sheng merasa sedikit curiga jika Yin Sheng memiliki hubungan dengan Desa Melati Hijau. Namun mempertanyakannya secara langsung tentu bukan suatu tindakan yang bijak. Dirinya masih belum tahu seluk beluk tentang Yin Sheng. Jika Yin Sheng berasal dari suatu Sekte yang kuat, tentu menyinggung Yin Sheng akan mendatangkan masalah bagi dirinya kelak.


Perlu tujuh hari untuk bisa sampai ke Kota terdekat, yaitu Kota Bintang Timur. Selama perjalanan, rombongan beberapa kali singgah di desa-desa yang ada untuk mengisi bekal perjalanan. Selama singgah, Yin Sheng tidak lupa untuk membuka klinik pengobatan secara gratis.


Dari apa yang Yin Sheng lakukan, rombongan pedagang serta Song Huang menjadi semakin menunjukkan rasa hormatnya kepada Yin Sheng. Mereka sama sekali tidak menduga jika Yin Sheng yang masih begitu muda ternyata adalah seorang alchemist yang hebat.


Kegiatan Yin Sheng yang membuka klinik pengobatan gratis juga membawa berkah tersendiri bagi rombongan para pedagang. Mereka yang tadinya harus membeli bahan makanan untuk bekal perjalanan, dipaksa harus menyimpan uang mereka. Para warga membalas kebaikan Yin Sheng dengan memberikan apa yang mereka miliki pada rombongan Yin Sheng.


Bahkan gerobak yang tadinya kosong, kini telah terisi penuh dengan anek bahan pangan serra sayur-sayuran yang diberikan oleh warga-warga desa.


"Saudara Yin... Kenapa Saudara tidak bercerita jika Saudara seorang Alchemist?" Song Huang mencoba beramah tamah ketika mereka sampai di depan gerbang Kota Bintang Timur.


"Maafkan aku Senior, tapi aku belum resmi menjadi seorang Alchemist. Sangat tidak terpuji jika aku mengaku sebagai seorang Alchemist padahal sebenarnya tidak."


"Saudara Yin benar-benar sangat sopan. Padahal dengan kemampuan Saudara Yin, menjadi seorang Master Alchemist tentu sangatlah mudah."


"Senior Huang... Anda benar-benar terlalu meremehkan kualifikasi dari Asosiasi Alchemist."


"Baiklah... Aku akan mengantarkanmu ke Asosiasi Alchemist untuk mengikuti tes seleksi. Akan aku buktikan jika kata-kataku memang benar." Song Huang tanpa basa-basi menarik tangan Yin Sheng untuk menuju ke Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur. Berlarian berdua dengan bergandengan tangan, tentu membuat tindakan mereka berdua menjadi sorotan semua orang yang ada. Namun Song Huang sama sekali tidak memperdulikan tatapan semua orang yang menatap jijik pada dirinya dan Yin Sheng.