Heaven Road

Heaven Road
5. Kota Bintang Timur 4



Brak...


Pintu ruangan ujian terbuka dengan kasar. Tetua Mei Lin keluar dari ruangan ujian dengan muka yang masam.


"Tetua Mei... Ada apa?" Song Huang dengan cepat bertanya. Melihat wajah Tetua Mei Lin yang nampak tidak enak hati, dirinya takut jika hasil ujian Yin Sheng terlalu jauh dari ekspektasi Tetua Mei Lin.


"Kau..." Tetua Mei Lim menghentakkan kakiknya ke lantai dengan keras. "Darimana kamu mendapatkan monster seperti dia?" Lanjut Tetua Mei Lin masih dengan nada yang sarkasme.


"Monster?" Song Huang panik, jangan-jangan Yin Sheng telah melakukan hal yang tidak terpuji selama di dalam ruangan. "Maksud Tetua..."


"Pergilah... Bawa pemuda itu!" Tetua Mei Lin mengumpat sekali lagi sembari meninggalkan Song Huang yang mulutnya masih terbuka lebar.


Beberapa saat kemudian, Yin Sheng keluar dari dalam ruangan ujian. Dirinya tetap berjalan dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa. Melihat hal tersebut, Song Huang langsung memegang kerah baju Yin Sheng.


"Saudara Yin... Apa yang kamu lakukan pada Tetua Mei Lin?" Wajah Song Huang nampak sedikit merah, menandakan dirinya sedang menahan emosi. Jika benar Yin Sheng melakukan hal yang tidak-tidak pada Tetua Mei Lin, maka habislah sudah dirinya. Asosiasi Alchemist tidak akan pernah meminta bantuan dari dirinya dan dirinya juga tidak akan bisa mendapatkan manfaat dari Asosiasi Alchemist.


Yin Sheng seakan tahu apa yang akan terjadi, dirinya tetap tenang meski Song Huang yang lebih kuat dari dirinya kini sedang mengancamnya.


"Senior... Jangan salah paham... Aku tidak melakukan apapun pada Tetua Mei..." Jawab Yin Sheng dengan tetap tenang.


"Lalu... Kenapa dia keluar dari ruangan dengan begitu marah?" Song Huang mengeratkan pegangan pada kerah baju Yin Sheng. Seakan menuntut penjelasan yang lebih jelas dari Yin Sheng.


"Aku tidak tahu untuk detailnya... Tapi..." Yin Sheng menjelaskan semua yang terjadi di dalam ruangan ujian. Dirinya juga menunjukkan sebuah lencana Alchemist yang tadi dilemparkan begitu saja oleh Tetua Mei Lin pada dirinya.


"Hahaha...." Song Huang malah tertawa lebar setelah mendengar penjelasan dari Yin Sheng.


Puas... Sangat puas... Song Huang sangat puas dengan hasil ujian Yin Sheng. Bahkan dirinya tidak menyangka, Yin Sheng akan merebut gelar Master Alchemist termuda sepanjang sejarah dari tangan Tetua Mei Lin.


Mungkin hal itulah yang membuat Tetua Mei Lin merasa begitu kesal. Gelar Master Alchemist termuda sudah dirinya sandang dari sejak umur dua puluh tahun. Dan kini gelar tersebut telah direbut oleh seorang pemuda berumur enam belas tahun, yaitu Yin Sheng.


"Saudara Yin... Maafkan aku tadi telah bersikap kasar? Aku hanya khawatir..."


"Tidak apa Senior Huang, aku mengerti kekhawatiran Senior." Potong Yin Sheng sebelum Song Huang menyelesaikan kata-katanya.


"Baiklah... Untuk merayakan keberhasilan Saudara Yin, kita akan makan yang enak hari ini..." Song Huang merangkul pundak Yin Sheng. "Tenang... Kali ini aku yang bayar..." Bangga Song Huang, padahal Song Huang berencana menggunakan uang yang diberi oleh Yin Sheng tadi.


"Aku akan merepotkan Senior Huang kalau begitu..." Yin Sheng tetap bersikap sopan, meskipun di dalam hatinya menertawakan sikap Song Huang yang seperti anak kecil.


Kedua pria tersebut akhirnya pergi ke suatu tempat yang biasa dikunjungi Song Huang setelah menjalankan berbagai misi pengawalan, kedai arak. Kedai arak yang mereka berdua kunjungi tidak terlalu besar, namun jumlah pengunjung di dalamnya cukup banyak.


"Senior... Apa kamu yakin ini tempat yang tepat?" Yin Sheng merasa sedikit aneh dengan tempat yang baru pertama kali dirinya kunjungi. Jujur saja, dirinya merasa terintimidasi dengan tatapan beberapa orang yang menatap tajam pada dirinya.


"Tenang... Mereka tidak akan pernah berani mengganggumu selama ada aku di sini." Song Huang mendudukan diri di salah satu meja yang masih kosong. Memanggil pelayan untuk segera membawakan minuman yang biasa dirinya pesan.


"Untuk keberhasilan Saudara Yin..." Song Huang mengajak Yin Sheng untuk bersulang secangkir arak. Yin Sheng pun terpaksa menuruti Song Huang. Meskipun dirinya merasa mual ketika mencium bau arak yang ada di mejanya.


"Uek... Brrrr...." Yin Sheng benar-benar tidak tahan ketika merasakan arak untuk pertama kalinya. Secangkir arak yang diminumnya langsung tersembur keluar dari mulutnya.


"Grrrr...." Bukan geraman singa atau serigala, melainkan pria botak yang tersembur arak Yin Sheng mengeram marah.


"Apa kamu buta bocah?" Tanpa basa-basi pria botak tersebut memegang pundak Yin Sheng. Mencoba menarik Yin Sheng agar menghadap ke arahnya.


"Maafkan aku Paman? Aku benar-benar tidak sengaja." Yin Sheng berusaha mengambil sebuah tisu untuk mengelap wajah Pria botak yang basah, namun dirinya malah salah mengambil sebuah bakpao.


Plek...


Bakpao berisi daging kini menempel di pipi Pria botak. Semua orang yang ada di dalam kedai sampai tertawa terbahak-bahak melihat kejadian tersebut. Apalagi Song Huang, dirinya sampai jatuh tersungkur menahan sakit di perutnya akibat tertawa.


"Eh... Salah..." Reflek Yin Sheng sembari memandang tangannya, seakan-akan dirinya menyalahkan tangannya.


"Kamu benar-benar cari mati!" Pria botak tersebut mengarahkan tinjunya ke arah Yin Sheng. Sekuat tenaga dirinya melepaskan pukulan untuk memberikan Yin Sheng pelajaran.


Clap...


Pukulan Pria botak ditahan oleh Yin Sheng dengan satu tangan. Semua orang yang ada di kedai sontak terdiam.


"Paman... Bukankah aku sudah meminta maaf? Kenapa masih mencoba berlaku kasar?" Yin Sheng memiringkan kepalanya, memandang tajam Pria botak di hadapannya dengan mata kirinya.


"Kau... Lepas... Lepaskan aku!" Teriak Pria botak sembari menarik tangannya.


Yin Sheng melepaskan pegangannya dan Pria botak langsung terjungkal begitu saja di atas lantai. Seluruh orang di dalam kedai kecuali rombongan Pria botak kembali tertawa karena ulah Pria botak.


"Kurang ajar... Habisi dia!" Teriak Pria botak pada semua teman rombongannya. Sudah cukup bagi dirinya dipermalukan, kini saatnya bagi dirinya untuk menunjukkan siapa yang seharusnya tertawa.


"Mau maju semua? Boleh... Kebetulan aku sudah lama tidak berolahraga." Yin Sheng menarik gagang pancing dari punggungnya, bersiap untuk menyambut siapapun yang datang kepadanya.


Pemilik kedai yang berada di ujung ruangan hanya bisa pasrah. Sudah menjadi resiko bagi dirinya untuk sering mengganti meja dan kursi karena perkelahian antara pengunjung kedai miliknya.


###


Mei Lin menulis sebuah surat untuk dirinya kirimkan ke Asosiasi Alchemist pusat. Meskipun dirinya merasa kesal akan isi surat tersebut, tapi sudah menjadi kewajiban dirinya untuk segera melaporkan tentang yang terjadi.


Siapapun yang berhasil menjadi seorang Alchemist harus dilaporkan ke Asosiasi Alchemist pusat. Entah itu hanya Junior Alchemist sekalipun.


Apalagi untuk kasus seperti Yin Sheng, dimana Yin Sheng berhasil menjadi seorang Master Alchemist di ujian pertamanya. Mei Lin sebagai Tetua tertinggi di Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur tentu harus segera melaporkannya.


Surat yang Mei Lin tulis segera dirinya lipat, dan diselipkan ke dalam kotak yang ada di kalung sebuah burung, atau lebih tepatnya Magical Beast yang telah dijinakkan.


"Terbanglah... Segera berikan kabar ini pada Ketua Asosiasi." Ucap Mei Lin pada Magical Beast Bangau paruh merah.


Magical Beast tersebut langsung terbang melalui jendela, dan dalam sekejap mata bangau tersebut sudah tidak terlihat lagi. Kecepatan terbang Bangau paruh merah memang luar biasa. Bahkan Kultivator Alam Ranah Raja yang bisa terbang sekalipun akan kesulitan untuk menangkapnya. Oleh sebab itu Bangau paruh merah sering dikembangbiakkan untuk digunakan sebagai pengirim pesan.