Heaven Road

Heaven Road
6. Yang Tidak Bisa Tersembunyikan



Sebuah sampan kecil mengalir dengan tenang mengikuti arus sungai yang memang mengalir dengan lambat. Angin sepoi-sepoi yang menerpa sampan, serta cahaya matahari yang hangat membuai siapapun yang berada di atas sampan terbuai untuk bermalas-malasan.


Hal seperti itu untuk kebanyakan orang. Untuk pemuda bernama Yin Sheng bermalas-malasan adalah suatu hal yang sangat merugikan. Setiap makhluk hidup di dunia ini mendapatkan waktu yang sama selama satu hari. Oleh karena itu, Yin Sheng selalu beranggapan dirinya merasa sangat rugi jika sampai membuang waktu yang dirinya miliki untuk bermalas-malasan.


Yin Sheng memilih membeli sebuah sampan dan menelusuri aliran sungai daripada harus berjalan kaki. Yin Sheng tidak bisa melanjutkan meditasi untuk menembus batas lapisan Qi tahap 7 miliknya saat ini.


Namun berbeda cerita saat ini, Yin Sheng tetap bisa bermeditasi sembari melanjutkan perjalanan. Dirinya duduk bermeditasi mengumpulkan Qi yang tersedia di alam liar selama sampan yang dirinya tunggangi terbawa arus sungai yang pelan. Walaupun sejatinya dirinya juga tidak tahu kemana arus sungai akan membawanya, yang terpenting bagi Yin Sheng adalah dirinya tetap berpindah tempat.


Yin Sheng paham betul, dirinya tidak akan bisa membuka wawasan serta mendapatkan informasi tentang keberadaan ayahnya selama dirinya tetap berdiam diri di satu tempat. Oleh karena itu dirinya memaksa diri sendiri untuk selalu berpindah tempat.


Namun Yin Sheng sama sekali tidak menyadari, puluhan meter di belakang sampan yang ditunggangi Yin Sheng. Seekor ular hitam kebiruan mengikuti dengan pelan. Ular tersebut hanya memunculkan bagian matanya selama mengapung, hanya sesekali sebagian kepalanya terangkat untuk mengambil nafas yan tertahan.


Tidak ada niat membunuh atau pun niat jahat yang terpancar dari ular tersebut ditambah ular tersebut juga menyembunyikan hawa keberadaannya dengan sengaja. Sehingga Yin Sheng sama sekali tidak bisa merasakan keberadaannya selama ini.


Lebih dari dua hari Yin Sheng mengapung di atas sampan, selama itu pula dirinya duduk bermeditasi dengan tenangnya. Sesekali dirinya mengangkat ikan yang didapat dari kail pancing yang dirinya pasang di atas sampan.


Yin Sheng menggunakan ikan yang didapat untuk memenuhi kebutuhan perutnya. Daging Magical Beast yang tersimpan di dalam cincin dimensi miliknya, terasa sayang untuk digunakan kali ini. Yin Sheng tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari, dirinya berencana menyimpan daging-daging tersebut dan memanfaatkannya ketika dirasa sangat diperlukan. Lagipula daging-daging tersebut tidak akan pernah membusuk, selama tersimpan di dalam cincin dimensi.


Ketenangan Yin Sheng mulai menghilang ketika sampan yang dirinya tumpangi memasuki area pepohonan. Yin Sheng bisa merasakan hawa keberadaan dari Magical Beast yang hidup di sekitar wilayah tersebut. Yin Sheng mencoba tetap melanjutkan kultivasinya, lagipula dirinya sudah sangat hafal dengan polah dan tingkah laku Magical Beast. Selama para Magical Beast tersebut tidak terusik keberadaannya, maka dirinya juga tidak akan terusik sedikitpun.


Semakin masuk ke dalam area pepohonan, Yin Sheng merasa semakin banyak Magical Beast yang hidup di tempat tersebut. Tidak hanya Magical Beast, Yin Sheng juga bisa melihat beberapa pohon menumbuhkan bermacam-macam buah-buahan yang bermanfaat bagi seorang Kultivator. Namun Yin Sheng tidak mau sembarangan mengambil buah-buah yang ada meskipun buah tersebut akan bermanfaat bagi dirinya.


Alasannya sepele, Yin Sheng tidak inging berurusan dengan Magical Beast yang ada di area tersebut. Dirinya tidak takut, namun Yin Sheng tidak ingin membuang tenaga untuk berebut buah-buahan dengan Magical Beast.


Byur....


Ketenangan Yin Sheng dalam berkultivasi akhirnya terpecahkan setelah mendengar bunyi sesuatu jatuh ke dalam air. Yin Sheng langsung berdiri di atas sampan, memastikan apakah yang jatuh ke dalam air tersebut sesuatu yang berbahaya atau tidak.


"Tolong..."


"To... Long..." Teriakan meminta tolong terlihat dari asal suara dentuman air tadi.


Yin Sheng menajamkan mata, dan melihat seseorang tengah berusaha keluar dari dalam air. Dalam satu kali melihat, Yin Sheng bisa paham. Jika orang tersebut tidak bisa berenang dan membutuhkan bantuan untuk bisa selamat.


Ciu...


Kail pancing Yin Sheng melesat dengan cepat dan melilit tangan orang tersebut. Yin Sheng menarik sekuat tenaga pancing yang ada di tangannya agar bisa lebih cepat menyelamatkan orang yang tenggelam tersebut.


"Wanita? Apa yang dia lakukan disini?" Yin Sheng baru tersadar jika orang yang dirinya tolong adalah seorang wanita setelah berhasil mengangkatnya ke atas sampan. Yin Sheng langsung melihat ke kanan dan ke kiri, mencari keberadaan orang lain yang mungkin bersama dengan wanita tersebut.


Naas... Yin Sheng tidak bisa mendapati orang lain di sekitar area tersebut. Yin Sheng pun terpaksa memberikan pertolongan pertama pada wanita yang baru saja dirinya tolong.


Cup...


Hangat... Nafas buatan Yin Sheng berikan, ini adalah kali pertama Yin Sheng menempelkan bibir miliknya pada bibir seorang wanita. Tanpa Yin Sheng duga, wanita yang dirinya tolong membuka mata tepat ketika Yin Sheng memberikan nafas buatan.


Bruk...


Tendangan maut meluncur dengan tepat ke titik sasaran, dimana titik sasarannya adalah pertengahan dua kaki Yin Sheng. Yin Sheng terkejut karena mendapatkan rasa sakit yang hebat di bagian pertengahan dua kaki miliknya. Yin Sheng sampai terjatuh dari atas sampan dan masuk ke dalam sungai.


"Ah... Aduh..." Yin Sheng berusaha naik ke atas sampan sembari menahan sakit di pangkal paha miliknya. Perutnya terasa mual, seluruh tubuhnya terasa lemas. Tendangan barusan dirasa lebih kuat dari pada serangan Magical Beast tingkat empat.


Belum sempat Yin Sheng bangkit dari rasa sakitnya, sebuah kaki tiba-tiba menginjak dadanya.


"Siapa Kamu? Apa yang kamu lakukan tadi?" Wanita yang ditolong Yin Sheng menekankan kaki miliknya di dada Yin Sheng.


Mendengar Yin Sheng tidak menjawab, wanita tadi kembali menekan dada Yin Sheng dengan sekuat tenaga menggunakan kaki kanannya.


Naas... Perahu sampan yang mereka tumpangi hilang keseimbangan. Wanita yang ditolong Yin Sheng pun tak luput, tubuhnya sempoyongan akan jatuh ke dalam sungai.


Yin Sheng sigap meraih tangan si wanita agar tidak jatuh ke dalam sungai sekali lagi.


Bruk...


Kedua orang berbeda jenis kelamin tersebut jatuh terbaring di atas sampan. Mereka berdua cukup beruntung, karena perahu sampan yang mereka tumpangi tidak terbalik.


Nyul... Nyul...


Nyul... Nyul...


Sesuatu yang kenyal namun tidak terlalu besar terasa berada di tangan kanan Yin Sheng. Yin Sheng yang baru kali pertama merasakan barang empuk nan lembut tersebut berulang kali memencetnya.


"Ah.... Dasar otak mesum!"


Sekali lagi... Sebuah tendangan namun kali ini berasal dari lutut mengarah tepat di pangkal paha Yin Sheng. Yin Sheng yang tidak siap hanya bisa mengerang kesakitan dan mencemaskan masa depannya yang mungkin saja terancam karena ulah wanita yang dirinya tolong.


"Maafkan aku? Aku benar-benar kehilangan kendali karena emosi tadi..." Wanita yang bernama Xu Roulan akhirnya meminta maaf setelah Yin Sheng dan Xu Roulan menepi di pinggir sungai.


Wajah Xu Roulan nampak memerah karena menahan malu, karena telah berbuat hal yang kurang ajar pada orang yang telah menolongnya.


"Tidak apa... Wajar kalau kamu marah... Aku yang seharusnya meminta maaf karena..."


Plak...


Sebuah tamparan menghentikan kata-kata yang akan Yin Sheng keluarkan.


"Jangan diingat-ingat lagi!" Wajah Xu Roulan sudah seperti buah persik, merah semua karena rasa malu.


Yin Sheng yang baru kali ini menghadapi wanita seusia dirinya merasa begitu bingung, melihat tingkah laku dan emosi Xu Roulan yang meledak-ledak. 'Apa semua wanita seusia dia itu seperti dirinya?' Kata Yin Sheng yang hanya dirinya ungkapkan di dalam hati. Dua buah telur miliknya sudah tidak ingin menjadi bahan latihan tendangan penebus dosa dari Xu Roulan.


"Jadi apa yang kamu lakukan di sini sendirian seperti ini?" Tanya Yin Sheng yang tengah mengalirkan Qi di dalam tubuhnya untuk mengeringkan pakaiannya yang basah.


Melihat apa yang dilakukan oleh Yin Sheng, Xu Roulan terkejut. Pengendalian Qi yang Yin Sheng tunjukkan terlihat begitu mahir untuk seusia Yin Sheng. Bahkan di Sekte dirinya berasal, tidak ada pemuda seumuran Yin Sheng yang bisa melakukan hal seperti itu.


"Itu... Bukan urusanmu!" Ketus Xu Roulan. Namun bola matanya melirik ke arah Yin Sheng yang masih disibukkan mengontrol Qi untuk membuat kulit tubuhnya memanas, sehingga pakaian yang dirinya gunakan bisa cepat kering.


"Baiklah... Kalau begitu aku akan melanjutkan perjalanan..." Yin Sheng yang tidak mendapat jawaban memilih untuk pergi. Tidak ada gunanya dirinya terus berlama-lama di tempat tersebut.


"Kau..." Xu Roulan terkejut mendapat jawaban seperti itu dari Yin Sheng. Biasanya di Sekte dirinya berasal, laki-laki akan merengek atau menggoda wanita untuk lebih mendalami wanita di hadapannya.


"Hei... Tunggu... Jangan tinggalkan aku disini sendiri!" Xu Roulan akhirnya mengejar Yin Sheng yang tengah mendorong sampan ke tengah sungai.


Dengan satu lompatan, Xu Roulan mendahului Yin Sheng untuk naik di atas sampan. Duduk manis sembari menunggu sang laki-laki mendorong sampan untuk mulai menelusuri sungai.


"Dasar wanita aneh..." Gumam Yin Sheng pelan.


"Apa kamu bilang?" Bentak Xu Roulan sembari menaikkan satu kaki kanannya.


Yin Sheng langsung menangkupkan kedua kakinya, takut jika kedua bijinya mendapat tendangan penebus dosa sekali lagi.