Heaven Road

Heaven Road
5. Kota Bintang Timur 6



"Walikota Dong Liu... Sebenarnya apa yang telah terjadi? Putri Anda ini tidak keracunan, tapi jiwanya telah dikunci di dalam tubuhnya dan tubuhnya kini dikendalikan oleh roh lain. Melihat efek yang ditimbulkan, ini pasti dilakukan oleh seorang Gost Kultivator ranah Alam Ksatria. Apa Walikota sempat menyinggung suatu Sekte aliran hitam?" Tetua Mei Lin membombardir Walikota Dong Liu dengan beberapa pertanyaan setelah dirinya memeriksa kondisi dari putri Walikota Dong Liu.


Gost Kultivator adalah suatu hal yang tabu untuk dipelajari oleh Sekte aliran putih. Jadi Tetua Mei Lin bisa langsung mengambil kesimpulan mengenai siapa dalang dibalik terbaring lemasnya putri Walikota Dong Liu.


"Ah..." Walikota Dong Liu sempat terkejut akan penjelasan Tetua Mei Lin. "Perasaan aku tidak pernah menyinggung siapapun, tapi bagaimana Tetua Mei Lin bisa tahu jika pelakunya hanya ranah Alam Ksatria?" Walikota Dong Liu penasaran sedikit penasaran. Jika hanya Kultivator ranah Alam Ksatria, maka beberapa pengawal keluarganya masih bisa mengatasinya.


"Dilihat dari roh yang dia masukkan ke dalam tubuh putrimu, ini hanyalah roh tingkat rendah. Jika yang melakukan adalah Kultivator ranah Alam Dewa, maka putrimu pasti sudah mengamuk sedari tadi."


"Apakah Tetua Mei bisa menyembuhkannya? Atau paling tidak menemukan siapa pelakunya agar putriku bisa sembuh." Walikota Dong Liu masih berharap agar Tetua Mei mau membantu dirinya. Beberapa pengawalnya mungkin bisa mengatasi Kultivator ranah Alam Ksatria tersebut. Namun menemukan Kultivator tersebut adalah suatu hal yang berbeda, di Kota Bintang Timur ini ada ratusan bahkan mungkin ribuan Kultivator. Mencari satu orang Gost Kulitvator di kota ini bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami.


"Maafkan aku... Tapi hal seperti itu bukanlah keahlianku..." Tetua Mei Lin menghela nafas pasrah. Padahal apa yang dirinya lakukan barusan hanya lah akting semata. Dirinya terlalu malas untuk membantu antek-antek Kerajaan. Sehingga dirinya pura-pura tidak bisa melakukan apapun.


"Jika Tetua Mei saja tidak bisa membantu, lalu kepada siapa lagi aku harus meminta pertolongan?" Walikota Dong Liu pucat pasi. Dirinya tidak bisa membayangkan jika putrinya akan terus tidur dalam jangka waktu yang tidak ditentukan seperti itu.


"Yang bisa kita lakukan sekarang hanya mempertahankan kehidupan putrimu. Pastikan dia meminum pil ini satu kali sehari. Pil ini bisa mengganti nutrisi yang diperlukan tubuh putrimu selama dia tertidur." Tetua Mei Lin menyerahkan beberapa suplemen pil pada Walikota Dong Liu.


Tetua Mei Lin langsung undur diri dari kediaman Walikota, dirinya beralasan masih banyak hal yang harus dirinya kerjakan. Padahal dirinya hanya ingin segera pergi dari kediaman Walikota Dong Liu.


Di tengah perjalanan kembali ke gedung Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur, Tetua Mei Liu menjumpai suatu hal yang cukup aneh. Antrian panjang nampak mengular di salah satu gang kecil. Dan yang membuat Tetua Mei Lin sedikit heran adalah, hampir keseluruhan isi dari antrian tersebut adalah warga kota yang tidak mampu.


"Apa ada seorang hartawan yang sedang mendermakan hartanya?" Tetua Mei Lin mencoba menebak, namun karena terlalu penasaran akhirnya dirinya bertanya pada salah satu warga yang mengantri.


"Apa Tetua Mei Lin tidak tahu? Ada seorang tabib yang membuka klinik pengobatan gratis, kami datang kemari untuk memeriksakan kondisi kesehatan kami." Salah seorang warga yang ikut mengantri menjelaskan pada Tetua Mei Lin. Tetua Mei Lin adalah sosok yang terkenal di Kota Bintang Timur, jadi suatu hal yang wajar jika warga biasa mengetahui wajah serta namanya.


"Klinik pengobatan gratis?" Tetua Mei Lin semakin penasaran. Sangat jarang ada tabib yang mau melakukan hal seperti itu. Bahkan dirinya yang tergolong baik hati pada warga kota pun belum pernah melakukan hal semacam itu. Kesibukannya mengurus Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur benar-benar memakan waktu.


"Boleh saya lihat ke depan? Siapa tahu Asosiasi Alchemist kami bisa mengulurkan bantuan." Tetua Mei Lin meminta dengan sopan pada warga untuk memotong antrian hingga ke depan. Para warga juga tidak keberatan, mereka malah berharap Tetua Mei Lin akan melakukan seperti yang dirinya barusan katakan.


"Kamu?" Tetua Mei Lin terkejut mendapati Song Huang sedang mengatur para warga untuk mengantri dengan tertib.


"Tetua Mei... Apakah Anda ingin berobat juga? Tolong ikut mengantri jika ingin berobat." Canda Song Huang pada Wanita cantik yang baru saja datang.


"Apa yang kau lakukan? Dan kenapa..." Kata-kata Tetua Mei Lin terhenti ketika melihat Yin Sheng yang tengah mengobati salah satu warga di belakang Song Huang.


Hebat... Hanya itu yang bisa Tetua Mei Lin simpulkan. Dirinya tahu betapa sulitnya bagi seorang Alchemist untuk mengontrol Qi miliknya di tubuh orang lain. Salah sedikit saja menggerakkan Qi, maka tubuh orang yang tadinya akan ditolong bisa tidak tertolong.


"Anak ini..." Perasaan Tetua Mei Lin bercampur aduk. Antara dirinya tidak mau kalah bersaing dengan Yin Sheng, dan juga malu akan pencapaian Yin Sheng. Untuk bisa sampai level seperti Yin Sheng dirinya memerlukan waktu tiga puluh tahun masa hidupnya. Dan Yin Sheng bisa mencapai seperti itu hanya dengan setengah waktunya.


"Sudahlah... Pastikan kalian tidak menggangu aktivitas warga yang lain..." Pesan Tetua Mei Lin sembari meninggalkan tempat pengobatan gratis tersebut.


"Minggir... Minggir..." Beberapa orang dengan senjata di tangannya nampak memisahkan rombongan antrian warga. Mereka membuka antrian yang ada secara paksa. Melenggang bebas ke antrian depan seakan tidak ada halangan.


"Apa yang kalian lakukan? Mengantrilah seperti yang lain!" Song Huang membentak rombongan yang baru saja datang. Susah payah dirinya menjaga antrian tetap tertib, namun rombongan tersebut dengan seenak hati menerobos.


"Kita utusan Walikota Dong Liu. Walikota menyuruh tabib itu datang ke rumahnya untuk menyembuhkan putrinya!" Bentak salah satu pria yang membawa sebuah tombak di tangannya.


Mendengar nama Walikota Dong Liu disebut, warga yang ada di tempat tersebut langsung minggir. Mereka sadar diri jika tabib tersebut pasti akan mendahulukan kepentingan Walikota daripada mereka yang hanya rakyat biasa.


"Jika Walikota membutuhkanku, suruh dia kesini." Ucap Yin Sheng yang tetap tidak bergeming dari tempat duduknya. Dirinya masih disibukkan dengan memeriksa pasien yang ada di depannya.


"Kau..." Pria yang memegang tombak nampak geram. Tidak ada yang berani menolak perintah Walikota di Kota ini. "Apa kamu tidak takut diusir dari kota ini?"


"Diusir? Bukankah Walikota membutuhkanku? Kalau dia mengusirku, berarti dia sudah tidak membutuhkanku. Jika sudah tidak membutuhkanku silahkan kalian pergi. Masih banyak warga yang harus aku periksa dan obati." Jawab Yin Sheng dengan santai. Dirinya bahkan tidak melirik pria yang memegang tombak.


Tetua Mei Lin yang mengamati dari kejauhan kini tersenyum kecil. Melihat keberanian Yin Sheng dalam menghadapi utusan dari Walikota Dong Liu.


"Bagaimanapun caranya, kamu harus ikut dengan kami sekarang juga!" Pria yang memegang tombak tersebut mengeluarkan Qi dari tubuhnya.


Jleb...


Dalam sekelebat mata sebuah jarum tiba-tiba menusuk leher pria yang memegang tombak. Pria tersebut langsung tertunduk lemas, semua Qi yang dirinya keluarkan tiba-tiba terhenti seketika.


"Ini..." Tidak hanya Song Huang yang terkejut, Tetua Mei Lin yang berdiri di kejauhan juga terkejut.


Yin Sheng melemparkan sebuah jarum tepat di salah satu meridian Pria bertombak. Meridian tersebut langsung tertutup total, membuat Qi dari Pria bertombak tidak bisa dialirkan.


"Sudah aku bilang... Jika Walikota ingin bantuanku, suruh dia kesini dan ikut mengantri!" Kata Yin Sheng dengan sedikit mengancam. Dirinya kini memberikan tatapan tajam pada Pria bertombak yang tengah tertekuk lutut dengan lemas.


Orang-orang yang berada di belakang Pria bertombak langsung sadar diri. Mereka menggendong Pria bertombak untuk pergi dari tempat tersebut sesegera mungkin.


"Benar-benar anak yang menarik..." Gumam Tetua Mei Lin.


Sedangkan Song Huang sadar dari keterkejutannya dan melanjutkan mengatur antrian para warga. Meskipun dirinya berada di ranah Alam Dewa, dirinya benar-benar tidak bisa menduga serangan Yin Sheng barusan.


Song Huang pun semakin merasa kagum pada Yin Sheng, meskipun Yin Sheng masih berada di alam Penempaan Qi namun kemampuan Yin Sheng dalam memberikan serangan dadakan benar-benar tidak bisa diremehkan. Seakan-akan Yin Sheng memang dilahirkan untuk membunuh musuh-musuhnya dengan cepat dan tepat.