Heaven Road

Heaven Road
6. Yang tidak bisa tersembunyikan 2



"Aku tidak mau tahu... Kamu harus bertanggung jawab!" Xu Roulan melotot ke arah Yin Sheng dengan kedua tangan terlipat di depan dada.


"Apa maksudmu? Aku bahkan tidak sengaja meremasnya..." Yin Sheng tidak ingin sepenuhnya disalahkan atas kejadian di atas sampan.


"Tidak sengaja katamu? Kalau tidak sengaja kamu tidak akan meremasnya." Xu Roulan masih tetep berpegang pada pendiriannya.


"Sungguh aku tidak sengaja... Lagipula tidak begitu terasa juga..."


"Apa katamu? Tidak terasa?" Kata-kata yang diucapkan Yin Sheng sukses membuat emosi Xu Roulan yang sudah tinggi menjadi meledak. Tidak ada hal yang lebih menjengkelkan bagi seorang wanita daripada penghinaan soal tubuh mereka.


Yin Sheng yang sejatinya tidak pernah mengerti soal wanita tidak terlalu memperdulikan akan kemarahan Xu Roulan. Dirinya lebih memperdulikan sampan yang mereka tumpangi agar tidak terbalik.


Ciu....


Sebuah kembang api yang keluar dari sebatang bambu Xu Roulan lesatkan ke arah udara. Sebuah kembang api berwarna merah langsung meledak di atas area pepohonan, membentuk bunga mekar merah yang jika dilihat pada malam hari akan sangat indah.


"Apa itu?" Yin Sheng tertegun sejenak, dirinya baru kali ini melihat sebuah kembang api meledak di atas kepalanya. Bunga merah hasil letusan kembang api tersebut terlihat begitu menarik bagi Yin Sheng.


"Itu rantai yang akan membuatmu tidak bisa kabur lagi!" Balas Xu Roulan dengan ketus.


Ucapan Xu Roulan terbukti benar. Beberapa menit setelah kembang api tersebut meletus di atas area pepohonan, beberapa orang terlihat mendekat ke arah Yin Sheng dan Xu Roulan dengan kecepatan tinggi.


Yin Sheng bisa merasakan adanya kumpulan Qi yang cukup besar mendekat ke arah dirinya. Yin Sheng langsung bersikap waspada, dan mengawasi sekitar.


"Sudah terlambat bagimu untuk kabur..." Xu Roulan justru tersenyum ketus melihat Yin Sheng yang bersikap waspada saat ini. Dirinya baru saja memanggil prajurit penjaga sekte dirinya berasal. Untuk seorang Kultivator seperti Yin Sheng, kabur dari para prajurit tersebut tentu adalah suatu kemustahilan.


"Lima, enam, tujuh, sebelas?" Yin Sheng menghitung satu persatu sosok yang bersembunyi di area pepohonan. Dengan mata Azhura miliknya, dirinya bisa melihat dengan jelas sosok-sosok tersebut meskipun mereka bersembunyi seperti apapun.


"Pria ini..." Xu Roulan kembali dibuat terkejut. Para prajurit penjaga sekte dirinya sangat ahli dalam berkamuflase dengan lingkungan sekitar. Namun Pria di hadapannya bisa langsung mengetahui keberadaan serta jumlah dengan sangat tepat.


"Pria ini telah menodai kesucianku!" Teriak Xu Roulan dengan kencang. Memberi tanda kepada prajurit penjaga sekte dirinya untuk segera bertindak menangkap Yin Sheng.


"Apa? Tunggu..." Yin Sheng sampai dibuat bingung sendiri dengan perkataan Xu Roulan. Namun dirinya tidak bisa terlalu banyak berpikir. Sebuah anak panah sudah melaju kencang ke arah dirinya untuk mengincar kaki kanannya.


"Nyaris..." Yin Sheng memblokade anak panah tersebut dengan gagang pancing miliknya, karena melompat dari atas sampan tentu bukan suatu tindakan bijak. Salah mendarat, dirinya akan masuk ke dalam sungai dan bisa langsung tertangkap.


Yin Sheng tidak dibiarkan bersantai terlalu lama, kini lima buah rantai berlapiskan Qi meluncur dengan cepat dari berbagai arah. Rantai tidak seperti anak panah, yang ketika di blok akan terpental. Rantai-rantai tersebut melilit gagang pancing Yin Sheng ketika gagang pancingnya berbenturan dengan rantai tersebut. Bahkan dua dari lima rantai berhasil melilit kaki dan tubuh Yin Sheng.


"Hei... Apa ini? Lepaskan!" Yin Sheng mencoba memberontak. Namun sebuah pukulan di belakang lehernya berhasil melumpuhkannya.


"Anda tidak apa-apa Nona?" Hanya satu kalimat tersebut yang sempat Yin Sheng dengar sebelum dirinya kehilangan kesadaran sepenuhnya.


***


"Bangun!" Sebuah tamparan yang cukup keras membangunkan Yin Sheng dari ketidaksadarannya. Yin Sheng mendapati tangan kanan dan kirinya terikat pada sebuah rantai yang tertanam di tembok.


"Dimana ini? Lepaskan aku!" Yin Sheng memberontak sekuat tenaga. Namun rantai yang melilit dirinya terlalu kuat untuk dirinya hancurkan.


"Tidak usah melakukan hal yang percuma. Hanya seorang ranah Alam Dewa yang bisa menghancurkan rantai yang melilit tubuhmu." Ucap seorang laki-laki yang tadi menampar Yin Sheng.


Yin Sheng memandang laki-laki tersebut dengan seksama daei atas sampai bawah. Rambut hitam yang dipotong pendek, hidung yang sedikit mancung, mata yang berirish coklat, serta pipi yang tirus. Terlihat cukup terawat dan terhormat. Yin Sheng menduga jika laki-laki di hadapannya memiliki status yang cukup tinggi, dilihat dari baju yang laki-laki tersebut gunakan.


"Apa mau kita? Apa kamu bodoh? Justru kita yang harus bertanya, apa mau kamu sampai membuat malu Nona Roulan?" Jawab laki-laki di hadapan Yin Sheng.


"Membuat malu? Memang apa yang aku lakukan?"


"Dasar bodoh!" Laki-laki tersebut memberi satu pukulan penuh tenaga ke perut Yin Sheng.


Meskipun tidak parah, tetap saja... Pukulan dari seorang Kultivator ranah Alam Ksatria tersebut memberi rasa sakit yang cukup untuk membuat Yin Sheng mengerang. Jika bukan karena tubuh Yin Sheng yang lebih kuat dari tubuh manusia biasa, tentu Yin Sheng sudah mengalami luka dalam akibat pukulan tersebut.


"Tubuhmu lumayan kuat..." Keluh laki-laki yang baru saja memukul Yin Sheng sekuat tenaga dengan tangan kanannya. Tangan kanannya terasa sedikit kebas, seakan-akan dirinya barusan memukul sebuah batu karang yang sangat keras.


"Lepaskan aku... Maka aku akan melupakan semua yang telah terjadi ini..." Ucap Yin Sheng perlahan. Mata kiri Yin Sheng menatap tajam ke arah laki-laki di hadapannya.


"Apa-apaan tatapanmu itu?" Laki-laki tersebut menampar Yin Sheng. "Jangan berlagak kau mata satu... Disini kamu adalah tahanan!" Laki-laki tersebut tersenyum penuh kepuasan, memandang rendah Yin Sheng yang tidak bisa berbuat apa-apa karena tangan dan kakinya terbelenggu rantai.


"Aku akan mengingat wajahmu!" Hanya itu yang Yin Sheng ucap. Dirinya memilih untuk menutup mata dan melakukan kultivasi. Meladeni seseorang yang besar mulut seperti laki-laki tersebut tidak akan berguna banyak, yang ada hanya akan membuang-buang waktu.


"Ya... Ingatlah akan orang yang tidak bisa kamu sentuh! Hahahaha...." Laki-laki tersebut meninggalkan Yin Sheng sendiri di dalam ruangan gelap yang terbatasi jeruji besi di kanan kirinya.


***


"Ayolah Ayah..." Xu Roulan merengek, memohon kepada Ayahnya untuk mau melihat tawanan yang baru saja dirinya tangkap bersama para penjaga sekte.


"Lan'er... Berapa kali ayah katakan? Ayah sedang banyak urusan. Ayah tidak punya cukup waktu untuk melihat seorang penyusup yang baru saja kamu tangkap." Ayah Xu Roulan yang bernama Xu Shaoqing sedikit meninggikan nada dari kata-katanya. Menandakan dirinya memang benar-benar sedang tidak bisa diganggu.


Xu Shaoqing sedang dipusingkan dengan berbagai masalah yang ada di sekte mereka, Sekte Air terjun berantai. Sebuah Sekte bintang empat yang dipimpin secara turun temurun oleh keluarga Xu.


Tingkatan sebuah Sekte dibagi menjadi tujuh golongan, dimana yang pertama adalah sekte bintang satu dan yang terakhir adalah sekte bintang tujuh. Kekuatan tempur yang dimiliki oleh para sekte tersebut yang menentukan bintang yang dimiliki sekte tersebut.


Untuk Sekte bintang satu sangat mudah untuk bisa didapatkan. Cukup para Kultivator ranah Alam Ksatria saling berkomitmen untuk membentuk sebuah Sekte, maka mereka sudah bisa memiliki sekte sendiri.


Untuk Sekte bintang dua diperlukan paling tidak tiga Kultivator ranah Alam Raja agar sekte tersebut mendapat gelar Sekte bintang dua.


Untuk Sekte bintang tiga, paling tidak ada lima belas orang Kultivator ranah Alam Raja yang menjadi anggota Sekte.


Untuk Sekte bintang empat, harus ada seorang Kultivator ranah Alam Dewa minimal satu orang.


Untuk Sekte bintang lima, tiga orang Kultivator ranah Alam Dewa wajib ada untuk melindungi sekte.


Untuk Sekte bintang enam, jumlah Kultivator ranah Alam Dewa yang wajib dipenuhi ada sepuluh.


Untuk Sekte bintang tujuh sendiri sedikit spesial. Karena tidak hanya jumlah Kultivator ranah Alam Dewa yang menjadi tolak ukurnya. Namun Sekte tersebut diwajibkan memiliki akademi pendidikan untuk para generasi muda. Akademi tersebut juga harus sudah tertata dengan baik.


Xu Shaoqing merasa begitu pening melihat setiap kertas yang ada di hadapannya. Laporan pengeluaran keuangan dirinya teliti satu persatu, dan dari semua laporan tersebut tidak ada yang membuat keuntungan untuk sekte yang dirinya pimpin.


"Ya sudah... Aku akan pergi sendiri kalau begitu..." Xu Roulan merasa ayahnya tidak bisa diganggu saat ini. Dirinya keluar dari ruangan ayahnya dengan langkah kaki yang dihentak-hentakan.


"Kenapa wajahmu muram begitu?" Begitu keluar dari ruangan ayahnya, Xu Roulan dikejutkan dengan kemunculan seseorang yang sudah lama tidak dirinya lihat.


"Kakek..." Xu Roulan tersenyum cerah sembari memeluk laki-laki tua yang ada di hadapannya.