
Tidak seperti yang Song Huang duga, Yin Sheng tidak memilih untuk kabur dari kediaman Walikota Dong Liu. Yin Sheng malah dengan santainya ikut berbaur dengan para tamu undangan, dan melihat adegan pertikaian sesaat yang terjadi.
Song Huang semakin terkejut mendengar penjelasan dari Tetua Mei Lin. Dirinya sudah menduga jika asal-usul Yin Sheng tidak biasa, namun berasal dari salah satu Sekte hitam terbesar? Beruntung dirinya menjaga hubungan baik dengan Yin Sheng selama ini.
"Saudara Yin... Apakah itu benar?" Tanya Song Huang setelah acara pesta selesai dan dirinya bersama Yin Sheng telah kembali ke kamar yang diberikan oleh Walikota Dong Liu.
"Apanya?" Yin Sheng terlihat acuh, dirinya sedang bersiap untuk melakukan meditasi.
"Tentang Sekte Saudara Yin berasal..." Song Huang nampak menjaga kata-katanya. Takut jika Yin Sheng sampai tersinggung.
"Apa aku terlihat dari Sekte besar? Bahkan nama Sekte itu saja aku baru kali ini mendengarnya." Jawab Yin Sheng santai yang memang tidak tahu menahu. Ini pertama kalinya dirinya berada di sebuah kota. Selama ini dirinya hidup di hutan dimana informasi tentang dunia luar hanya berasal dari guru dan mata Azhura miliknya. Dan gurunya sama sekali tidak pernah menceritakan tentang sekte-sekte besar yang ada di Benua Kura-kura raksasa.
"Apa? Jadi..." Song Huang tentu terkejut mendengar penjelasan Yin Sheng. Dirinya semakin tidak bisa menduga siapa sebenarnya Yin Sheng dan seperti apa latar belakangnya.
Keesokan paginya, Walikota Dong Liu secara pribadi mendatangi Yin Sheng dan Song Huang ke kamar mereka. Mengucapkan terima kasih atas semua bantuan mereka dan memberikan lima ratus koin emas sebagai tanda jasa kepada Yin Sheng.
"Tuan Dong... Ini terlalu banyak..." Yin Sheng mencoba mengembalikan uang yang diberikan oleh Walikota Dong Liu. Namun Walikota Dong Liu langsung memberikan penjelasan jika nyawa putri dan harga dirinya jauh lebih mahal dari sekedar lima ratus koin emas.
Song Huang yang mengetahui nilai imbalan langsung berbinar di kedua matanya. Dirinya langsung membayangkan apa saja yang akan dirinya lakukan dengan lima ratus koin emas di tangannya.
"Ehem..." Song Huang batuk pelan. Memberi tanda kepada Walikota Dong Liu agar juga memberikannya hadiah.
"Apakah pengawal Tuan Yin sedang sakit?" Walikota Dong Liu gagal paham dengan apa yang dilakukan oleh Song Huang.
"Tidak Tuan Dong... Hanya..." Song Huang menggosok kedua tangannya, berharap Walikota Dong Liu mengerti tujuannya.
"Ah... Sudah waktunya sarapan... Mari kita sarapan bersama. Sudah berbulan-bulan aku tidak sarapan bersama putriku, sarapan kali ini pasti akan lebih terasa nikmat." Walikota Dong Liu mengabaikan Song Huang. Selama ini Walikota Dong Liu menganggap Song Huang adalah pengawal Yin Sheng. Keberadaan Song Huang tidak begitu dianggap oleh Walikota Dong Liu selama ini.
Song Huang tertunduk lesu melihat Walikota Dong Liu meninggalkan ruangan tempat dirinya dan Yin Sheng berada.
"Saudara Yin..." Kini Song Huang hanya bisa berharap dari Yin Sheng untuk bisa ikut mendapatkan berkah dadakan.
"Ada apa Senior Huang?" Yin Sheng yang masih polos bertanya sembari menyimpan koin emas yang diberikan Walikota Dong Liu di cincin dimensi miliknya.
"Ah... Tidak apa-apa..." Song Huang benar-benar lemas melihat Yin Sheng juga sama saja dengan Walikota Dong Liu. Dirinya hanya bisa meratapi nasib karena tidak ada satu orang pun yang mengerti perasaannya.
Sarapan berjalan dengan penuh senyuman dari Walikota Dong Liu. Sudah berbulan-bulan dirinya tidak melihat putri satu-satunya ikut sarapan bersama dirinya. Bahkan mungkin sarapan hari ini dirasa sebagai sarapan terlezat sepanjang hidupnya.
Yin Sheng yang duduk di sebelah kanan Walikota Dong Liu tidak bisa menikmati makanan dengan leluasa. Berkali-kali Yin Sheng harus tersedak karena mendengar kata-kata dari Walikota Dong Liu yang berusaha menjodohkan dirinya dengan Dong Huian. Dong Huian sendiri yang wajah cantiknya masih sedikit pucat hanya bisa tersenyum malu-malu karena ulah ayahnya.
Walikota Dong Liu tidak mempermasalahkan sama sekali jika Yin Sheng berasal dari Sekte Hitam. Di Kerajaan Twinpillar Sekte hitam maupun putih dianggap sama saja oleh masyarakat awam. Yang membedakan mereka hanyalah mereka sendiri dengan jalan pikiran dan jalan kultivasi mereka. Oleh karena itu Walikota Dong Liu mencoba mengambil kesempatan yang ada untuk semakin meningkatkan martabatnya.
Bayangkan... Mempunyai menantu dari sebuah Sekte hitam besar, tentu posisi Walikota yang dirinya miliki akan semakin tidak tergoyahkan.
Selesai sarapan Walikota Dong Liu mengajak Yin Sheng dan Song Huang untuk pergi ke kediaman Keluarga Xue guna memberikan penghormatan terakhir pada Xue Bohai. Bagaimanapun juga Dong Liu adalah Walikota Kota Bintang Timur, dirinya punya kewajiban sosial untuk datang ke acara seperti itu.
Baik Yin Sheng maupun Song Huang sama-sama menolak secara halus. Yin Sheng merasa sudah tidak punya kepentingan untuk terlalu dekat dengan Walikota karena Dong Huian sudah sembuh. Sementara Song Huang sudah terlanjur kecewa dengan Walikota Dong Liu. Mereka berdua pun pamit dari kediaman Walikota dengan alasan ingin pergi ke Asosiasi Alchemist.
"Saudara Yin, apa rencanamu setelah ini?" Song Huang masih dengan setia membuntuti Yin Sheng yang kini tengah berjalan menuju Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur.
"Aku mungkin akan meninggalkan kota ini hari ini." Jawab Yin Sheng sekenanya.
"Hah... Begitu ya..." Song Huang merasa sedikit sedih mendengar perkataan Yin Sheng. Beberapa hari bersama Yin Sheng membuat dirinya merasakan suatu hal yang tidak pernah dirinya rasakan, ikhlas membantu sesama kepada yang membutuhkan.
"Apakah Senior Huang masih akan menetap di Kota ini?" Yin Sheng memecah kesunyian yang sempat terjadi.
"Apa Senior Huang ada masalah? Mungkin aku bisa membantu." Yin Sheng tentu peka dengan perubahan ekspresi Song Huang, dirinya mencoba menawarkan uluran tangannya. Siapa tahu dirinya memang adalah jalan keluar dari masalah Song Huang.
"Ahh... Masalahku tidak bisa diselesaikan dengan uang atau pun kemampuan alchemist milikmu. Jika saja bisa... Aku pasti sudah meminta bantuan darimu sejak pertama bertemu." Song Huang mencoba tersenyum tegar.
"Baiklah... Jika nanti mungkin aku bisa membantu, Senior bisa mengatakannya kepadaku. Jika aku bisa membantu pasti aku akan membantu Senior."
"Kamu memang ringan tangan dalam membantu sesama..." Song Huang menepuk pundak Yin Sheng yang tingginya hampir sama dengan dirinya untuk saat ini, meskipun tubuh Yin Sheng sejatinya masih bisa tumbuh lagi karena usianya masih di usia pertumbuhan.
"Kalau begitu bolehkah aku meminta tolong kepada Senior kali ini?" Yin Sheng justru yang meminta bantuan secara langsung kali ini kepada Senior Huang.
"Tinggal katakan! Aku pasti akan membantumu selama aku mampu. Tapi apa yang kamu inginkan dariku?" Song Huang merasa janggal, karena sejatinya Yin Sheng bisa melakukan apa yang dirinya inginkan sendiri.
"Nanti Senior akan tahu setelah sampai di Asosiasi Alchemist." Jawab Yin Sheng dengan tetap santainya.
"Hah... Apa tidak ada sisi yang tidak misterius dari dirimu itu?" Song Huang menghela nafas mendengar kata-kata Yin Sheng. Sepertinya sisi misterius sudah mendarah daging di tubuh dan kehidupan Yin Sheng sejak lahir.
"Tetua Mei..." Yin Sheng memberi salam hormat kepada pimpinan tertinggi Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur.
"Ada apa kamu mencariku?" Tetua Mei Lin masih memasang wajah sadis di hadapan Yin Sheng. Dirinya seakan masih tidak terima status Master Alchemist termuda direbut oleh Yin Sheng.
"Saya ingin meminta bantuan Tetua Mei." Yin Sheng tidak menganggap sikap Tetua Mei Lin sebagai bentuk penghinaan. Lagipula kedatangannya kali ini memang sangat membutuhkan uluran tangan dari Tetua Mei Lin.
"Bantuan?" Tetua Mei Lin mengerutkan dahi. "Jika kamu meminta bahan obat yang langka, kamu harus menyediakan uang sebagai pengganti biaya pencariannya." Tetua Mei menduga-duga tujuan kedatangan Yin Sheng.
"Tidak... Saya ingin meminta tolong kepada Tetua Mei untuk mau mengobati warga kota ini yang sakit. Masalah biaya nanti saya semuanya yang akan menanggungnya." Kata Yin Sheng sembari menyerahkan satu kantong kulit berisi tiga ratus koin emas.
"Ini..." Tetua Mei Lin tentu terkejut melihat tiga ratus koin emas. Meskipun jumlah tersebut tidak terlalu banyak bagi dirinya secara pribadi. Tetap saja... Menyerahkan tiga ratus koin emas untuk mengobati warga yang sama sekali tidak dikenal oleh Yin Sheng adalah suatu hal yang aneh bagi dirinya.
"Maafkan saya jika hanya mampu memberikan sejumlah itu untuk saat ini. Tapi saya harap Tetua Mei tidak menolak permintaan saya. Saya berencana pergi dari Kota ini hari ini. Namun masih banyak warga kota yang perlu diobati. Oleh karena itu..."
Tetua Mei Lin melambaikan tangannya sebagai tanda agar Yin Sheng berhenti berbicara. "Kalau cuma untuk mengobati yang kamu mau aku masih mampu. Tapi jika aku harus berkeliling kota sepanjang hari dan setiap hari, aku tidak akan punya waktu untuk hal itu."
"Saya juga tahu hal itu Tetua Mei. Oleh sebab itu Senior Huang akan membantu mengantarkan dan mengatur para warga yang berobat." Yin Sheng melirik Song Huang setelah dirinya selesai berbicara.
Song Huang langsung tanggap, dan mengiyakan setiap perkataan Yin Sheng. Meskipun permintaan Yin Sheng akan menyita waktu, tapi hal berbuat baik seperti ini lah yang membuat dirinya senang akan kebersamaan dengan Yin Sheng.
"Baiklah... Tapi aku tidak bisa membuka klinik seperti milikmu selama sehari penuh. Aku hanya akan membuka klinik dari pagi sampai siang."
"Tidak masalah... Seperti itu saja saya sudah merasa sangat terbantu. Kalau begitu saya pamit. Saya harus segera bersiap untuk melanjutkan perjalanan."
"Senior Huang... Terima kasih banyak untuk bantuan Senior selama ini. Aku harap Senior tidak mengambil hati akan kesalahan-kesalahanku..." Yin Sheng mencoba berpamitan sembari memberikan satu kantong koin emas.
"Saudara Yin... Ini?" Song Huang begitu terkejut mendapat seratus koin emas dari Yin Sheng. Seratus Koin emas... Dirinya bisa hidup dengan aman selama satu tahun.
"Sedikit buah tangan untuk semua dan yang akan menjadi kebaikan Senior Huang." Jawab Yin Sheng dengan sebuah senyuman lembut di bibirnya.
"Saya permisi kalau begitu... Semoga kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan." Yin Sheng kini benar-benar berpamitan, berjalan keluar dari gedung Asosiasi Alchemist cabang Kota Bintang Timur. Meninggalkan kedua orang yang masih dengan setia memandangi punggung dirinya.
"Anak ini... Benar-benar anak yang menarik..." Tetua Mei Lin bergumam pelan.
"Benar Tetua Mei... Baru kali ini aku bertemu dengan orang seperti dia." Balas Song Huang.
"Ah Sial... Aku lupa sesuatu..." Umpat Tetua Mei Lin sembari mengejar Yin Sheng. Dirinya masih belum menyampaikan pesan dari gurunya untuk Yin Sheng. Jika sampai dirinya lupa menyampaikan pesan, bisa-bisa dirinya dicaci maki tujuh hari tujuh malam oleh gurunya.