Heaven Road

Heaven Road
7. Mentari esok masih bersinar 2



"Hahaha...." Xu Feng tertawa lebar mendengar cucu kesayangannya mengajukan tantangan kepada Yin Sheng tapi bukan atas nama dirinya, melainkan seniornya. Bagi Xu Feng, apa yang dilakukan oleh Xu Roulan sungguh suatu hal yang sangat kekanak-kanakan.


"Kakek...Apa yang lucu? Aku menantang dia untuk bertarung dengan Senior Gao Gen." Xu Roulan menggembungkan pipinya, melihat kakeknya justru mentertawakan apa yang dirinya lakukan.


"Lan'er... Semua orang juga tahu, jika kamu ingin menantang seseorang. Maka tantanglah atas nama dirimu sendiri, bukan atas nama orang lain. Hahaha..." Xu Feng masih memasang wajah gemas kepada cucu kesayangannya tersebut.


Wajah Xu Roulan sedikit memerah karena merasa malu setelah mendengar kata-kata dari kakeknya. Semua orang yang ada di tempat tersebut pun mulai berbisik satu sama lain. Menggunjing Xu Roulan yang bertingkah kekanak-kanakan.


"Kamu berani tidak?" Xu Roulan yang merasa terhimpit suasana pun akhirnya hanya bisa melanjutkan apa yang sudah dirinya mulai. Dirinya melemparkan keputusan semuanya kepada Yin Sheng.


Yin Sheng hanya menatap sekilas ke arah Xu Feng. Bagaimanapun juga dirinya adalah seorang tamu dari Xu Feng, sangat tidak sopan jika dirinya langsung menerima tantangan dari Xu Roulan.


Xu Feng hanya menggelengkan kepala, memberi tanda kepada Yin Sheng untuk tidak melanjutkan lelucon yang cucunya buat.


"Maafkan aku... Tapi sekarang sepertinya bukan waktu yang tepat untuk hal seperti itu." Yin Sheng mencoba menolak secara halus. Bagaimanapun juga Yin Sheng menghormati Xu Feng yang sudah membantu dirinya tadi. Jika sampai cucu kesayangannya sakit hati, maka Yin Sheng akan semakin merasa berhutang kepada Xu Feng.


"Bilang saja kamu takut!" Xu Roulan seakan tidak terima dengan penolakan tantangan dari Yin Sheng, sehingga dirinya mencoba memancing emosi dari Yin Sheng.


Sayangnya Yin Sheng bukanlah seseorang yang mudah terpancing emosinya. Dirinya lebih memilih diam daripada menanggapi kata-kata dari Xu Roulan.


"Lan'er... Berhentilah berulah... Dan semuanya cepat bubar!" Xu Feng mencoba mencairkan suasana yang nampak canggung.


"Adik Roulan... Ayo kita pergi... Percuma mengurusi seorang pemuda pengecut seperti dia." Gao Gen yang berdiri di samping Xu Roulan mencoba membujuk Xu Roulan. Bagaimanapun juga dirinya harus segera meninggalkan tempat tersebut untuk memberikan laporan pada Sekte Bukit Berlian bahwa Xu Feng telah keluar dari latihan tertutup.


Satu persatu orang yang ada di tempat tersebut akhirnya membubarkan diri. Mereka sangat menghormati Xu Feng sebagai Tetua Agung, oleh karena itu mereka tidak menunggu sampai Xu Feng mengeluarkan perintah yang kedua kali.


"Dasar pengecut... Ayo Senior... Kita pergi!" Xu Roulan pun memilih untuk meninggalkan tempat tersebut.


"Benar Adik Roulan... Percuma mengurusi pengecut seperti dia. Orang tuanya pasti sangat malu sekarang karena melihat anaknya telah menjadi seorang pengecut." Gao Gen menimpali sembari bersiap untuk pergi.


Xu Feng yang mendengar kata-kata Gao Gen barusan langsung menajamkan matanya. Sementara semua orang yang ada di tempat tersebut langsung menghentikan langkah kaki mereka.


Udara di sekitar mereka tiba-tiba menjadi terasa sangat berat untuk semua orang. Seakan-akan kini mereka tengah memikul sekeranjang penuh batu di pundak mereka.


Wush....


Bug...


Duar...


Sebuah tendangan langsung menyasar punggung Gao Gen dengan cepat. Gao Gen yang terkena tendangan tersebut langsung terpental ke arah bebatuan hingga dirinya menabrak batu yang keras.


"Kau boleh menghina diriku sesukamu. Tapi jangan pernah sekalipun membawa kedua orang tuaku." Yin Sheng kini tengah berdiri di tempat Gao Gen tadi berdiri. Sorot mata kirinya nampak menunjukkan suatu kemarahan yang mendalam karena mendengar kata-kata Gao Gen tadi.


"Memangnya kenapa Bocah? Bukankah itu kenyataan?" Gao Gen seakan tidak kapok karena telah mendapatkan satu tendangan dari Yin Sheng. Bagi dirinya apa yang dilakukan Yin Sheng tadi adalah suatu kebetulan semata. Tidak mungkin dirinya yang seorang ranah Alam Kstaria akan kalah dari Yin Sheng yang hanya Alam Penempaan Qi.


Boom....


Baru saja Gao Gen selesai mengatakan ucapannya. Yin Sheng sudah muncul dengan tiba-tiba di hadapan Gao Gen dan mendaratkan pukulan tepat di wajahnya. Gao Gen sekali lagi harus terlempar ke belakang dan menubruk bebatuan di belakangnya. Bahkan kini dirinya sampai terperosok beberapa meter ke dalam bebatuan karena kuatnya pukulan dari Yin Sheng.


"Aku masih tidak membunuhmu di tempat ini karena menghormati Senior Feng. Tapi aku sudah menandai wajahmu. Jika aku bertemu denganmu di luar tempat ini. Maka hanya namamu yang akan tersisa dari dirimu." Yin Sheng memberikan satu penekanan pada kalimatnya barusan. Apa yang dirinya lakukan adalah suatu bentuk ancaman bagi Gao Gen dan bagi yang lainnya.


"Yin Sheng cukup... Maafkan dua anak bodoh itu... Jangan buang tenagamu untuk hal seperti itu." Xu Feng kini mendekati Yin Sheng. Mencoba menenangkan Yin Sheng yang diliputi amarah pada Gao Gen.


"Dan kau Lan'er! Cepat minta maaf! Kau sudah berlaku tidak sopan pada tamuku!" Xu Feng membentak cucu kesayangannya tersebut.


Wajah Xu Roulan tercengang mendengar bentakan dari kakeknya. Dirinya tidak menyangka jika Kakeknya yang seorang Tetua Agung Sekte akan membela orang luar daripada cucunya sendiri.


"Apa kau tidak dengar? Cepat minta maaf!" Xu Feng kembali membentak Xu Roulan di hadapan semua orang.


Xu Roulan yang merasa sangat malu dan marah akhirnya memilih meninggalkan tempat tersebut dengan cepat. Bulir air mata yang sedari tadi dirinya tahan terlihat menetes mengiringi kepergiannya.


"Dasar bocah!" Xu Feng memaki Xu Roulan yang tiba-tiba langsung pergi. Dirinya kini menghadap ke Yin Sheng untuk meminta maaf atas cucunya.


"Tidak perlu sungkan Senior Feng..." Yin Sheng segera memotong apa yang akan dilakukan oleh Xu Feng. Paling tidak dirinya bisa menyelamatkan muka Xu Feng di depan semua orang saat ini.


Semua orang akhirnya meninggalkan tempat tersebut, meninggalkan Gao Gen yang masih tersangkut di dalam bebatuan. Dengan hidung yang patah, dirinya susah payah keluar dari dalam bebatuan akibat pukulan dari Yin Sheng.


"Bocah sialan...Awas kau!" Gao Gen akhirnya juga meninggalkan tempat tersebut dengan penuh rasa kesal. Namun dirinya mesti mencari keberadaan Xu Roulan untuk mempermulus rencananya.


Sampai sore hari Gao Gen mencari keberadaan Xu Roulan. Akhirnya Gao Gen menemukan Xu Roulan tengah duduk di suatu batu yang ada di pinggiran sungai.


"Adik Raoulan... Ternyata kamu disini. Aku mencari keberadaanmu dari tadi." Gao Gen mendekat ke arah Xu Roulan yang masih duduk termenung. Meskipun disapa oleh Gao Gen, Xu Roulan sama sekali tidak mengalihkan pandangannya pada bibir sungai yang dirinya tatap.


"Kamu kenapa? Apa kamu masih kesal?" Gao Gen menepuk pundak Xu Roulan dari belakang.


"Hem..." Xu Roulan hanya mengangguk. Buliran air mata bisa terlihat menempel di pipinya.


"Hah... Padahal tadinya aku mau baik-baik... Tapi sepertinya itu agak susah kalau begini..." Gao Gen menghela nafas panjang sembari mengeluarkan satu sapu tangan dari sakunya. Dalam sapu tangannya tersebut telah terdapat satu obat bius yang sangat kuat, sehingga bisa membuat pingsan seorang Kultivator yang menghirupnya dalam sekejap.


"Ehm... Xu Roulan hanya bisa membelalakkan matanya sebentar sebelum akhirnya dirinya jatuh pingsan di dalam pelukan Gao Gen yang membiusnya.


."Maafkan aku... Tapi hany kamu yang layak untuk di selamatkan dari tempat ini..." Gao Gen mengusap pipi lembut Xu Roulan sebelum akhirnya membawa Xu Roulan keluar dari sekte mereka.