Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 9



"Ambil ini! Ini khusus untukmu, pakailah!" pinta Alice dan Aiken pun mengambil manset telinga itu lalu dia memakannya pada telinga kirinya.


Saat manset telinga itu sudah terpakai pada telinga kiri Aiken, tiba-tiba saja sebuah penglihatan aneh muncul. Tiba-tiba saja penglihatannya menjadi seperti sebuah elemental sight yang bisa menembus sebuah objek.


"Tunggu! Apa ini! Kenapa penglihatanku jadi aneh? Aku jadi bisa melihat tembus pandang apa yang berada di depanku," ucap Aiken.


Lalu Alice mematikan kemampuan dari manset itu dengan menekan sebuah tombol kecil yang berada di manset telinga itu. Saat kemampuan dari manset telinga itu mati, Aiken akan kembali melihat normal lagi.


"Itu adalah manset telinga khusus dengan kemampuan elemental sight." ucap Alice. Elemental sight adalah sebuah kemampuan untuk bisa melihat tembus pandang pada sebuah objek-objek tertentu. Bahkan kemampuan itu juga akan bisa melacak jejak dari sebuah partikel psion.


"Apa gunanya manset ini?" tanya Aiken yang masih belum mengerti dengan kegunaan manset telinganya itu.


"Manset telinga itu akan membantumu untuk melacak inti dari kekuatan makhluk gaib itu. Manset telinga itu juga akan berguna untuk melacak lokasi makhluk gaib yang muncul.


Kau harus membunuh setiap makhluk gaib yang muncul di Tokyo! Habisi mereka tanpa sisa! Lalu inti dari kekuatan mereka ambillah," ucap Alice.


"Bagaimana cara mengambilnya? Apa dengan tangan kosong? Karena aku hanyalah manusia biasa yang tidak punya kekuatan supranatural atau kekuatan gaib," ucap Aiken.


"Inti dari kekuatan makhluk gaib tak akan bisa dilihat dengan mata telanjang saja. Manset telinga itulah yang akan bisa membuatmu bisa melihat inti dari makhluk gaib itu.


Untuk bisa mengambilnya, kau hanya perlu mengulurkan salah satu tanganmu dekat dengan inti dari kekuatan makhluk gaib itu, tapi dengan syarat kemampuan dari manset telinga itu yang masih aktif," ucap Alice.


"Aku mengerti! Baiklah... aku akan membantumu. Tapi, suatu hari nanti kau harus membayar apa yang aku kerjakan ini!" Aiken mengulurkan tangannya pada Alice. "Bagaimana? Apa kau setuju?"


Alice tersenyum tipis, dia menjabat tangan Aiken. "Ya, aku setuju. Aku pasti akan membayarnya," sahut Alice.


"Baiklah. Kau tak bisa jauh dari gerbang Hollow kan? Jadi, bagaimana jika aku mendapatkan inti dari kekuatan makhluk gaib itu?"


"Jangan khawatir, secara otomatis inti kekuatan itu akan masuk dalam manset telingamu. Dan sampai waktu terakhir kau mendapatkan inti kekuatan itu, aku akan menghubungimu lewat mimpi," ucap Alice tersenyum ramah pada Aiken.


"Baiklah. Kalau begitu aku akan pulang," dengan kedua tangannya dimasukkan dalam saku celananya, Aiken berjalan santai dan tenang keluar dari gua dan meninggalkan Alice.


Aiken mencoba untuk mengaktifkan kemampuan dari manset telinganya itu. Saat manset telinga itu aktif, otomatis penglihatan Aiken akan berubah. Aiken bahkan bisa melihat tembus pandang dalam gedung-gedung yang berada di sekitarnya. Saat tiba-tiba ada sebuah aliran cahaya berwarna biru tua yang sedikit meredup di jalan. Aliran itu berada di sepanjang jalan bagian barat. Aiken memutuskan untuk mengikuti aliran itu sampai akhirnya dia tiba di sebuah gedung tua. Gedung itu sudah tampak kumuh dan berkarat, aliran itu menghilang saat Aiken berhenti di depan gedung tua itu. Aiken pun mematikan kemampuan dari manset telinganya dan berjalan menelusuri area seluruh gedung.


Ada banyak sekali barang-barang rongsokan berserakan di area gedung. Bahkan di sana juga ada bekas minuman alkohol dan juga bekas jajanan berserakan di sana. Sepertinya para pemabuk sering nongkrong di tempat itu.


"Tadi itu aliran apa, ya. Kenapa sepertinya di sini tidak ada apa-apa?" pikir Aiken sembari terus berjalan menelusuri sekitar area gedung tua itu.


Sampai akhirnya dia tiba di sebuah sudut ruangan yang suasana di sana cukup aneh dan mencekam. Di sana juga sedikit gelap karena tidak ada lampu uang masih bisa dinyalakan. Semua yang berada di sana sudah tak bisa diaktifkan atau digunakan lagi. Aiken pun mengambil ponselnya dari saku celananya dan menyiapkan lampu senter dari ponselnya.


Aiken menghentikan langkah kakinya saat ruangan itu sudah sedikit terang. Aiken terkejut, saat dia melihat ada banyak mayat tergeletak di dalam ruangan itu bersimbah darah. Dan sepertinya mayat-mayat itu belum lama mati.


"Ini jelas bukan ulahku. Siapa yang sudah membunuh mereka?" lalu tiba-tiba saja terlintas sesuatu di dalam pikirannya. "Tunggu! Apa ini ulah dari makhluk gaib itu? Apa jangan-jangan aliran tadi adalah jejak makhluk gaib itu?" pikir Aiken yang dari semua yang dia lihat mulai terlihat masuk akal jika itu semua ulah dari makhluk gaib itu.


Tapi dari yang Aiken bingungi, adalah kenapa jejak aliran itu menghilang saat dia sudah semakin dekat dengan targetnya? Apakah makhluk gaib itu sudah pergi? Aiken pergi dari ruangan itu dan kembali melanjutkan penelusurannya yang masih ada ruangan dan sudut area lainnya yang masih belum Aiken periksa.


Lalu tiba-tiba saja di depan Aiken, ada bekas darah yang mengarah ke arah sebuah area lain. Aiken berjalan perlahan mengikuti bekas darah itu. Sampai dia tiba di area, di sana Aiken melihat ada sekitar tiga makhluk gaib yang tampak dengan lahap memakan manusia. Aiken masih sedikit jauh dari makhluk-makhluk gaib itu. Dia masih bersembunyi melihat makhluk gaib itu.


"Astaga, sekejam itukah mereka? Cih. benar-benar canibal," ucap Aiken pelan, dia masih mengawasi makhluk-makhluk gaib itu.


"Mumpung ada makhluk gaib. Aku akan mencoba menghabisi mereka. Aku ingin tahu apa yang dikatakan Alice apakah memang benar?" batin Aiken.


Tapi rasanya Aiken akan muntah saat dia melihat makhluk-makhluk gaib itu dengan lahapnya memakan daging manusia. Rasanya Aiken benar-benar tak bisa mendekati makhluk gaib itu.


"Astaga... kenapa yang mereka makan bukan burger atau pizza aja sih. Cih, aku harus mendekati mereka mau tidak mau," Aiken pun berjalan mendekati makhluk gaib itu sembari menyiapkan pistolnya. Memasukkan amunisi peluru dalam pistolnya, mengambil aba-aba untuk langsung menghabisi mereka tanpa mereka sadari.


Setelah amunisi peluru sudah siap, Aiken langsung berjalan lebih cepat sembari dia menembaki makhluk-makhluk gaib itu. Tapi satu tembakan saja masih belum bisa membunuh mereka. Aiken terus menembaki mereka tanpa ampun, sampai salah satu makhluk yang ingin menyerang Aiken saja, tidak bisa mendekatinya.


Sampai amunisi peluru habis, masih tersisa satu makhluk gaib lagi. Segera mungkin Aiken kembali menyiapkan amunisi pelurunya dan kembali menembak lagi, dan akhirnya dia menghabisi ketiga makhluk gaib itu. Banyak darah yang berceceran tergenang sampai menuju bawah pijakan kaki Aiken. Aiken sampai berjalan mundur menghindari darah itu.


Lalu saat tubuh dari makhluk gaib itu menghilang menjadi sebuah partikel-partikel kecil, walau darah mereka yang masih ada, sebuah cahaya berwarna hitam keunguan berbentuk bola-bola kecil muncul.