Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 39



Malam itu salju mulai turun dengan lebatnya. Aiken melepas dasinya, ia juga membuka kemejanya, lalu ia mulai mendekati Elena, tapi tiba-tiba saja ponselnya berdering. Elena langsung bangun, Aiken melihat ponselnya, Galan tampak menelfonnya, tapi bukannya mengangkat, Aiken justru malah mematikan ponselnya.


"Aiken, ada telfon untukmu. Kenapa kau tak mengangkatnya?"


Aiken tersenyum, ia membelai rambut Elena dengan lembut. "Aku ... ingin terus bersamamu," Aiken mencium bibir Elena, Aiken juga melepas jas almamater Elena juga melepas seragam Elena dan membaringkannya ke ranjang.


Elena meneteskan air matanya, tapi ia juga tak dapat menyembunyikan perasaannya jika ia juga sangat mencintai Aiken. Mereka meluapkan perasaan mereka dengan melakukan hubungan panas itu bersama di saat malam pertama turunnya salju. Aiken membelai tubuh Elena, ia juga mencium lehernya, membuat Elena sampai meremas punggung Aiken sampai membuat pungungnya sedikit terluka. Adegan panas itu terjadi, mereka telah melepaskan apa yang mereka rasakan saat ini bersama-sama.


Saat tengah malam, Elena sudah tampak tertidur pulas di ranjang tanpa memakai pakaian hanya bertutupkan selimut saja. Sementara Aiken sudah memakai seragam, tapi ia belum memakaikan kancing di kemejanya, sudah memakai celana dan kemeja putih yang masih terbuka, jas almamater nya masih berada di lantai. Aiken terduduk di lantai bersender ranjang, ia memegangi pungungnya yang tampak terasa sakit karena terkena cakaran kuku Elena.


Aiken akhirnya menyalakan kembali ponselnya, melihat banyak sekali panggilan tidak terjawab dari Galan. Aiken beranjak berdiri, dan keluar dari apartemen Elena sambil ia memasang kancing kemejanya. Tangah malam itu Aiken pergi ke markas agen Reco untuk menemui Galan. Beruntung saat itu Galan memang masih berada di markas.


"Kenapa kau menelfonku?" tanya Aiken pada Galan.


"Kamu ke mana aja! Dan ... kenapa kamu masih pakai seragam?" tanya Galan.


"Itu pertanyaan tidak penting! Cepat katakan padaku, ada apa?"


"Aku sudah tahu siapa penyebab munculnya devil," jawab Galan.


"Kau tahu, siapa?"


"Dia adalah seorang ilmuwan yang sudah terkenal dari beberapa tahun yang lalu. Namanya ... Yoshi!"


Aiken terkejut saat mendengar jawaban dari Galan. "Pak Yoshi?!"


"Bagaimana mungkin itu dia! Apa yang terjadi, apa ini!"


"Benar. Ada apa? Kamu mengenalnya?"


"Di mana sekarang dia?"


"Aku akan memberikan alamat laboratorium nya. Besok kau akan pergi ke sana, kita akan segera menyelesaikan tugas ini!"


Muka Aiken tertunduk. "Apa aku juga akan membunuhnya?"


"Itu tergantung, jika dia mau diajak bernegosiasi, maka dia hanya akan masuk penjara saja."


Paginya, Elena sudah tampak bersiap, ia bahkan sudah menyiapkan koper besar yang akan dia bawa. Dia menatap jas almamater juga dasi milik Aiken yang masih di dalam kamarnya. Elena mengambilnya melipat rapi jas juga dasinya, lalu ia letakkan jas juga dasi itu di atas ranjang. Elena pergi dari apartemennya dengan membawa tas kecil juga kopernya, ia menyembunyikan kunci cadangan di bawah keset depan pintu apartemen.


"Aiken, maaf," ucapnya pelan, lalu ia pergi.


Karena semalam sudah sangat larut, Aiken tidur di markas agen Reco. Saat ia akan membuka pintu apartemennya, ia malah pergi ke lantai yang berada di lantai atas, tepat lantai apartemen milik Elena. Berdiri di depan pintu apartemen Elena, Aiken memberanikan diri untuk menekan bel pintu. Tapi sudah dua kali Aiekn menekan bel pintu, Elena tidak membuka pintu.


"Jangan-jangan ..." Aiken mengetok pintu beberapa kali, sampai ia baru sadar jika menginjak keset yang tampak janggal.


"Ini ... kunci apartemen ini," bergegas Aiken membuka pintu itu dan masuk dalam kamar Elena.


Ia memeriksa lemari dalam kamar Elena, ia tak melihat ada satupun pakaian Elena, ia hanya melihat jas almamater juga dasinya terlipat rapi yang berada di atas ranjang.


"Elena, dia ke mana?"


Aiken mencoba untuk mencari tahu Elena ke mana. Ia memeriksa semua meja juga laci dalam kamar Elena. Sampai ia menemukan kertas kuitansi bukti pembayaran tiket pesawat menuju Amerika. Aiken sungguh terkejut, ia langsung mandi dan bersiap, lalu pergi ke bandara. Kemungkinan pesawat akan berangkat sekitar pukul sembilan pagi, dan ini masih pukul setengah delapan pagi.


Tapi saat dalam perjalanan, Galan mengentikan Aiken di depan apartemen.


"Tunggu! Kita harus cepat menemui Yoshi!"


"Kamu kenapa? Ayo, kita harus pergi!" Galan menarik tangan Aiken dan mengajaknya masuk dalam mobil untuk pergi ke pusat laboratorium Yoshi.


"Benar, aku masih ada waktu sebelum pesawat berangkat! Aku akan cepat menyelesaikan ini!" batin Aiken.


Pusat laboratorium itu sendiri dijaga oleh banyak bodyguard bertubuh besar. Tanpa basa-basi, dengan pistolnya Aiken langsung menembaki mereka tanpa ampun dengan cepat.


"Wow, tenang Aiken. Kenapa kamu terburu-buru begitu," ucap Galan.


"Cepat, jangan banyak bicara!" seru Aiken.


Pak Yoshi saat ini berada di lantai paling atas, dan lantai-lantai bawah pun masih ada penjaga yang perlu Aiken lawan. Tanpa ampun dia langsung menembaki mereka sampai tidak bernyawa tanpa peduli akan hal lain lagi. Tanpa basa-basi pun ia langsung mendobrak pintu ruangan pak Yoshi, kecepatan Aiken membuat Galan geleng-geleng kepala.


"Pak Yoshi!" seru Aiken.


"Aiken, halo! Apa kamu datang untuk menemuiku? Kamu merindukanku?" pak Yoshi tersenyum licik, bersama dengan Akihiko berdiri di belakangnya.


"Apa bapak yang sudah merencanakan ini semua?!"


"Apa kamu masih belum mengerti? Apa jangan-jangan kamu juga belum tahu tentang peristiwa iblis?"


"Iblis?" Aiken mengerutkan dahinya, lalu ia mulai sadar.


"Apa bapak ingin memanfaatkan aku dengan bapak menyelamatkan hidupku?"


"Ucapanmu benar, tapi tidak sepenuhnya benar," sahut pak Yoshi.


"Hentikan semua ini!" seru Aiken.


"Apakah tujuan bapak membuat semua orang menjadi devil?!"


"Hanya untuk kesenanganku."


"Kesenangan? Bapak harus hentikan ini! Aku akan memberikan bapak kesempatan untuk berubah!"


"Memangnya kau siapa? Jangan sok menjadi orang pintar!"


"Sial! Sekarang ini aku harus bergerak cepat!"


"Pak, jika bapak ingin berubah. Maka bapak akan dimaafkan," sahut Aiken.


"Sudahlah, Aiken. Dia itu bukan tipe orang yang akan mau diajak bernegosiasi," Galan angkat bicara.


"Jadi dia yang sudah mencuci otakmu, Aiken. Hei, kau bisa bersamaku dan mendukungku. Jika kau mau mendukungku, aku akan memperlihatkan seseorang yang mungkin akan membuatmu senang."


"Seseorang?" Aiken mengerutkan dahinya.


"Kau berpikir jika selama ini aku yang merawatmu bukan? Jadi aku sudah bersama denganmu saat kau masih kecil bukan."


"Jangan mengatakan hal yang berbelit-belit!" seru Aiken.


"Oke. Apa kau tidak tahu jika gadis itu adalah orang yang menjadi teman masa kecilmu? Apa kau pikir aku tak tahu itu?"


"Gadis siapa yang bapak maksud?!"


"Elena," jawaban pak Yoshi langsung membuat Aiken terdiam.