Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 14



"Karena itu aku menjalin kontrak denganmu. Mungkin ada cara untuk menyalurkan energimu padaku. Atau... mungkin dengan ciuman juga bisa," ucap Alice tersenyum jahil pada Aiken.


"Cih. Ogah banget aku kalau dengan itu. Lebih baik kau cari orang lain aja, aku nggak bakal sudi kalau harus menjalin kontrak denganmu," ucap Aiken.


"Tidak bisa! Tidak ada manusia di bumi ini yang sama sepertimu. Dan kontrak ini tak akan bisa dengan mudahnya di patahkan," ucap Alice.


"Lalu... bagaimana cara agar energiku bisa kau serap? Aku tidak ingin ikut berpikir keras untuk hal ini," ucap Aiken lalu dia pergi mengambil handuk. "Aku akan mandi dulu. Saat aku selesai mandi kau harus sudah menemukan caranya," lalu Aiken berjalan pergi masuk dalam kamar mandi.


Setelah cukup lama, akhirnya Aiken keluar dari kamar mandi dengan dia sudah siap memakai seragam sekolahnya.


"Bagaimana? Kau sudah menemukan caranya?"


"Aku sudah menemukannya dari awal. Aku hanya bercanda saja tentang ciuman itu.


Kau bisa memelukku untuk bisa menyalurkan energimu padaku. Atau jika ingin lebih cepat tersalur kau bisa menciumku," ucap Alice.


"Peluk... itu sudah cukup," ucap Aiken sembari merapikan rambutnya dan menyiapkan tas sekolahnya.


"Aku akan masak untuk sarapanmu," Alice berjalan pergi meninggalkan kamar Aiken.


"Apa dia benar-benar akan tinggal di sini bersamaku?


Cih. Susah payah aku mencari tempat tinggal yang bisa membuatku sendiri dan tenang. Tapi tiba-tiba saja dia datang," gerutu Aiken kesal.


Keluar dari kamarnya, Aiken sudah melihat ada banyak makanan kesukaannya berada di meja makan. Aiken sampai terkejut, kenapa Alice bisa tahu semua makanan kesukaannya?


"Bagaimana kau bisa tahu dengan makanan kesukaanku?"


"Itu... rahasia," jawab Alice lalu dia menyiapkan makanan untuk Aiken, dan Aiken pun duduk di kursi meja makan dan langsung menyantap makanannya.


"Enak... " perkataan Aiken langsung membuat Alice senang.


"Terimakasih. Aku pikir kau tak akan suka dengan masakanku."


"Alice... apa kau sungguh-sungguh ingin tinggal di sini bersamaku? Apa kau tidak lihat, di apartemen ini hanya ada satu kamar," ucap Aiken.


"Benar, sih. Aku bisa tidur bersamamu."


Reflek Aiken langsung menyemburkan air putih yang dia minum. "Tidak! Lebih baik kau cari tempat tinggal sendiri. Lagipula ini hanya kontrak untuk mengambil energiku, bukannya kontrak menjadi pasangan kekasih," ucap Aiken.


"Itu juga bagus. Aku bisa jadi istri yang baik untukmu," Alice tersenyum senang.


"Kau masih belum paham juga ya ternyata. Aku benar-benar tidak ingin ketenangan rumahku ini jadi kacau. Dan lebih baik kau cari tempat tinggal lain," ucap Aiken lalu dia memegang tangan Alice dan menariknya keluar dari apartemennya.


"Maaf, bukannya aku jahat. Tapi, aku tidak bisa menerimamu tinggal di sini."


"Hah... baiklah. Aku akan cari tempat tinggal sendiri," lalu Alice berjalan pergi. Dan Aiken juga pergi berangkat ke sekolah.


Sampainya di sekolah, Ayumi berdiri di halaman sekolah. Tampaknya dia sengaja menunggu Aiken. Tapi Aiken hanya diam saja tanpa menyapa Ayumi. Saat Aiken berjalan begitu saja melewati Ayumi, Ayumi langsung menghentikan Aiken.


"Tunggu! Aiken, apa kau benar-benar sudah melupakanku?"


"Melupakan? Aku bahkan belum pernah melihat wajahmu sebelumnya," ucap Aiken dengan tatapan dinginnya lalu dia dengan santai berjalan memasuki kelasnya dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya.


"Alvin, apa kau juga sudah dilupakan Aiken?" tanya Ayumi saat sudah jam istirahat.


"Apa kau juga? Bagaimana ini. Dia memang egois dan juga memrintahku seenaknya. Tapi dia tetap temanku yang aku sayangi," ucap Alvin.


"Sampai kapan aku akan terus dijauhi Aiken? Sampai kapan dia tidak akan mengenalku? Kenapa jadi begini," batin Ayumi.


Lalu tidak lama kemudian, Alice masuk dalam kelas Aiken dan menemuinya. Alice memang berada kelas XI sama seperti Aiken, tapi dia mendapat kelas XI-B.


"Aiken, aku sudah dapat tempat tinggal!"


"Tunggu! Apa sebelumnya kau tinggal di kolong jembatan? Apa baru ini kau mendapat tempat tinggal? Sebelumnya kau tinggal di mana?" tanya Aiken. Ayumi dan Alvin terkejut saat Aiken mengenali gadis yang bahkan mereka berdua saja tidak mengenalnya.


"Aku tinggal di hotel, sih. Tapi sekarang aku tinggal di apartemen sama sepertimu," sahut Alice tersenyum manis pada Aiken.


"Hah... apa kau datang ke sini hanya ingin membicarakan hal itu padaku?"


"Tidak juga... aku ingin melihat wajahmu," jawab Alice.


"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan Alice ya? Apa dia baik-baik aja di dalam gua itu bersama dengan gerbang Hollow?" batin Aiken.


"Alice... nanti sepulang sekolah kita akan mencari makhluk gaib itu. Kau akan membantuku kan?"


"Benar! Aku pasti akan membantumu!"


"Bagus! Semakin banyak yang membantu akan semakin baik untuk bisa segera menyelesaikan masalah ini," ucap Aiken.


"Eh... tapi. Apa maksud dengan yang kau katakan tentang iblis jahat? Apa jangan-jangan mereka juga akan muncul?"


"Aku tidak tahu. Tapi mungkin saja mereka akan datang, dan aku tidak tahu tujuan mereka datang ke bumi," jawab Alice.


Tiba-tiba saja Aiken berada di sebuah tempat dengan semuanya berwarna putih kosong. Aiken tidak mengerti, bagaimana dia bisa sampai berada di tempat itu. Terakhir kali Aken saat itu berada di dalam kelasnya, tapi entah kenapa tiba-tiba saja dia sudah berada di ruangan aneh.


Dan tiba-tiba saja seorang gadis keluar dari ruangan yang samar-samar. Dan ternyata gadis itu adalah Alice. Alice tersenyum pada Aiken sembari berjalan mendekatinya.


"Alice? Ini, dimana?"


"Dunia mimpi. Aku menemuimu, kau tahu kan kalau aku tak bisa meninggalkan gerbang Hollow?"


"Ada apa?"


"Makhluk gaib yang akan kau hadapi dari saat sekarang bukanlah makhluk gaib biasa kelas bawah. Kau harus berhati-hati saat menghadapi mereka nantinya."


"Walau kau melihatku sebagai pria yang pemalas dan tidak suka banyak bekerja, tapi aku tidak selemah apa yang kau pikirkan. Jika aku mau, jika aku ingin aku bisa saja menghabisi mereka tanpa ampun," ucap Aiken dengan tatapan dinginnya.


"Ya, aku tahu itu. Bagaimana jika nanti tugasmu akan selesai? Apa aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi?" pikir Alice.


"Ada apa? Apa kau akan kembali ke duniamu lagi saat masalah ini selesai?"


Alice hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Aiken. Lalu Alice memegang kedua tangan Aiken, lalu tiba-tiba saja cahaya putih muncul dan membuat penglihatan Aiken silau dan membuatnya memejamkan matanya. Saat Aiken kembali membuka matanya, dia kembali pada dirinya yang dia ternyata tertidur di kelas.