Greatest Assassin

Greatest Assassin
Bab 32



Ketika saat itu semua murid tengah berbincang-bincang santai bersama, saat Lucia datang masuk dalam kelas, sontak semua murid yang sebelumnya tengah berbincang-bincang bersama menjadi senyap dan hanya diam saja sambil memandang Lucia dengan pandangan aneh. Mereka seperti mempunyai rasa benci dan marah pada Lucia. Dan Ayumi juga Alvin yang melihat itu, mereka hanya diam saja karena mereka sudah tahu apa yang saat ini berada dalam pikiran mereka. Tapi berbeda dengan Aiken yang tampak bingung ketika ia melihat semuanya yang tampak diam senyap saat Lucia datang.


"Kamu kenapa Aiken?" Erica datang, menyadarkan pandangan Aiken yang hampir saja akan melamun.


"Erica? Apa itu kau?" tanya Aiken.


"Ya, Aiken aku merindukanmu!" sontak Erica langsung memeluk Aiken dengan begitu erat.


"Aku jadi ingat sama makanan yang selalu ia bawa. Berkatnya aku jadi nggak perlu ngeluarin uang untuk beli makanan kan," batin Aiken.


"Kenapa sampai segitunya, Erica. Aku tidak masuk sekolah hanya beberapa hari saja kan," sahut Aiken, ia mencoba untuk lepas dari pelukan Erica.


"Ngomong-ngomong, kamu tadi kenapa?"


"Ah, tidak. Aku hanya bingung aja lihat mereka yang aneh saat gadis aneh itu datang," sahut Aiken.


"Gadis aneh?" Erica memiringkan kepalanya.


"Hah, dia benar-benar hanya berguna saat ia membawakanku makanan saja," batin Aiken.


Saat jam istirahat, ketika Aiken sedang berjalan santai melewati belakang sekolah, Lucia berdiri menyender tembok di sana. Ia seperti menunggu seseorang di sana, dan saat Aiken melewatinya, sontak Lucia langsung berdiri tegak di depan Aiken.


"Kenapa?" tanya Aiken dengan wajah tenangnya.


"Apa kau ingin uang?" tanya Lucia pada Aiken. Pertanyaan Lucia sontak membuat Aiken mengerutkan dahinya.


"Kau sedang bercanda?" tanya Aiken pada Lucia.


Lucia tak menjawab, lalu ia mengeluarkan amplop kecil, dan ia memberikannya pada Aiken. Dalam amplop itu sebuah cek uang dengan jumlah yang terbilang cukup besar membuat pandangan Aiken menjadi bersinar terang, seakan-akan ia telah melihat kehidupan surga yang berkilau sangat terang.


"Tentu aku mau! Apa kau sungguh-sungguh memberiku uang ini? Ini jumlahnya tidak main-main lho!"


"Ya. Tapi, itu tidaklah gratis."


"Kau ingin aku melakukan apa?" tanya Aiken.


"Jadilah pacarku. Kau akan aku kenalkan pada ayahku, bagaimana?"


"Ini kesempatan emas untukku sih. Okelah, tapi apa kau tidak punya pacar sampai kau ingin aku menjadi pacarmu? Apa ayahmu mengancammu?"


"Dia tak mengancamku! Ayah hanya memberiku waktu sampai dia akan membuat keputusan untuk memindahkanku ke sekolah lain. Dan aku tidak mau pindah lagi."


"Hah! Apa ayahmu memberikanmu syarat untuk dapat pacar?"


"Bukan itu. Ayah ingin menjodohkan ku dengan salah satu guru yang mengajar di sekolah yang nantinya akan aku datangi. Jika di sini aku mendapat pacar, maka ayah pasti tidak akan menjodohkanku dengan orang yang bahkan umurnya saja sudah tua."


"Baiklah, aku tidak terlalu peduli dengan masalah pribadimu," Aiken mengelus-elus cek uang itu. "Yang penting aku akan terus dapet uang!"


"Jangan khawatir. Jika soal uang, aku akan memberikanmu cek uang dengan jumlah yang sama seminggu sekali," sahut Lucia.


"Wah ... seminggu sekali katamu! Ini aja cukup untukku makan selama satu bulan atau bahkan lebih lho. Tapi, itu akan lebih baik lagi."


"Ngomong-ngomong, kapan kau akan memperkenalkanku pada ayahmu? Memangnya dia nggak akan benci aku nanti?"


"Malam nanti. Kalau soal benci, kelihatannya nggak akan sih. Tapi, aku juga tidak tahu jika nanti ayah tidak akan menyukaimu."


"Nanti malam aku kan harus menjalankan tugasku sebagai Assassin. Hah, dia benar-benar merepotkan," batin Aiken.


"Apa harus malam ya. Apa nggak bisa sore aja?"


"Kita kan bisa ke sana payah!"


"Aku tidak tahu. Aku takut jika nanti ayah akan marah."


"Dia kan ayahmu. Masa hanya karena kau datang ayahmu akan marah padamu."


"Kau benar juga. Kalau begitu nanti sore lah, kita bertemu di taman dekat perusahaan ayah ya."


"Ya. Ngomong-ngomong, ternyata begini ya rasanya ngobrol sama orang yang selalu dingin dengan semua orang," ucap Aiken, ia tersenyum misterius pada Lucia.


"Kau menyindirku? Aku bukannya dingin, tapi mereka aja yang nggak mau bicara denganku," sahut Lucia.


"Makanya, cobalah untuk merubah ekspresi wajah."


"Ekspresi wajah?" Lucia mngerutkan dahinya.


"Raut wajahmu itu lho. Selalu aja terlihat dingin, pantes aja nggak ada yang mau bicara denganmu."


"Wajahku memang sudah begini kok! Lagipula, aku lebih suka menjadi diriku sendiri. Aku tidak mau merubah diri hanya supaya aku mendapat teman," ucapan Lucia sontak membuat Aiken terkejut.


"Aku suka kau," ucap Aiken, sontak langsung membuat wajah Lucia memerah.


"Heh?!"


Aiken memukul pelan kening Lucia. "Kau jangan salah paham dulu. Aku suka kau, suka dengan gaya bicaramu," ucapnya dengan wajah tenang, lalu ia pun pergi meninggalkan Lucia.


Lucia masih berada di sana, ia memegangi keningnya, wajahnya masih memerah.


"Target keduaku malam ini adalah ilmuwan kedua bernama Gravil. Kalau tidak salah, ilmuwan yang membuat ekperimen untuk membuat tumbuhan hidup. Hah, udah macam-macam aja tuh para ilmuwan," gumam Aiken.


Sorenya, tepat pukul tiga sore Lucia sudah menunggu Aiken cukup lama di taman. Bahkan sebenarnya Lucia menunggu Aiken dari saat pukul dua tadi, dan sekarang sudah pukul tiga sore. Dan Aiken yang baru datang, ia terlihat begitu santai tanpa adanya beban ataupun rasa bersalah pada Lucia.


"Di mana perusahaan ayahmu?" tanya Aiken.


Lucia terlihat marah pada Aiken. "Kau tanya itu? Apa kau tidak sadar jika aku sudah menunggumu lama?!"


"Aku tidak peduli dengan hal itu," sahut Aiken dengan tatapan dingin, membuat Lucia semakin marah, tapi ia berusaha untuk menahan emosinya.


Lucia menghela nafas pelan, lalu ia memegang lengan Aiken. "Oke, kita harus terlihat romantis. Jangan buat ayah curiga."


Ayah Lucia bernama Adras, ia adalah seorang CEO tersohor di Tokyo. Bukan hanya di Tokyo, tapi ia sudah mulai terkenal di semua kota, membuatnya banyak disegani dan dihormati. Ketika Adras melihat Lucia datang membawa seorang laki-laki dengan mesra, Adras mengerutkan dahinya.


"Lucia, siapa dia?" tanya Adras.


"Ayah, dia Aiken pacarku," jawab Lucia, ia tersenyum ramah pada ayahnya itu.


Aiken membungkuk hormat pada Adras, tapi Adras diam saja tanpa menanggapi perbuatan sopan Aiken.


"Pacar kamu bilang? Siapa yang menyuruhmu untuk berpacaran, dan dengan pria kampungan seperti dia?!" ayah Lucia tampak marah besar, dan ucapannya benar-benar pedas, membuat Aiken naik darah.


"Ayah, jangan mengatakan hal itu! Aiken adalah pacar Lucia!"


"Lebih baik sekarang kamu tinggalkan dia! Dia tidak selevel dengan pangkat keluarga kita."


Aiken tertunduk, ia tersenyum setengah. Lalu ia mendekati Adras, dan sontak ia mendobrak meja itu.


"Anda benar. Aku memang tidak selevel dengan kalian. Tapi, apa anda yakin jika pangkat level itu hanya dilihat dari kekayaan saja? Aku rasa itu salah," ucap Aiken, ucapan Aiken membuat Adras sedikit terkejut.