
Kedatangan Aiken yang masih pagi membuat Bu Hana mengerutkan kening, tapi senyuman tipis terbit di bibirnya. Sambil membawa beberapa buku, ia menghampiri Aiken, menepuk pelan pundaknya, membuat Aiken tersentak dan menoleh.
"Bu Hana? Selamat pagi!"
"Aiken, kamu berangkat pagi hari ini? Ini bukan Aiken yang Ibu kenal. Tapi, Ibu senang kamu bisa sedikit berubah."
"Ah, terimakasih Bu. Saya akan usah—"
"Tapi kamu akan tetap Ibu hukum!"
Yang tadinya cukup lega dengan perlakuan baik Bu Hana. Kini Aiken harus kembali merasakan pahitnya hukuman dari Bu Hana, membersihkan kamar mandi kelasnya.
Aiken mengepel lantai dengan umpatan yang tak berhenti keluar dari mulutnya. Sampai semua kamar mandi akhirnya bersih semua, tak sedikitpun debu terlewat di sana.
Aiken menghela napas panjang sambil merebahkan tubuhnya di lantai granit dekat kamar mandi. Napasnya masih memburu dengan keringat membasahi wajahnya.
"Sial. Kupikir dengan berangkat pagi. Aku akan terhindar dari hukuman."
Aiken masuk ke kelas dengan lesu sambil menenteng tas di belakang punggung. Alvin dan Ayumi beranjak, menghampirinya dengan wajah berseri.
"Akhirnya kau sekolah lagi Aiken! Ke mana aja kau? Ini kita udah mau kenaikan kelas, kenapa kau malah sering bolos?" Banyak pertanyaan muncul dari Alvin. Membuat Aiken jengah.
"Diam dulu bisa kan? Ini aku lelah, janagan ganggu dulu."
Alvin dan Ayumi saling beradu pandang sambil mengangkat bahu bersamaan. Bahkan kenaikan kelas yang akan diadakan Minggu ini dilupakan oleh Aiken. Ditambah mimpi buruk dan aneh yang terus saja datang kepadanya, membuat Aiken cukup tertekan.
Saat pulang sekolah, Aiken berdiri dengan lesu di teras depan gedung sekolah. Tatapannya tampak kosong dengan hembusan napas kasar yang sesekali muncul.
Saat tepukan cukup keras mendarat di punggungnya, Aiken tersentak dan nyaris mengeluarkan umpatannya.
"Ah, kupikir siapa. Kenapa kau mengagetkanku?"
"Kau kenapa? Apa ada masalah?" tanya Ayumi.
"Tidak. Akhir-akhir ini, aku sering bermimpi buruk. Aneh sekali, kenapa harus aku yang kena?"
Ponsel Aiken berdering. Aiken tersentak dan meraih ponselnya. Pesan dari Alex. Usai membacanya, muncul wajah berseri yang sebelumnya nampak lesu. Aiken berlari pergi meninggalkan Ayumi yang tampak kebingungan.
"Aiken, kau mau ke mana? Ada apa?" tanya Ayumi setengah berteriak. Aiken tak menjawab, pria itu benar-benar tampak senang.
Ayumi tak bisa jika mengabaikan tingkah Aiken itu. Dia juga berlari menyusul Aiken. Hingga sampai di rumah sakit, yang membuat Ayumi bingung.
"Dia ke rumah sakit, tapi terlihat bahagia. Ada apa?" pikirnya.
Alex dan Alesya berdiri di lorong rumah sakit. Mereka terkejut, tapi dengan wajah berseri saat Aiken datang, dan tanpa menyapa Alex dan Alesya, dia langsung masuk ke dalam ruangan.
Sosok Elena duduk di atas ranjang sambil memandang luar jendela. Angin datang berhembus, menerpa lembut rambutnya yang cantik dan indah.
Aiken tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Tak menyangka hari yang ditunggunya tiba, hari dimana ia akan kembali memeluk Elena.
"Elena ...." Aiken memanggil nama itu lirih dan lembut.
Elena tersenyum mendengar suara tak asing itu. Dia menoleh dengan senyum tipis di bibirnya. Aiken menghampiri ranjang Elena, memeluk tubuh kecil gadis itu dengan erat. Air mata yang berkumpul di sudut netra sudah tak bisa dtahan lagi.
Mereka saling berpelukan dengan tangis bahagia. Elena mengangkat tangannya, mengelus lembut puncak kepala Aiken.
"Aku di sini, Aiken. Maaf, aku tidak tahu. Aku tidak tahu jika Aiken adalah Takamura yang kucintai," gumam Elena, namun suaranya masih terdengar di telinga Aiken.
Aiken mengangguk senang. Ia melepas pelukannya dengan perlahan. Dia menyentuh tangan Elena, mencium kedua punggung tangannya dengan lembut.
"Selamat datang, Elena."
"Ya! Aku kembali, Aiken!" Elena tersenyum dengan bulir-bulir air bening menetes dari sudut netra.
"Tidak kusangka. Aiken benar-benar jatuh cinta," kata Alex sambil geleng-geleng kepala.
"Tentu saja. Setiap manusia pasti akan merasakan cinta." Alesya menyeka sedikit air matanya yang menetes.
"Aku cukup terharu dengan pertemuan mereka. Aku sampai tidak menyangka. Saat masih kecil, Aiken akan bisa bersikap romantis." Alex tertawa kecil. Ia diam-diam melirik Alesya yang masih sibuk menyeka air matanya.
Alex tersenyum tipis pada Alesya, yang langsung membuat gadis itu membuang muka. Rona merah muncul di pipi putih mulusnya. Alex memperhatikan itu, ia tertawa kecil.
"Jangan malu begitu. Seharusnya kita sudah bisa bersama jika kau tidak bersikap Tsundere seperti ini," kata Alex.
"Kenapa kau jadi membicarakan hal ini?"
Elena menyentuh pipi Aiken dengan tangannya yang masih terasa dingin. Aiken mengelus lembut tangan itu, menciumnya perlahan.
"Bagaimana? Apa selama aku tidak ada. Kau banyak bermain dengan wanita?" tanya Elena dengan senyum jahil.
"Apa ini. Kenapa pertanyaanmu seperti itu? Bagaimana bisa aku mengalihkan pandanganku darimu. Kita sudah berjanji 'kan." Aiken mendekatkan wajahnya dengan senyum jahil.
Alex dan Alesya melangkah mundur, mereka memilih untuk tidak melihat apa yang akan mereka lakukan.
"Jangan ganggu mereka. Ayo, aku akan mengajakmu ke suatu tempat." Alex meraih tangan Alesya, membawanya pergi.
Elena cukup terkejut saat Aiken secara tiba-tiba mencium bibir mulusnya dengan lembut, namun perlahan cukup agresif. Elena berusaha untuk lepas dari ciuman itu.
Tapi Aiken merengkuh pinggang Elena, mendekatkan tubuhnya. Elena tak bisa lagi menghindar. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Aiken. Membalas ciumannya dengan hangat.
"I Love You, Elena."
"Yeah, i love you to."
Air mata mulai menetes deras. Degup jantungnya berdetak tak beraturan, cukup terasa sesak. Tubuhnya bergetar, ambruk ke lantai dengan isakan tangis yang tak bersuara. Ayumi memegang dada dengan menangis tanpa suara, terasa begitu menyakitkan.
"Kenapa hatiku sangat sakit? Aku tidak bisa menahannya. Semua ini terasa begitu menyakitkan. Aiken, aku mencintaimu. Tapi, aku tidak pernah menyangka akan melihat pemandangan menyakitkan seperti ini darimu," gumam Ayumi ditengah isakan tangisnya.
Tiga hari telah berlalu. Akhirnya, Elena akan dapat keluar dari rumah sakit. Dan akhir-akhir ini, Aiken tak mendapat mimpi buruk itu. Mungkinkah karena rasa bahagianya untuk Elena? Rasa cintanya terhadap Elena cukup besar, hingga mimpi buruk itu tak datang lagi.
Aiken tak membawa Elena ke apartemen milik Elena, namun membawanya ke apartemen Aiken.
"Kenapa kita ke sini? Apartemenku di lantai atas," kata Elena.
Aiken mendorong kursi roda masuk ke kamar. Ia menggendong Elena, merebahkan tubuhnya ke atas ranjang.
"Kamu harus istirahat. Jangan banyak bergerak," kata Aiken.
"Beruntung saat itu aku koma. Beruntung saat itu ada monster yang melukaiku," kata Elena tiba-tiba.
"Kenapa bisa begitu? Apa kamu suka meninggalkan aku sendirian?" Aiken mengelus lembut pipi Elena.
"Apa kau lupa dengan perbuatanmu malam itu? Mungkin saja aku akan hamil," gumam Elena, yang masih terdengar di telinga Aiken.
"Mudah saja. Kita bisa menikah," kata Aiken sekenanya.
"Mudah sekali kau bicara seperti itu."
Aiken mendekatkan wajahnya.
"Kenapa? Kamu mau bermain denganku lagi? Aku akan sangat senang jika kamu menerimanya."
^^^<< Bersambung ....^^^