
Paginya, Aiken membuat janji untuk bertemu dengan Alex di kafe langganannya. Dan Alex mau bertemu dengan Aiken. Saat sekitar pukul 09.00, mereka bertemu di kafe itu.
Aiken berpikir jika Alex akan bisa melacak nomor pria yang berada dalam foto kemarin, karena Alex sangat pintar dalam hal komputer dan jaringan teknologi yang sangat canggih. Walau tentu dia tak akan memberitahu pada Alex tentang siapa orang yang ingin Aiken cari tahu lokasinya.
"Kenapa kau sangat ingin melacak lokasi nomor ini?" tanya Alex setelah Aiken menunjukkan nomor ponsel itu pada Alex.
"Yah... aku hanya ingin bertemu dengan orang yang memiliki nomor itu," jawab Aiken.
"Memangnya siapa dia?"
"Aku tidak bisa memberitahumu. Tapi yang pasti dia orang yang sudah berjasa untukku," Aiken memegangi dadanya. "Dia sudah menolongku. Jika bukan karena dia, mungkin sekarang ini aku tidak akan pernah ada," ucapnya.
"Kenapa. Ada apa? Apa terjadi sesuatu denganmu sebelumnya?" tanya Alex yang sepertinya sangat penasaran dengan permasalahan Aiken saat ini.
"Apa kau percaya jika jantungku sudah tidak berdetak lagi sekarang?" tanya Aiken pada Alex, pertanyaan Aiken sontak membuat Alex terkejut.
"Apa maksudmu?"
"Bukan apa-apa. Lupakan saja, apa kau bisa melacak nomor itu?"
"Aku bisa. Tapi... ini akan membutuhkan waktu," jawab Alex.
"Seberapa lama?"
"Malam nanti kau bisa menemuiku."
"Baiklah. Kalau begitu aku pergi, Terimakasih sudah mau membantuku," Aiken pun pergi meninggalkan kafe setelah dia membayar apa yang Alex sudah pesan.
Sementara itu, saat ini Alice berada di area jalan Kahabara itu lagi. Dan kali ini Alice terlihat lebih waspada lagi sambil dia memerhatikan disekelilingnya. Alice masih merasa penasaran dengan aura iblis yang bisa dia rasakan tapi tak bisa dia lihat. Dia tahu betul jika dia pasti akan mudah merasakan dan menemukan iblis manapun yang berada dekat dengannya, tapi kali ini adalah kali pertama baginya tak bisa menemukan iblis yang dia rasakan itu.
"Ada apa sebenarnya. Kenapa aku tak bisa menemukannya! Ini benar-benar aneh," ucap Alice sambil memegangi kepalanya yang sudah terasa pusing karena memikirkan tentang satu masalah saja.
"Sudahlah, sebaiknya kau menyerah saja," seseorang tiba-tiba saja berbicara pada Alice di belakangnya.
Alice langsung menoleh ke arah suara itu berasal. "Kau?" Alice langsung memasang kuda-kuda untuk waspada jika orang yang berada didepannya, tidak lain adalah pemuda bertopeng itu akan menyerangnya.
"Santai saja. Aku datang ke sini bukan untuk cari gara-gara ya."
"Kau datang ke sini lagi. Apa sebenarnya tujuanmu datang ke sini?"
"Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu?"
"Sepertinya dia tak akan bicara. Aku hanya akan membuang-buang waktuku saja," batin Alice.
Alice langsung pergi meninggalkan pemuda itu. Pemuda itu masih berdiri di sana, memandangi area dekat pelabuhan itu.
Malam itu, Aiken pergi ke markas agen Reco untuk menemui Alex. Di sana Alyssa juga berada di sana, dan dia melihat Aiken.
"Tumben sekali kau ke sini. Ada apa?" tanya Alyssa.
"Hah... diamlah. Aku ada urusan dengan Alex," Aiken berjalan pergi menuju ruangan Alex. Di sana Alex masih tampak sibuk dengan komputer yang berada di depannya.
"Alex, kau sudah menemukan lokasinya?" tanya Aiken.
"Sudah. Lokasi nomor ponsel itu berada di sebuah hotel bintang lima yang lokasinya sendiri berada dekat dengan distrik Nomoya," jawab Alex.
"Terimakasih. Kau sudah membantuku, aku tidak perlu membayarmu kan?"
"Haha... kau tak perlu."
"Ini sudah malam. Sebaiknya aku menemuinya besok saja," batin Aiken.
"Ngomong-ngomong, apa yang sekarang ini kau lakukan?" Aiken mendekati tempat duduk Alex, Xia melihat lokasi Kahabara itu di komputer Alex.
"Apa kau masih ingin menyelidiki aura supranatural itu?" tanya Aiken.
"Ya. Ini masalah yang serius. Kami agen Reco juga harus bersiap untuk kemungkinan besar akan datangnya iblis," sahut Alex.
"Yah... kau memang benar. Tapi sepertinya agen Reco tak akan mampu melawan iblis itu," ucap Aiken.
"Tidak. Aku belum tahu. Aku hanya merasa jika iblis itu akan sangat hebat," jawab Aiken.
"Aku tidak akan heran jika kau mengatakan hal itu. Karena... aura supranatural itu memang terasa sangat kuat."
"Ini sudah pasti akan terjadi. Sebenarnya di mana iblis kelas SR itu? Jika saja aku tahu di mana dia bersembunyi, di mana dia tertidur. Aku pasti akan lebih dulu datang menemuinya dan mengentikan bencana yang akan terjadi," batin Aiken.
"Baiklah. Alex aku akan pergi. Sekali lagi terimakasih untuk bantuannya. Jangan lupa untuk istirahat, jangan sampai ketampananmu hilang hanya karena mata panda yang nantinya akan keluar," ucap Aiken sambil dia berjalan pergi meninggalkan ruangan Alex.
"Ya, aku tahu."
Aiken juga berpikir bagaimana jika iblis itu datang. Dia tahu jika iblis itu akan sangat kuat, dan bahkan mungkin saja roh iblis seperti Alice tak akan bisa mengalahkannya.
Setibanya di apartemen, Aiken melihat Alice yang berdiri di depan pintu apartemen Aiken.
"Kenapa kau di sini?" tanya Aiken.
"Aku menunggumu."
"Ada apa? Apa ada sesuatu?"
"Kau belum makan malam?" tanya Alice.
"Belum. Tapi sepertinya aku akan makan besok pagi saja, aku sudah lelah saat ini untuk memasak."
"Aku akan memasak untukmu."
"Heh... "
Akhirnya Alice masuk ke dalam apartemen Aiken, dia memasak untuk makan malam mereka berdua. Seperti biasa, Alice akan masak makanan cukup banyak, dan semuanya adalah makanan kesukaan Aiken.
"Lagi-lagi kau masak banyak."
"Tidak apa. Lagipula kita tidak akan tahu sampai kapan aku akan bisa memasak untukmu lagi," sahut Alice sambil dia menyiapkan makanan untuk Aiken.
"Memangnya kenapa? Apa kau akan pergi?" tanya Aiken.
"Siapa yang tahu. Mungkin saja aku akan pergi," jawab Alice sambil dia menyantap makanannya.
Disela-sela mereka makan, mereka juga berbincang-bincang bersama.
"Alice, apa jika iblis kelas SR itu akan muncul. Apa kau mampu melawannya?"
"Aku pasti bisa," Alice tersenyum pada Aiken, dia menyentuh pipi Aiken. "Karena aku tak akan pernah kalah dengan siapapun selama kau berada disisiku."
"Tapi... sebenarnya Alice itu iblis dalam tingkat apa? Apa tingkatannya lebih tinggi dari iblis kelas SR, atau justru malah sebaliknya?" pikir Aiken.
"Terimakasih, Alice."
"Berterimakasih untuk apa?"
"Karena... selama ini kau sudah baik padaku. Kau memang teman yang baik," ucap Aiken.
"Teman?"
"Ya. Ada apa?"
"Tidak. Aku tidak apa-apa kok," jawab Alice.
"Aiken, emm... apa aku bisa meminta sesuatu darimu?" Alice berkata sambil wajahnya sedikit tertunduk.
"Meminta apa?" tanya Aiken.
"Seperti yang kukatakan. Mungkin aku akan pergi, dan sebelum aku pergi. Bisakah malam ini aku tidur bersamamu?"
"Pergi? Apa dia benar akan pergi. Sebenarnya kenapa aku seperti sudah melupakan banyak hal. Sebenarnya ada apa dengan dunia ini? Kenapa aku harus terlibat dengan semua masalah ini?" pikir Aiken.
"Memangnya kau akan pergi ke mana?"