
"Hei, mungkin saja mimpi yang kau alami itu ada hubungannya dengan semua yang sudah terjadi," kata Alesya. Dia menarik kursi mendekati kedua pemuda di sampingnya.
"Tapi aku ogah kalau harus mencari tahu semua ini! Kalian saja yang cari tahu. Aku tidak ada hubungannya dengan semua ini, oke?" Aiken menekankan ucapan terakhirnya. Dia melipat kedua tangan di depan dada.
Alex terdiam sambil mengelus dagu. Dia memutar kursinya, berhadapan dengan layar komputer di depannya. Jari-jarinya cukup cepat menekan setiap angka dan huruf pada keyboard komputer. Aiken dan Alesya hanya diam memperhatikan apa yang akan Alex lakukan.
"Ini dia!" Alex menggeser kursinya ke samping, membuka layar komputer yang sebelumnya tertutup oleh punggung besar itu.
"Ini artikel tentang kematian orang-orang di malam hari kan? Hmm, memang ngeri sih." Alesya mengangukk pelan. Dia kemudian menoleh pada Aiken.
Pemuda itu tampak bergeming, tak memperlihatkan reaksi apapun. "Bagaimana? Apa kau akan membiarkan banyak korban berjatuhan lagi?" tanya Alex sambil mengangkat kedua alis.
"Hei Aiken." Alex meraih sebuah koper berukuran sedang di bawah meja. Dia menaik turunkan kedua alisnya. "Ada bayaran lho. Apa kau akan tetap menolak?"
Aiken menghela napas panjang. Banyaknya uang dalam koper itu benar-benar membuatnya bimbang. Antara harus melakukan apa yang agen Reco minta, ataukah dia menolaknya?
"Baik, baik. Aku akan melakukannya. Tapi, aku tidak bisa menjamin akan menemukan sesuatu nantinya," kata Aiken sambil memijat pelipisnya.
"Kami percaya padamu kawan!" Alex dan Alesya berucap serempak. Aiken hanya diam dengan wajah masam.
Aiken beranjak berdiri, kursi beroda itu bergerak memutar saat Aiken tak lagi mendudukinya. Dia melambai pelan sambil melangkah pergi dari markas gedung agen Reco.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aiken terkejut saat mendapati dirinya berdiri di bawah lampu jalan temaram yang tampak sepi dan lengang. Beberapa kali dia mengedarkan pandangan pada sekeliling. Hanya kegelapan malam, dan lampu jalan temaram yang menghiasi jalanan aspal itu.
"Ini, tempat kemarin? Astaga ... kenapa bisa aku berada di sini?" pikir Aiken. Dia masih tetap berdiri di bawah lampu jalan temaram itu.
Aiken berbalik dengan cepat. Suara derap langkah kaki seseorang dari balik kegelapan membuatnya terkesiap. Sontak Aiken berdiri dengan waspada sambil terus mengedarkan pandangan ke sekeliling.
"Oi! Siapa itu! Jangan main-main denganku!" seru Aiken. Dia mulai memasang kuda-kuda dengan kedua tangan terkepal, seolah bersiap untuk mendaratkan pukulan dari tangan berotot itu.
Derap langkah kaki mulai tak bersuara lagi. Aiken mengerutkan kening, kaki yang memasang kuda-kuda itu ia urungkan. Dia mulai berdiri normal kembali.
"Suara itu, hilang?" gumam Aiken. Kedua bola mata biru kristal itu tak berhenti bergerak kanan kiri, walau kakinya sudah tak memasang kuda-kuda lagi. Kedua tangannya pun sudah tak terkepal.
Dia tersentak saat tepukan lembut mendarat di belakang punggung kirinya. Dia perlahan menoleh. Sosok wanita yang tampak tidak asing berdiri di belakang, menatapnya dengan mata kosong.
"K-au! Tunggu! Kau, masih hidup?" Aiken kembali tersentak. Gadis berambut ungu itu bergeming dengan tatapan kosong.
"Sudah kubilang. Tolong aku. Tapi, kenapa kau diam saja? Tolong aku!" suara gadis itu lembut, namun terkesan mengintimidasi.
"Tolong kau? Apa sebenarnya yang kau inginkan dariku? kenapa kau datang lagi? Bukankah kau sudah ...." Aiken tak melanjutkan ucapannya. Mulut itu terasa berat untuk kembali bicara.
"Apa jangan-jangan, kau hantu! Tapi, kenapa kau datang menggangguku? Apa salahku?"
"Kau tidak salah. Tapi, aku hanya ingin kau menolongku. Aku sudah mendapat bukti jika kau akan bisa menolongku." Tangan gadis itu terangkat, jari telunjuknya menunjuk tepat pada leher Aiken.
Aiken menundukkan wajah, mencari apa yang gadis di depannya tunjukkan. Terdapat sebuah kalung dengan liontin kristal berwarna hijau yang melingkar di lehernya. Kristal itu ia temukan dalam gua sudah lama sekali. Dan dia tidak tahu kenapa ingin sekali membawa kalung itu bersamanya.
"Apa? Ini hanya kalung biasa yang kutemukan," kata Aiken santai sambil sedikit membuka kerah bajunya, menunjukkan kalung itu.
"Itu adalah kristal kebijaksaan. Berasal dari roh Dewi kebijaksanaan. Dan kamu membawa kalung itu. Artinya takdir membawamu untuk menolongku."
"Roh Dewi kebijaksanaan? Nama apaan itu? Aku baru mendengarnya. Mungkin kau sudah salah orang. Lagipula, apa di matamu aku terlihat bijaksana?" Aiken mengangkat kedua alis. Dia melipat kedua tangan di dada.
Gadis itu bergeming, tak mengatakan apa-apa. Dia masih dengan tatapan datar, bibirnya terkatup rapat. Perlahan dia melangkah mundur, menjauhi Aiken yang tampak mengerutkan kening.
"Hei, kau mau ke mana? Jawab dulu pertanyaanku dasar payah!" kata Aiken setengah berteriak. Gadis itu masih terdiam, langkah kakinya semakin menjauh dari Aiken.
Aiken melangkah maju, mencoba menyusul gadis berambut ungu yang kian menjauhinya. Namun, kabut tebal yang tiba-tiba saja muncul membuatnya mengibas-ibaskan kedua tangan sambil menutup mata.
"Hei, apa-apaan ini! Aku tidak bisa melihat!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dan saat Aiken kembali membuka mata, dia terkejut mendapati dirinya sudah berada di dalam kamar, terbaring di atas ranjang dengan kedua tangan menengadah di depan wajah.
"Apa lagi ini! Aku tadi hanya mimpi!" Aiken beranjak bangun. Dia mengusap kasar kedua matanya.
Dia beranjak dari atas ranjang. Berjalan mendekati pintu kaca, membukanya, lantas mendekati balkon. Dia merentangkan kedua tangan, meregangkan otot-otot tangan berotot itu.
"Huh ... mimpi apa ini! Aku benar-benar tidak menyukainya. Gadis itu benar-benar aneh. Dia ingin membuatku gila pasti," gerutu Aiken.
"Hah!" Aiken memukul keningnya sedikit kasar. "Seharusnya aku sekolah hari ini! Sudah berapa hari saja aku tidak sekolah? Sial, Bu Hana pasti akan marah!"
Dia kemudian menyambar handuk yang terpampang di gagang pintu lemari. Dengan cepat dia berlarian ke kamar mandi, membersihkan diri dengan cepat. Hingga saat tiba di sekolah, dia tidak terlambat, dan membuat Pak Satpam tersenyum tipis.
"Tumben kamu tidak terlambat pagi ini? Ngomong-ngomong, kamu ke mana saja Aiken. Bapak baru lihat kamu sekolah hari ini?" Pak satpam mengerutkan kening.
"Akhir-akhir ini saya ada banyak urusan Pak. Yah, begitulah. Makluml-lah Pak, saya ini tinggal sendirian," kata Aiken dengan wajah masam, seolah sedang meratapi nasib buruknya.
"Wah, pasti tidak nyaman menjalani kehidupan masa remajamu tanpa keluarga," kata Pak satpam. Raut wajahnya tampak sendu, seolah dapat merasakan apa yang kini Aiken rasakan.
"Terimakasih sudah peduli Pak. Tapi saya baik-baik saja kok. Saya bukanlah pria lemah!" Aiken mengepal erat satu tangan, lantas mengangkatnya ke atas.